Bus Sekolah Ini Berbahan Bakar Minyak Goreng Bekas

Bus Sekolah Ini Berbahan Bakar Minyak Goreng Bekas

BioBus Green School di Bali © Our Better World

Di Bali, hal ini adalah sebuah kenyataan yang ‘menggugah selera’ bagi seorang pengemudi bus sekolah bernama Made Gusta. Dia adalah salah satu pelopor proyek Bio Bus Green School. Sekolah ini memiliki tiga bus biodiesel yang menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan bakarnya.

“Saat saya hidupkan mesin bus, saya cium bau ayam goreng,” kenangnya. “Dan saya teriak, ‘siapa yang makan di bus?’”

Sambil tertawa dia mengatakan, “Itu kali pertama saya percaya kalau bus ini bisa jalan karena minyak goreng.”

Para siswa lulusan Green School memprakarsai gagasan tersebut pada tahun 2015, didorong oleh tantangan untuk menurunkan emisi karbon dan menghijaukan sistem transportasi di Bali.

Minyak goreng bekas dapat didaurulang menjadi biodiesel. Foto: Our Better World
Minyak goreng bekas dapat didaurulang menjadi biodiesel. Foto: Our Better World

“Ada begitu banyak siswa yang membawa mobil dan tidak ada lahan parkir yang cukup. Sementara, jejak emisi karbon dari mobil-mobil ini cukup besar,” kata Sofi Le Berre, Anggota Tim Bus Bio Green School kepada Our Better World, program kisah inspiratif dari Singapore International Foundation.

Para siswa juga melihat bahwa terdapat masalah mengenai minyak goreng bekas di Bali.

Made menggungkapkan, “Minyak yang sudah terpakai belasan kali, bahkan puluhan kali, masih bisa dijual lagi. Dan banyak orang yang tidak bertanggung jawab, mereka jernihkan lagi dengan formalin atau bahan kimia seperti pembersih kolam.”

“Hal ini berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan,” kata Sofi.

Para siswa Green School tergugah untuk mencari solusi atas masalah tersebut. Mereka bekerja sama dengan Yayasan Lengis Hijau, sebuah lembaga swadaya masyarakat lokal yang fokus pada aktivitas pengumpulan dan produksi biodiesel.

Bersama dengan yayasan tersebut, mereka mengedukasi hotel dan restoran mengenai bahaya penggunaan minyak goreng bekas di dapur.

Mereka juga mendorong pihak hotel dan restoran untuk menyumbangkan minyak goreng bekas mereka untuk didaur ulang menjadi biodiesel. Sebagai bonus tambahan, gliserin, produk sampingan dari proses daur ulang ini diubah menjadi sabun.

SPBU Biodiesel di Green School, Bali. Foto: Our Better World
SPBU Biodiesel di Green School, Bali. Foto: Our Better World

Saat ini, Green School memiliki stasiun pengisian bahan bakar biodiesel untuk umum pertama di Bali. Mereka juga memiliki 3 bus sekolah yang beroperasi dengan biodiesel.

Kini, mereka memiliki mimpi yang lebih besar untuk mengubah Bali menjadi lebih baik. Mereka berharap seluruh pengemudi di Bali dapat beralih menggunakan biodiesel.

Made mengatakan dengan optimis, “Saya rasa semua orang pasti ingin Bali itu lebih maju, tetapi tetap indah, tetap bagus dan tetap sehat.”

=====

Ikut bantu proyek Bio Bus Green School!

Anda tahu restoran di Bali yang dapat menyumbangkan minyak goreng bekas?

Cari tahu bagaimana Anda bisa beralih ke biodiesel

A story by Our Better World – telling stories of good to inspire action.

Pilih BanggaBangga58%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi42%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

International Women's Day: Lima Wanita Penggerak Perubahan Indonesia Sebelummnya

International Women's Day: Lima Wanita Penggerak Perubahan Indonesia

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler Selanjutnya

Indonesia jadi Negara Terfavorit untuk Dikunjungi versi Conde Nast Traveler

Indah Gilang  Pusparani
@indahgilang

Indah Gilang Pusparani

http://www.indahgilang.com

Indah graduated from MSc Development Administration and Planning from University College London, United Kingdom in 2015. She finished bachelor degree from International Relations from University of Indonesia in 2014, with two exchange programs in Political Science at National University of Singapore and New Media in Journalism at Ball State University, USA. She was awarded Diplomacy Award at Harvard World Model United Nations and named as Indonesian Gifted Researcher by Australian National University. She is an Editor at Bening Communication, previously worked at the Commonwealth Parliament Association UK and a diplomacy consulting firm Best Delegate LLC in USA.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.