Dulu.... ketika saya masih di bangku SD, entah mengapa setiap kali mendengar kata Surabaya, yang terbayang adalah kota yang “panas”, “semrawut”, berdebu, dan sejumlah stereotype lain.  Padahal waktu itu belum pernah sekali pun saya menginjakkan kaki ke kota Surabaya waktu itu. Dan parahnya, persepsi itu terbawa sampai saya dewasa.

Lebih dari 20 tahun kemudian, saya bertemu dengan orang Indonesia asal Jakarta, yang sudah lama tinggal di AS dan sudah puluhan tahun belum pulang ke tanah air. Ketika tahu bahwa saya saat ini tinggal di Surabaya, komentarnya cuma satu “Surabaya, panas!”. Rupanya kata “panas” masih dianggap paling pas mewakili Surabaya. Kata “hijau” rasanya tak pernah disandingkan dengan Surabaya karena citra bahwa Surabaya kota yang panas sudah terlanjur melekat kuat.

11 tahun lalu saya mengunjungi kota Surabaya pertama kalinya karena ada urusan yang mengharuskan saya ke Kota Pahlawan tersebut. Saya harus mengaku, bayangan bahwa Surabaya adalah kota panas, jorok, dan semrawut ternyata tidak sepenuhnya salah. Setelah menghabiskan 3 hari di kota Surabaya, dan sempat mencicipi kemacetan dan banjir, saya memutuskan bahwa Surabaya tak akan masuk di daftar pilihan tempat tinggal saya.

Tetapi, here i am.

Tahun ini adalah tahun ke-11 saya tinggal di Surabaya. Meski belum bisa ngomong logat Suroboyoan.  , tapi saya sudah merasa Surabaya adalah bagian tak terpisahkan dalam hidup saya. Surabaya sekarang jauh berbeda dibanding Surabaya 11 tahun yang lalu.

Baru – baru ini saya berkunjung ke Bangkok, Manila, dan Ho Chi Minh. Dibanding ketiga kota itu, rasanya Surabaya masih berani diadu soal kebersihan dan hijaunya. Jalan-jalan protokol di Surabaya juga terlihat lebih lebar dan tertata. Cobalah berkendara di jalan protokol Ahmad Yani sampai Raya Darmo, belok ke dr. Sutomo atau ke Polisi Istimewa, trotoar yang lebar dan bersih, pohon rindang di kiri kanan serta median jalan dengan tanaman yang tertata apik, taman kota yang indah akan memanjakan mata kita. Berbelok ke jalan Imam Bonjol, Trunojoyo, Untung Suropati, kita masih bisa menikmati rumah-rumah dengan arsitektur Belanda yang ‘adem’.

Kalau kita berjalan lebih jauh masuk ke perkampungan, kita bisa melihat kampung-kampung yang dulu kumuh dan tak tertata, perlahan ditata, atau tepatnya menata diri sendiri sehingga terlihat lebih bersih, rapi, dan hijau. Pemerintah bahu membahu dengan kalangan swasta dan media setempat membuat program “Surabaya Green and Clean” yang berjalan sejak tahun 2005 telah berhasil membuat Surabaya bertransformasi menjadi kota yang lebih livable.

Di tahun 2005, ketika program Surabaya Green and Clean pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat, hanya sekitar 325 Rukun Tetangga (RT) di Surabaya yang tertarik untuk berpartisipasi. Kini di tahun 2012 lebih dari 2000 RT berpartisipasi. Lebih dari 200 sekolah SD/SMP/SMA di Surabaya sudah berpartisipasi dalam program eco-school yang digagas oleh LSM Tunas Hijau dengan dukungan Pemerintah Kota Surabaya. Upaya pemerintah kota Surabaya dalam merevitalisasi Bantaran Kalimas Surabaya yang sudah dijalankan sejak tahun 2008 membuahkan penghargaan “Brantas Award 2012” dari Perum Jasa Tirta kepada Pemerintah Kota Surabaya. Surabaya pun menjadi jujugan studi banding soal pengelolaan lingkungan dari pemerintah kota dan kabupaten lain.

Gaung keberhasilan kota Surabaya bertransformasi menjadi kota yang lebih ramah lingkungan ini pun mendapat pengakuan internasional. Di tahun 2011, Surabaya berhasil meraih penghargaan “ASEAN Environment Sustainable City” atau kota dengan penataan lingkungan berkelanjutan terbaik di tingkat ASEAN setelah menyisihkan 44 kota lain di Asia Pasifik. Masih di tahun yang sama, Surabaya juga berhasil menyabet penghargaan dalam 3 dari 4 kategori dalam Smart City Award yakni Smart Governance, Smart Living dan Smart Environment setelah menyisihkan 59 peserta lain dari 33 propinsi di Indonesia. Penghargaan Smart City 2011 untuk Surabaya membuktikan kesuksesan pengimplementasian konsep kota pintar yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi.

Melalui konsep kota pintar tersebut, Surabaya mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik sehingga menjadi lebih cepat, transparan, dan akuntabel. Surabaya juga sukses menyabet penghargaan Adipura Kencana 2011 untuk kategori metropolitan setelah 5 tahun berturut-turut gagal meraih penghargaan tersebut. Jangan lupa, Surabaya juga sukses meraih penghargaan Langit Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori kota metropolitan 2011. Tak heran, Walikota Surabaya Ir. Tri Rismaharini, MT dianugerahi sebagai Person of The Year 2011 kategori Kepala Daerah Terbaik dari sebuah media nasional atas dedikasi, prestasi dan pengabdiannya.

Kota Surabaya meraih penghargaan internasional kategori Partisipasi terbaik se-Asia Pasifik yang tergabung dalam organisasi Citynet di bulan Juli 2012. Dan Surabaya memang pantas memperoleh penghargaan tersebut. Mengutip kantor berita ANTARA, Sekjen Citynet yang juga mantan Wali Kota San Fernando, Filipina, Mary Jane Ortega mengatakan, Kota Surabaya mendapatkan penghargaan ini karena mampu mengajak “stakeholder” terlibat dalam pembangunan kota yang berkelanjutan. Tentu masih banyak penghargaan lain yang berhasil disabet Surabaya hingga tahun 2017 lalu, tetapi sesungguhnya bukan sederet penghargaan itu yang membuat saya kagum.

Sebagai pendatang, saya harus mengakui bahwa kecintaan warga Surabaya terhadap kotanya memang cukup tinggi. Lihatlah antusiasme warga kampung-kampung dalam berbagai kegiatan lingkungan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Mulai dari ide daur ulang sampah, pendirian bank sampah sampai gerakan tanam pohon. Coba datang ke RW 10 di Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan Surabaya yang telah mencanangkan diri sebagai Kampung Wisata Sampah Mandiri. Gundih adalah kampung terdepan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas di Surabaya dan kunci suksesnya adalah pemberdayaan kader lingkungan di kampung tersebut.

Dalam perjalanan menuju kantor tiap pagi, saya mendengarkan salah satu radio swasta kebanggaan warga Surabaya, dan di radio tersebut telah menjadi forum bagi warga Surabaya untuk berinteraksi, berbagi informasi mulai dari informasi lalu lintas, pipa bocor, listrik mati, atau ide dan masukan untuk pemerintah setempat. Bukti kecintaan warga terhadap kotanya.

Yang jelas, saat ini image melekatkan kata-kata panas, semrawut, banjir, kotor, rasanya sudah tidak relevan dilekatkan ke Surabaya. Dalam beberapa tahun terakhir, belasan taman kota yang dulu mangkrak oleh pemerintah kota disulap menjadi taman cantik nan hijau dimana masyarakat dapat berkumpul untuk sekedar bersantai. Bahkan di tempat tertentu, seperti di Taman Bungkul pengunjung dapat berselancar di dunia maya karena pemerintah kota memasang Wifi di taman seluas 900 m2 itu.

Tentu saja, di luar kesuksesannya di bidang lingkungan hidup, Surabaya seperti halnya kota-kota lain, masih punya segudang PR yang harus diselesaikan. Ketersediaan transportasi umum, akses pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin, kemudahan perijinan bisnis, akses pendidikan, dan segudang persoalan lain masih menunggu penyelesaian. Tapi melihat melihat bagaimana Surabaya mampu bertransformasi dalam kurun waktu 10 tahun ini dalam hal penataan lingkungan, saya sungguh sangat optimis bahwa 10 tahun dari sekarang pun Surabaya akan mampu bertransformasi menjadi kota yang sangat livable bagi penduduknya. Ruang terbuka nan hijau bagi masyarakat Surabaya akan lebih banyak dibangun sebagai ruang interaksi arek Suroboyo, trem yang nyaman akan menggerakkan ratusan ribu warga Surabaya setiap harinya. Bisnis-bisnis baru akan bertumbuh seiring kemudahan urusan perijinan sehingga mendorong roda perekonomian bergerak terutama di skala menengah ke bawah, sehingga Surabaya tak hanya menjadi ‘jujugan’ studi banding dari kota atau propinsi di Indonesia, tapi semakin banyak negara asing datang ke Surabaya untuk belajar mengenai tata kota. 11 tahun lalu tak terlintas sedikitpun di benak saya untuk bermigrasi ke Surabaya. Sekarang, dan 11 tahun mendatang, saya memantapkan diri untuk bangga menjadi arek Suroboyo.

Esti Durahsanti, durahsanties@yahoo.com

Ada 2 komentar

Ayo ikutan juga