Seiring berkembangnya teknologi, kini kita hidup di era serba instan. Ketika pada awal masa kemunculannya, kita mengenal televisi dengan body yang tebal. Kita menyebutnya dengan sebutan TV tabung. Saat ini, rasanya sudah jarang ditemui televisi tabung, semua beralih ke televisi dengan layar lebih tipis, dengan begitu memudahkan tata letak dikarenakan efisiensi bentuk yang tidak membutuhkan banyak ruang.

Begitu pula komputer, pada awalnya kita hanya bisa menggunakan komputer di tempat menetap saja, kini seiring berkembangnya teknologi, kita bisa membawa kemana-mana komputer compact  yang kita kenal sebagai laptop.

Pernahkah anda membayangkan bahwa anda dapat merasakan kemudahan tersebut pada alat musik, gitar? Pastinya akan sangat menyenangkan dan gampang jika kita dapat membawa gitar kita kemana saja dengan mudah, bukan? Bayangkan saja, anda dapat membawa gitar anda dengan mudah bersama dengan bawaan lainnya seperti tenda untuk berkemah pada acara berkemah dengan teman-teman misalnya.

Gitar akustik konvensional | Foto: Mubarock
Gitar akustik konvensional | Foto: MubaRock

Jika kita melihat bentuk gitar akustik yang biasa kita temukan, masuk akal jika gitar-gitar akustik memiliki body yang bisa dibilang tebal dikarenakan fungsinya yang berguna sebagai ruang resonansi. Dengan fungsi tersebut, apakah mungkin jika gitar akustik memiliki body yang lebih tipis seperti yang kita bayangkan di atas?

Jawabannya mungkin sekali. Faktanya, gitar tersebut sudah ada dan ternyata penciptanya merupakan orang Indonesia berasal dari Bandung. Gitar tersebut diciptakan oleh, Raka Shidiq, seorang yang juga membuat gitar dan mengalami kejenuhan terhadap bentuk gitar yang begitu-gitu saja.

Didukung oleh kegelisahannya dengan fakta kalah bersaingnya gitar-gitar buatan Indonesia karena kebanyakan orang lebih memilih untuk membeli gitar buatan luar negeri karena dianggap lebih bagus, Raka kemudian mencipatakn gitar dengan body dengan ketebalan hanya 8mm. Wow, tipis sekali.

Pada awalnya gitar yang diproduksi oleh rumah produksi Anymos Essential ini dikira merupakan rakitan gitar yang belum jadi. Berkebalikan dengan asumsi tersebut, gitar tersebut siap digunakan bahkan diakui memiliki kualitas suara yang lebih baik dikarenakan tidak menghasilkan feedback yang berlebihan.

Raka dan gitar Anymos ciptaannya | Foto: Agus Bebeng / Antara Foto
Raka dan gitar Anymos ciptaannya | Foto: Agus Bebeng / Antara Foto

Lantas dengan ketidakhadiran ruang resonansi, bagaimana gitar Anymos ciptaan Raka dapat berfungsi sebagaimana layaknya gitar? Gitar tersebut menggunakan sistem microchamber yang dapat menghasilkan suara lebih panjang berkat konstruksi neckthrough. Gitar ini juga dikombinasikan dengan sistem undersaddle piezo untuk performa suara terbaik tanpa noise. Dengan desain ini, suara yang dihasilkan tidak akan memiliki resonansi berlebih yang sering menjadi penyebab feedback.

Dengan inovasi tersebut, gitar dengan label Anymos Essential tersebut digadang-gadang menjadi gitar tertipis di dunia. Tidak hanya itu, gitar tersebut juga meraih penghargaan The Most Marketable Product pada Business of Design Week 2016 di Hong Kong, dan mendapat sambutan baik dari pecinta musik seperti di South by South West (SXSW) 2017 Austin AS, Salone Del Mobile Milano 2017, dan Casa Bravacasa 2017.

Raka juga mengaku sejumlah musisi berminat pada gitar buatannya. Di antaranya musisi balada Ferry Curtis dan solois Nissan Fortz. Rencananya, dia akan membuat beberapa seri gitar akustik yang dikhususkan bagi kolektor. Meskipun begitu, gitar standar tetap dibuatkan massal. “Kita juga lagi menyiapkan gitar hasil eksperimen dengan carbon fiber, material yang biasa dipakai untuk mobil F1 dan pesawat. Prototype sudah ada, tinggal sekali penyempurnaan,” ucapnya.

Kayu Mahogany mentah | Foto: CustomMebel
Kayu Mahogany mentah | Foto: CustomMebel

Dari segi bahan, Raka mengakui bahwa 80% dari gitar tersebut menggunakan bahan dari kayu Mahogany. Ia menyebutkan bahwa kayu Mahogany merupakan kayu dengan kualitas yang terbaik. Sayangnya, kebanyakan peralatan lainnya merupakan barang impor dari luar negeri karena terbatasnya barang yang tersedia di dalam negeri.


Sumber: Pikiran Rakyat | Jadiberita.com | Infobandung | 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu