Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan penetrasi internet yang cukup tinggi diantara negara-negara berkembang dunia. Saat ini penetrasi teknologi internet di Indonesia telah mencapai 54% populasi atau telah menjangkau sekitar 143 juta penduduk. 

Tingginya penetrasi tersebut tampaknya masih belum diimbangi dengan pemanfaatan internet dengan lebih efektif. Salah satunya adalah dengan penggunaan internet untuk saling  berkolaborasi di masyarakat kota sehingga menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Itu sebabnya aplikasi bernama Matakota lahir yang berusaha mengajak masyarakat untuk saling berkolaborasi.

Matakota merupakan sebuah aplikasi berupa platform yang memberikan akses pada warga untuk saling berkomunikasi dengan dinas-dinas terkait di pemerintahan. Lewat aplikasi ini, warga akan dapat mendapat informasi dari kepolisian, pemadam kebakaran, ataupun pihak pemerintahan. 

Tidak hanya itu warga juga dapat memberi timbal balik ataupun memberi informasi pada dinas-dinas tersebut dan masyarakat lainnya tentang sebuah isu yang harus diselesaikan. Aplikasi ini sekilas mirip dengan aplikasi smart city lainnya yang telah ada seperti Qlue yang digunakan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun CEO Matakota, Erick Karya menyebut Matakota agak berbeda dengan aplikasi yang telah ada. 

Pada awal Februari yang lalu, GNFI berkesempatan untuk berbincang Erick Karya tentang aplikasi Matakota. Erick mengungkapkan bahwa aplikasi Matakota lahir karena ingin menciptakan lingkungan smart citizen yang lebih baik. Smart citizen yang dimaksud adalah warga akan bisa berkolaborasi dengan pemerintahan untuk merumuskan solusi di perkotaan. 

"Kami melihat, aplikasi-aplikasi yang sudah ada akhirnya menjadi aplikasi pengaduan, dan itu bukanlah bentuk smart citizen. Kalau pengaduna berarti seberapa besar pengaduan itu bisa dilayani. Sementara smart citizen adalah bagaimana caranya warga pun dibantu dengan pemerintahan untuk merumsukan solusi. Itu yang mungkin membedakan kami dengan aplikasi sejenis. Kami ingin membangun sebuah smart safe community," jelas Erick.

Erick bersama Matakota yang bermarkas di Natek Studio Co-working Space di Gayungsari, Surabaya itu menjelaskan bahwa ternyata banyak masyarakat yang mau untuk memberikan saran dan masukan kepada pemerintahan dan juga sesama warga. Lewat saran dan masukan tersebut warga dan pemerintahan akan bisa mendapatkan masukan terkait beberapa hal seperti kebakaran, ataupun kejadian yang membutuhkan tindakan segera. 

Erick Karya (tiga dari kiri) bersama tim Matakota di Surabaya (Foto: Bagus DR/GNFI)
Erick Karya (tiga dari kiri) bersama tim Matakota di Surabaya (Foto: Bagus DR/GNFI)

"Kami ingin menciptakan komunikasi yang lebih jelas. Menurut data pemadam kebakaran, diketahui bahwa ternyata pelaporan palsu masih di angka 60%. Maka dari itu kami ingin menyelesaikan masalah dengan memperjelas lokasi, yang kemudian menjadi navigasi bagi para otoritas," jelas Erick.

Sampai saat ini Matakota telah mampu mengakomodir enam informasi. Seperti laporan kebakaran, laporan kriminal, laporan terkait masalah sosial dan kesehatan, kemudian tentang perlindungan anak dan juga bencana alam. Dalam enam bidang tersebut, seluruh dinas akan memiliki kanal informasi yang sama. Sehingga asyarakat maupun dinas terkait dapat merespon informasi dengan baik. 

"Dinas-dinas itu kerjanya tidak lagi sektoral, ketika ada satu kecelakaan, RSUD dan kepolisian di dashboardnya mendapat informasi yang sama. Karena kadang pertolongan tidak sampai karena polisi datang cepat, tapi ambulance datang terlambat. Bukan karena sengaja terlambat, tapi informasinya yang tidak sampai," papar Erick. 

Salah satu fitur andalan dari Matakota adalah tombol pertolongan atau panic button yang bakal terintegrasi dengan Polda Jawa Timur. Tombol ini bila ditekan akan memberikan alarm pada Polsek terdekat untuk dapat menindak lanjuti. 

Ia pun menjelaskan bahwa berkat aplikasi ini, aplikasi antara warga dengan pemerintahan menjadi lebih ramah. Sehingga menurutnya menciptakan rasa saling hormat. "Media ini bukan untuk mengeluh, bukan untuk mengadu, tetapi ingin mencari solusi improvement kota. Jadi smart citizen tujuannya adalah improvement kota," jelas pria lulusan STIKOM Surabaya tersebut.  

Tidak hanya dengan pemerintahan, Matakota pun ternyata juga menggandeng pihak swasta untuk meningkatkan kualitas informasi. Seperti dengan menggandeng penyedia perangkat keras Internet of Things asal Surabaya, Cubeacon untuk memberikan informasi di tempat-tempat strategis. Selain itu, Matakota juga menggandeng beberapa pemilik properti dengan lokasi strategis untuk menyediakan kamera pengawasan untuk menjadi "mata" bagi masyarakat dalam mengawasi lingkungan.

Selama hampir satu tahun diluncurkan, aplikasi Matakota telah mampu menggaet pengguna sekitar delapan ribu pengguna melalui Playstore. Sementara ditingkat pemerintahan, Matakota telah menjalin kerjasama dengan beberapa kota seperti Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Bangka Belitung dan tahun ini berencana untuk merambah kota Surabaya. 

"Mei 2017 beta, Juni kita lepas beta, langsung kita ke Bangka Belitung, ke Probolinggo, terus di Lumajang, di beberapa kota kecil, Pasuruan. Kenapa kita seperti itu, kita ingin membuktikan bahwa kota yang belum heterogen, yang kegiatannya belum heterogen, itu bisa diciptakan smart safe community. Baru 2018 ini kita mau fokus ke Surabaya," ungkap Erick.

Matakota pada tahun 2018 menargetkan akan ada 200 ribu pengguna di sekitar Jawa Timur. Untuk bisa mengatur pengguna sebanyak itu, dan membuat pengguna lebih bertanggung jawab dengan informasi yang diberikan, Matakota memiliki sistem identifikasi berdasarkan eKTP yang telah terintegrasi dengan Dinas Kependudukan. Sehingga jika terdapat penyalahgunaan atau memberikan informasi yang menyesatkan akan dapat langsung ditindaklanjuti. Verifikasi ini juga akan mampu membuka beberapa fitur-fitur penting dalam aplikasi Matakota. 

"Kita ada verifikasi, misal saya hijau (berupa centang .red), kita masukkan eKTP dan dikenali oleh Dispenduk capil bahwa nama lengkap saya ini. Memang untuk melaporkan (memberi informasi di aplikasi Matakota .red), dia tidak wajib masukkan eKTP, tapi kalau dia kepingin merasakan tingkat keamanan yang lebih, ya dia harus daftarkan diri untuk bisa memanfaatkan panic button," jelas Erick.

Tidak menghubungkan masyarakat yang membutuhkan informasi dengan pemerintahan saja. Aplikasi ini ke depan juga akan berkolaborasi dengan komunitas Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam hal menyediakan produk-produk. Produk tersebut nantinya akan bisa didapatkan oleh para pengguna Matakota yang telah meraih poin-poin tertentu. 

Lewat aplikasi ini, Erick bersama tim Matakota pun berharap untuk bisa menciptakan masyarakat kota yang lebih cerdas (smart), aman (safe) dan juga mampu berjejaring dalam sebuah komunitas (community). Bagaimana menurutmu? Sudahkah kawan mencoba aplikasi Matakota? 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu