8 Maret diperingati sebagai International Women's Day atau Hari Perempuan Internasional. Kampanye tersebut mengusung tema #PressforProgress untuk tahun 2018 yang berawal dari kepedulian terhadap paritas gender. Dipercaya untuk itu, #PressforProgress dibutuhkan untuk menjadikan visi terhadap terwujudnya paritas gender tersebut. Diibaratkan seperti air, jika sendirian kita hanyalah setetes. Namun jika bersama-sama, kita bisa membentuk samudera.

Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional, berikut daftar lima wanita penggerak perubahan asal Indonesia sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi yang telah disumbangkan:

Ir Rambu Atanau | Foto: Viva
Ir Rambu Atanau | Foto: Viva

Ir Rambu Atanau bekerja untuk perubahan dalam mencegah dan bertindak terhadap kekerasan berbasis gender. Rambu merupakan seorang aktivis yang tidak kenal lelah yang telah mengembangkan dan memperkuat gerakan perempuan di Nusa Tenggara Timur. Ia mendirikan naungan khusus untuk perempuan dan anak-anak korban kekerasan, menyediakan lingkungan yang aman, dan bekerja untuk mengintegrasi para korban dengan masyarakat. Ia juga telah bekerja untuk mengembangkan jaringan layanan di seluruh NTT sehingga pencegahan dan penanganan kasus-kasus kekerasan berbasis gender terstandardisasi. IR Rambu bekerjasama dengan berbagai komunitas, organisasi, dan segala latar belakang gender untuk membangun gerakannya.

Lian Gogali | Foto: YouTube
Lian Gogali | Foto: YouTube

Lian Gogali berdedikasi untuk perubahan dengan memberdayakan remaja perempuan. Ia membangun Sekolah Perempuan Mosintuwu di Poso diperuntukkan bagi perempuan-perempuan dari berbagai desa, suku, dan agama untuk datang bersama-sama mendiskusikan isu mengenai toleransi, kedamaian, gender, hak politik dan ekonomi, kesehatan, dan banyak lagi. Ia juga mengenalkan "Proyek Sophia," sebuah perpustakaan berjalan dikhususkan bagi anak-anak korban konflik yang terjadi di Poso. Proyek Sophia mengunjungi desa-desa untuk mengajak anak-anak dengan berbagai latar belakang untuk bersama-sama belajar, bermain, dan mengutarakan pendapat. Lian menyebutkan pada sebuah event Tedx Talk, "Untuk melakukan hal serupa tidak dibutuhkan untuk harus memiliki uang banyak, mobil mewah, atau bahkan dua kaki. Di era sekarang, jika kamu mempunyai telepon genggam, sebuah papan tulis, dan sebuah ide besar, kamu bisa membuatnya nyata, tidak peduli dari mana asalmu.. Karena saya berhasil melakukannya!"

Veronica Ata Tori | Foto: Viva
Veronica Ata Tori | Foto: Viva

Veronica Ata Tori berjasa dalam meningkatkan partisipasi perempuan pada politik. Di Nusa Tenggara Timur, Ata Tori merupakan penggagas Jaringan Politik Wanita NTT dan dengan aktif telah bekerja untuk memberikan edukasi politik terhadap perempuan-perempuan disana. Ia berhasil mengajak kerjasama beberapa partai politik dan institusi eksekutif untuk mengakomodasi perempuan sebagai kandidat politik dan ia mendesain gerakan Wanita NTT dalam Politik, yang digunakan sebagai referensi oleh pemerintah setempat untuk mengembangkan kebijakan responsif terhadap gender. Ia merupakan guru di sebuah sekolah demokrasi di NTT dan penggagas dari Forum Komunikasi dan Gerakan Hak Wanita di NTT yang bergerak untuk mendorong wanita-wanita berpotensi untuk bekerja di pemerintahan.

Febriarti Khairunnisa | Foto: Viva
Febriarti Khairunnisa | Foto: Viva

Febriarti Khairunnisa berupaya untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam bidang ekonomi dan memerangi degradasi lingkungan. Febri menggagas Bank Sampah di Lombok untuk menyelesaikan permasalahan limbah dan juga mendorong perempuan setempat. Ia bekerja dengan lebih dari 30 ibu rumah tangga di daerah kumuh untuk mengumpulkan, memproses, dan menjual limbah non-organik. Ia juga mulai mengajak siswa dalam gerakan tersebut. Di program tersebut ia menggaet lebih dari 50 sekolah melibatkan lebih dari 10.000 siswa, membuat para siswa tersebut mendapatkan uang dari hasil penjualan limbah yang telah didaur ulang tersebut. Dana yang terkumpul ditabung untuk digunakan sebagai uang sekolah.

Brigjen Sri Rumiati | Foto: Viva
Brigjen Sri Rumiati | Foto: Viva

Brigjen Sri Rumiati seorang polisi wanita yang bekerja serupa dengan yang dikerjakan oleh Ir Rambu Atanau, mencegah dan merespon terhadap kekerasan namun dengan cara yang berbeda. Ia mengadvokasi partisipasi perempuan yang lebih besar di Kepolisian. Dia telah lama menjadi advokat yang berkomitmen dan agresif untuk kesetaraan dan pemberdayaan perempuan di dalam Polri serta berperan penting dalam peningkatan signifikan petugas polisi wanita. Dia berkampanye tanpa lelah untuk memastikan polisi wanita hadir di setiap kecamatan di seluruh Indonesia untuk melayani masyarakat dengan lebih baik. Dia juga menjadi kritikus vokal untuk "tes keperawanan" bagi anggota polisi yang direkrut dan telah dipilih untuk melakukan pelatihan kepekaan gender di seluruh Polri sehubungan dengan kontroversi pada saat itu. Ia juga merilis modul pengajaran dan kurikulum untuk Akademi Kebidanan untuk digunakan di seluruh Indonesia.


Sumber: Diterjemahkan dari U.S. Embassy & Consulate in Indonesia

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu