Desa Jamur, Harapan Masyarakat Urut Sewu

Desa Jamur, Harapan Masyarakat Urut Sewu
info gambar utama

Desa Jamur, Harapan Masyarakat Urut Sewu

BOYOLALI (20/02/2018)– Tak hanya terkenal sebagai kota susu oleh masyarakat, kini Boyolali dengan ikon sapinya telah banyak dikenal masyarakat sebagai penghasil pertanian terbesar di Jawa Tengah. Terpusat di desa Urut Sewu Kecamatan Ampel Boyolali sebagai pelopor pertanian khususnya dalam pengelolaan jamur.

Sri Haryanto selaku pioneer pengusaha jamur mengaku sudah memulai usaha budidaya jamur sejak tahun 2005 dan tertarik untuk menjadikannya sebagai mata pencaharian selain menjadi perangkat desa di desa Urut Sewu.

Dukungan dan motivasi Sri Haryanto selaku kepala desa dan sebagai ketua harian Industri Kecil Menengah (IKM) di boyolali dalam budidaya jamur sejak tahun 2005 hingga saat ini mempelopori munculnya pengusaha-pengusaha jamur lainnya di desa urut sewu yang hingga saat ini kurang lebih terdapat 30 lebih pengusaha dalam satu desa terfokus menjadikan jamur sebagai penghasilan utama mereka.

Produksi jamur desa urut sewu yang cukup besar telah menjadi supplier jamur ke berbagai kota di Jawa Tengah. Tak hanya di Jawa Tengah, usaha jamur pun terhitung sudah melakukan pengiriman di berbagai pulau di Indonesia baik berupa jamur maupun media tanamnya. “Pemegang pasar jamur khususnya Jawa Tengah yakni desa urut sewu, sebagai supplier untuk berbagai kota. Paling jauh pengiriman ke Kalimantan dan Sumatera” ungkap Sri Haryanto.

Budidaya jamur desa urut sewu besar karena adanya kerjasama yang baik oleh masyarakat desa, bermula satu pembudidaya menjadi puluhan pengusaha sukses di dalamnya. “Banyak yang belajar dari desa urut sewu untuk budidaya jamur ini”,ungkap Sri Haryanto. Kerjasama desa ini tak hanya dalam usaha jamur saja, juga supplier untuk produksinya pun mengambil potensi masyarakat desa urut sewu.

Pada awal produksi, lelaki setengah baya ini hanya mampu menghasilkan 450 log perhari. Titik puncak usaha ini Haryanto mampu mengolah 4500 log per hari. Kesibukannya sebagai pelayan masyarakat membuatnya menurunkan kapasitas hingga hanya 1000 log per hari. Haryanto tak lagi sendiri mengurus jamurnya, dia telah dibantu beberapa orang karyawannya yang mengelola kandang jamurnya pukul delapan hingga empat sore. Jamur tiram dapat dipanen ketika mencapai usia tiga puluh lima hari.

Tak hanya budidaya jamur tiram saja, limbah sampah habis pakai digunakan sebagai pertanian integrasi. Dicampur dengan kotoran sapi sehingga dapat dijadikan pupuk organic untuk pertanian. Hal ini diakui Sri tidak perlu bingung membuang limbah sampah habis produksi.

Selain sebagai tempat belajar, Sri Haryanto berharap desa Urut sewu dapat dijadikan desa wisata jamur nantinya. “Sudah koordinasi dengan dinas pariwisata, harapannya nanti desa Urut bisa jadi desa Jamur serta budidaya jamur dapat lebih meluas disini” Ungkap Sri Haryanto.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini