Ternyata Ada 88 Spesies Rumput Laut Potensial di Nusa Tenggara Barat

Ternyata Ada 88 Spesies Rumput Laut Potensial di Nusa Tenggara Barat
info gambar utama

Provinsi Nusa Tenggara Barat ternyata menyimpan kekayaan alam rumput laut (alga). Para peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram telah berhasi menemukan 88 spesies rumput laut di perairan Nusa Tenggara Barat.

Keanekaragaman rumput laut yang cukup banyak ini telah juga diteliti oleh seorang Guru Besar Universitas Mataram, Professor Sunarpi.

Professor Sunarpi telah melakukan sebuah penelitian ini selama 14 tahun dan penelitian ini diharapkan akan menghasilkan sebuah teknologi untuk meningkatkan produksi rumput laut.

Dalam 8th Asian Pasific Phycological Forum Algae: New Perspectives Towards a Progressive and Sustainable Living di Kuala Lumpur, Malaysia, Profesor Sunarpi pernah mempresentasikan hasil penelitiannya sejak 2005, tentang potensi pengembangan rumput laut (alga) yang terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Forum yang merupakan pertemuan para ahli rumput laut se-Asia Pasifik ini dihadiri oleh 900 orang peserta.

Profesor Sunarpi juga berbicara tentang masalah potensi perairan laut NTB yang berada di antara dua kekuatan arus besar dan arus kecil lautan Hindia. Hal ini lah yang membuat perairan laut NTB sangat kaya akan keankaragaman biota laut serta biota endemik. Ada 88 spesies makroalgae, 32 di antaranya tergolong algae merah, 18 spesies tergolong algae coklat, dan 32 algae hijau.

Hingga sekarang, Profesor Sunarpi tetap melakukan penelitian tersebut dengan pendanaan yang berasal dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

Ada beberapa jenis rumput laut yang sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat pesisir, yaitu: eucheuma cottonii, lalu 'eucheuma spinosum', yang sama-sama menghasilkan karagenan atau senyawa yang dihasilkan dari rumput laut yang berguna sebagai bahan pengental maupun pembuatan gel. Ada juga jenis 'gracilaria spp' juga merupakan jenis rumput laut yang sudah dibudidayakan, dengan memanfaatkan tambak-tambak di pinggir pantai.

Sayangnya, meskipun potensi budi daya rumput laut di pesisir pantai NTB tidak diimbangi dengan pengoptimalan pemanfaatan lahan budidaya, bahkan hanya 25 persen dari lahan yang ada yang baru digunakan.


Sumber: beritagar.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini