Suatu siang di bulan Juli 2017 di Singapura. Saya sedang berada di MRT dari Changi Airport menuju Tanah Merah Station untuk selanjutnya berpindah kereta ke kawasan lain.

Ada yang menarik.

Kebetulan di dalam satu gerbong itu, saya bersama dengan rombongan turis dari Eropa, dan melihat paspor yang mereka pegang, dan bahasa serta logat mereka, mereka berasal dari berbagai negara benua biru tersebut. Ada yang dari Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol (atau Italia?), dan Belanda. Mereka mungkin satu pesawat dari Eropa ke Singapura. Puluhan jumlahnya.

Saya tak sempat berbicara dengan satu pun dari mereka, selain karena jarak dari Changi ke Tanah Merah cukup dekat dan waktu tempuhnya pun pendek, ada hal lain yang membuat saya tertegun dan sadar akan satu hal.

MRT at Tanah Merah | straitstimes.com.sg
MRT at Tanah Merah | straitstimes.com.sg

Saya melihat, anak anak muda dari Eropa ini satu persatu mulai memasukkan paspornya ke tas, dan gantian mengeluarkan smartphone mereka. Yang membuat saya tertegun adalah, bahwa sebagian besar dari mereka, menggunakan smartphone buatan Asia, mulai dari Samsung, LG, Huawei, Asus, OnePlus, dan sebagian lain tak terlihat karena tertutup casing. Saya melihat beberapa menggunakan iPhone, brand dari Amerika Serikat.

Apa yang istimewa sebenarnya?

Jika pembaca seumuran dengan saya, 10 tahun lalu, merk-merk Eropa dan AS-lah yang mendominasi. Belum banyak merk Asia. Nokia, Ericsson, Siemens, Alcatel, Motorola, dan lainnya, menjadi merk global yang dipakai di lima benua. Kemana mereka kini? Merk-merk itu memang masih ada, tapi tak lagi menjadi raja, ataupun tak lagi 'bertempur' di medan peperangan smartphone yang kini dikuasai Asia.

Juga hal ini..

Saya tak tahu di negara lain, tapi di kota saya, Surabaya, siapapun yang mencari peralatan elektronik di toko elektronik, selalu juga terlihat selalu mencari merk-merk Asia. LG atau Samsung, atau Sharp, Panasonic, ataupun merk-merk made in China. Tak lagi kita lihat merk-merk RCA, Grundig, Phillips, atau merk-merk non Asia lain.

Tak hanya itu, perusahaan-perusahaan dari Asia pun kini dikenal dengan kualitas sangat baik, melebihi pesaing-pesaing dari Eropa ataupun Amerika. Maskapai-maskapai terbaik dunia (Garuda Indonesia di peringkat 10 dunia), sebagian besar ada di Asia, maskapai-maskapai bintang 5 dunia (salah satunya Garuda Indonesia); hanya satu yang bukan dari Asia, yakni Lufthansa (Jerman).

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Abad ini, dan abad-abad mendatang diyakini akan menjadi milik Asia. Dua raksasa Asia, China dan India, diyakini akan membuat sejarah baru perekonomian dunia, sehingga Asia menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia.

Entah kapan, Asia akan mendominasi ekonomi, politik, dan keamanan dunia. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kehadiran Abad Asia akan sama seperti ketika Amerika Serikat mendominasi paruh kedua abad ke-20, namun rasanya, tanda-tanda ini semakin terlihat nyata.

Era kita

Kita saat ini hidup di era yang ..berbeda dengan era sebelum kita. Sama sekali berbeda. Belum pernah terjadi di dalam sejarah dunia, di mana umat manusia bisa menjadi begitu dekat seperti sekarang. Kita berada di ambang revolusi teknologi yang akan secara fundamental mengubah cara hidup, cara bekerja, dan cara kita berhubungan satu sama lain. Skala, cakupan, kerumitan dan proses transformasinya berbeda dengan yang pernah dialami umat manusia sebelumnya.

Era ini akan berpotensi berpotensi meningkatkan tingkat pendapatan global dan meningkatkan kualitas hidup. Industri-industri baru akan bermunculan, spektrum lapangan pekerjaan makin beragam dan luas, biaya transportasi dan komunikasi akan makin terjangkau, rantai logistik dan pasokan akan menjadi lebih efektif, dan biaya perdagangan akan berkurang. Inilah yang akan membuka pasar-pasar baru dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam laporan berjudul Asia 2050: Realizing the Asian Century, Asia Development Bank (ADB) mengkalkulasi bahwa jika Asia dapat mempertahankan pertumbuhan seperti sekarang, persentase total PDB-nya akan naik dari 27% pada tahun 2010 menjadi 51% pada tahun 2050.

Artinya, separuh ekonomi dunia ada di tangan kawasan ini. Selain itu, pendapatan perkapita akan naik enam kali lipat menjadi sekitar 38.600 dolar, menjadikan rakyat Asia semakmur orang-orang Eropa sekarang. Peningkatan ekonomi yang pesat ini akan dimotori oleh China, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand. Ketujuh negara tersebut saat ini menguasai 87% PDB Asia dan akan naik menjadi 90% pada 2050, setara dengan 45% total PDB global. Posisi ekonomi terbesar dunia pada tahun tersebut juga akan ditempati China, disusul dengan Amerika Serikat dan India. Hal ini akan menjadi pengulangan sejarah masa kejayaan Asia sebelum era revolusi industri.

Bagaimana dengan Indonesia di Abad Asia?

PricewaterhouseCoopers (PwC) menulis dalam risetnya bahwa negara berkembang akan mulai mendominasi peringkat ekonomi utama dunia pada 2030. Hal yang menggembirakan, dalam jajaran 21 negara ekonomi terkuat, Indonesia berada di peringkat ke-5, di bawah China (no.1), AS, India, dan Jepang.

Inilah peringkat 5 besar ekonomi dunia versi PwC berdasarkan proyeksi Purchase Power Parity (PPP):
1. China - USD38.008 triliun

2. Amerika Serikat - USD23,475 triliun

3. India - USD19,511 triliun

4. Jepang - USD5.606 triliun

5. INDONESIA - USD5.424 triliun

Di samping itu, populasi demografi Indonesia yang didominasi usia muda dan usia produktif, akan banyak berpengaruh pada berjalannya mesin-mesin pertumbuhan Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun mengatakan bahwa pada 2045 , potensi penduduk Indonesia lebih dari 300 juta jiwa dengan usia produktif mencapai 52%. Sementara untuk kelas menengah bisa mencapai 82%.

Indonesian young | unplash by M Haikal Sjukri
Indonesian young | unplash by M Haikal Sjukri

Tentu banyak tantangan untuk mencapai hal itu, agar Indonesia tak lagi ketinggalan dan menjadi bangsa mediocre saja. Untuk mewujudkannya harus dipastikan oleh adanya kerja sama dari seluruh stakeholder baik di pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, pemimpin masyarakat, dan semua pihak. Kesiapan SDM yang tangguh, berketerampilan, mampu berinovasi, menjadi kunci memenangkan masa depan. Untuk itulah pendidikan HARUS selalu diperbaiki dan ditingkatkan. Selain itu, infrastruktur, k esiapan teknologi dan informasi, serta kebijakan-kebijakan, juga harus konsisten dan berkesinambungan.

Kita boleh berharap dan terus berharap bahwa di tahun 2045 nanti, saat kita merayakan 100 tahun kemerdekaan bangsa ini, produk-produk Indonesia akan makin diakui kualitasnya secara global, dibukanya waralaba Restoran Sederhana di berbagai benua. brand-brand Indonesia yang tak lagi juara kandang, dan anak anak bangsa yang berprestasi dunia, olahragawan yang membuat seluruh bangsa berbangga.

Saatnya sekarang. Bukan besok. Sekarang

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu