Bromo, Gejolak Sunrise Musim Hujan

Bromo, Gejolak Sunrise Musim Hujan

Bromo Penanjakan 3 @arykusumaeka

Setiap kali mendengar Bromo adalah gejolak Sunrise yang berada di timur Pulau Jawa. Banyak cerita dari keindahan alam dan masyarakat yang ramah, perbukitan yang mengelilingi Gunung Bromo sampai melihat ujung puncak Gunung Semeru. Gunung Bromo masih termasuk dalam Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, secara keseluruhan pengelolaan objek wisata ini dikelola oleh Taman Nasional dan dibantu masyarakat sekitar.

Di musim hujan, perjalanan menuju penanjakan untuk melihat sunrise, lumayan membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi jika menggunakan motor. Disarankan jika memang menggunakan motor lebih baik menggunakan motor jenis trail, karena sesuai dengan medan yang sulit, jalan yang berkubang dan licin. Apabila menggunakan motor berjenis matic diperlukan keahlian khusus dan extra hati-hati, hal ini dikarenakan pasir bercampur dengan tanah serta kubangan air di lautan pasir, jika kurang waspada sering kali bisa membuat pengendara tergelincir. Dari rest area pertama yang berada di Desa Tumpang, Kabupaten Malang jika perjalanan dilakukan pada malam hari, memerlukan waktu kurang lebih 60 menit sampai ke pintu masuk Bromo. Hal itu dikarenakan kurangnya penerangan di sepanjang perjalanan yang membuat kita harus hati-hati dengan jarak pandang yang terbatas. .

Pada akhir Februari tahun ini, saya diberi kesempatan lagi untuk mengunjungi Gunung Bromo setelah terakhir kali di tahun 2004. Bromo termasuk Gunung berapi yang terawat dan terkelola dengan baik ini, tetap menjadi pilihan untuk berwisata. Pada perjalanan kali ini saya berangkat dari Surabaya, naik bus patas dari terminal Purabaya atau Bungurasih dikenakan tarif Rp. 25.000,-. Perjalanan dari Surabaya menuju Malang membutuhkan waktu kurang lebih 90 menit sampai 2 jam. Kali ini saya berangkat bersama teman saya yang kebetulan berdomisili di Malang. Kami berangkat dari Malang ke Gunung Bromo sekitar pukul 12 malam dan tiba di rest area Desa Tumpang jam 01.30 WIB. Tiket masuk dikenakan Rp. 35.000,- untuk satu orang. Cuaca yang cukup dingin di musim hujan disarankan membawa Jas Hujan, karena biasanya jas hujan seringkali disepelekan oleh pengguna motor dan terlebih lagi bawa perlengkapan lain seperti sepatu gunung atau sendal gunung, untuk mengantisipasi jika kaki harus menopang badan pada saat motor melewati di kubangan dan melintasi padang pasir basah yang licin.

Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama-kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari Gunung Bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam. Jangan khawatir untuk melintasi padang pasir meski kabut tebal yang membatasi jarak pandang, karena akan ada penanda di sepanjang perjalanan. Meski tidak disarankan untuk melakukan perjalanan di malam hari karena medan yang lumayan berat, wisatawan juga tidak akan menemukan sightview perbukitan teletubies yang hijau, bunga edelweis di sepanjang perjalanan yang mengagumkan serta pasir berbisik jika perjalanan dilakukan di malam hari. Akan lebih aman jika perjalanan di malam hari menggunakan jasa mobil Offroad milik masyarakat sekitar Tengger. Untuk biaya menyewa mobil dikenakan tarif Rp. 500.000,- sampai Rp. 1.500.000,- tergantung rute dan destinasi yang akan dipilih. Jika akan ke penanjakan 1 di daerah Wonokitri, lebih baik menggunakan mobil offroad untuk alasan keamanan karena jarak tempuh yang lumayan jauh dibanding Penanjakan 2 dan 3.

Kita akan disuguhkan hamparan pegunungan yang mengelilingi Bromo, tak terkecuali dengan beberapa titik untuk melihat keindahan matahari terbit. Hari pertama kami menikmati sunrise di Penanjakan 3, di sisi kiri view point, kita akan melihat matahari terbit dengan sapuan kabut tipis, dan disisi yang lain suguhan hamparan lautan pasir, Kawah Bromo yang masih mengepulkan asap, Gunung Bathok dan Semeru yang mengintip dibalik pegunungan yang berderet rapi di depannya.

Menurut Ranto Deny, salah seorang pengunjung yang berasal dari Blitar, Penanjakan 3 di kawasan Bromo merupakan spot sunrise yang mudah dijangkau.

“Meskipun saat musim hujan seperti ini, Bromo tetap menampilkan sunrise terbaiknya, selain bisa melihat sungai awan dari atas penanjakan 3, disisi yang lain kita bisa menyaksikan sunrise yang gak kalah dengan penanjakan 1. Karena di Penanjakan 3 ini kita bisa lebih mempersingkat waktu perjalanan dengan akses yang paling mudah,” tutur Ranto Deny

Ary, pengunjung yang lainnya pun mengaku sangat terkesan dengan pemandangan yang disajikan di Penanjakan 3 ini.

“Pokoknya disini itu tempat yang paling pas dan cocok untuk melepas kepenatan, dan cuman bisa bersyukur menyaksikan alam Bromo yang masih terawat dengan asrinya. Selain itu, udaranya yang sejuk bikin pikiran jadi plong, jadi berasa kayak gak ada beban”, terangnya.

Sebenarnya kami hanya ingin sehari saja di Bromo, tapi karena kami kelelahan akhirnya kami mencari penginapan di sekitar pemukiman warga di Desa Ngadisari, harga untuk menginap sehari semalam berkisar antara Rp. 150.000,- hingga Rp. 1.500.000,- tergantung dengan fasilitas dan pemandangan yang ditawarkan. Hari kedua kami memutuskan untuk melihat sunrise di Seruni View yang berada diatas Desa Ngadisari, sepanjang perjalanan menuju Seruni View kami disuguhkan hamparan perkebunan warga yang ditanami berbagai macam sayuran serta pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi di tengah ladang warga.

Jika perut keroncongan pun banyak tersedia warung-warung makan, harga yang ditawarkan pun lumayan terjangkau mulai dari Rp. 10.000,- untuk satu porsi nasi pecel dan Rp. 15.000,- sampai dengan Rp. 20.000,- untuk Soto ayam dan Nasi Rawon.

Banyak hal yang ditawarkan oleh Gunung Bromo, meskipun di musim hujan kabut tebal yang disambut dengan sunrise di ujung timur menjadi suatu hal yang mengubah cara pandang kita untuk menikmati sebuah ketenangan dan sekaligus memberikan penyandaran baru untuk memaknai sebuah perjalanan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli60%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau20%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Cetak Sejarah Baru dalam Upaya Pemberantasan Terorisme Sebelummnya

Indonesia Cetak Sejarah Baru dalam Upaya Pemberantasan Terorisme

Potret Penulis Perempuan Indonesia Selanjutnya

Potret Penulis Perempuan Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.