Penampilan kolaborasi angklung buncis dan kendang dibawakan para mahasiswa Jurusan Musik Royal Holloway University of London (RHUL) tergabung kelompok seni degung Sunda Puloganti memukau seratusan pengunjung yang ada di ruang Picture Gallery, Royal Holloway University of London (RHUL), London.

Lagu pembuka adalah Jung Pung, dilanjutkan dengan mengalunnya lagu Tepang Asih, Lalayaran, Sancang, Bendrong, dan Karatagan Pahlawan. Lagu-lagu itu dimainkan dengan angklung, gamelan degung, hingga salendro.

Pertunjukan pun dilanjutkan dengan pementasan wayang kulit yang berlatar cerita khas pulau Bali, Ramayana.

Namun kali ini pertunjukan wayang Bali yang dibawakan oleh guru besar teater di RHUL, Matthew Cohen, mahasiswa jurusan drama RHUL Sietske Rijkema, dan guru besar teater tradisi di ISI Denpasar, Nyoman Sedana.

Pementasan wayang Bali di London. Foto: KBRI London
Pementasan wayang Bali di London. Foto: KBRI London

Menurut laporan Kedutaan Besar RI di London, penampilan tersebut sukses membuat para penonton tidak beranjak dari tempatnya dan ikut hanyut dalam alunan degung Sunda.

Pementasan wayang Bali di RHUL tidak terlepas dari adanya program residensi seniman tradisional yang dirancang di kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI London.

Setelah menuai sukses pada awal penyelenggaraan program residensi kantor Atdikbud KBRI London 2017, dan program yang sama 2018 diundang ahli drama dan wayang Bali, I Nyoman Sedana, guru besar drama di ISI Denpasar. I Nyoman Sedana memulai program ini sejak awal 2018 dan bekerja sama dengan Jurusan Drama di Pusat Kajian Musik, Tari, dan Drama, RHUL.

Pertunjukan gamelan oleh mahasiswa Inggris. Foto: Royal Holloway University of London
Pertunjukan gamelan oleh mahasiswa Inggris. Foto: Royal Holloway University of London

“Karya seni kolaborasi para musisi di Inggris ini sangat unik, dan menjadi kekuatan mereka dalam menampilkan kepiawaiannya menjaga nilai-nilai tradisi di satu sisi dan kemampuan untuk terus berimajinasi dan berkreasi menciptakan hal-hal baru,” kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, E. Aminudin Aziz pada Antara London.

Seperti dilansir Media Indonesia, Sietske Rijkema, mahasiswa RHUL yang menjadi dalang pada pementasan tersebut, menuturkan belajar langsung dari ahlinya memberikan kesan dan nilai tersendiri, sebab bermain wayang bukan hanya urusan menggerakkan tokoh wayang untuk berpadu dengan musik pengiringnya, tapi juga memaknai nilai-nilai budaya asli tempat bermulanya seni.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu