17 Agustus 1945, kita semua warga negara Indonesia tahu betul di tanggal tersebut terjadi peristiwa bersejarah, dimana Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Namun seberapa banyak warga negara Indonesia yang paham bahwa setelah momen berkumandangnya Proklamasi tersebut, Indonesia masih mengalami beberapa rintangan. Belanda belum sepenuhnya angkat kaki dari wilayah Indonesia. Justru, mendekati akhir tahun 1946 daerah-daerah wilayah Indonesia di blokade oleh Belanda.

Hal tersebut menyebabkan terputusnya hubungan antar wilayah, termasuk hubungan antara Indonesia dengan negara-negara tetangga. Dengan adanya blokade tersebut, pemerintah Indonesia yang sejatinya memiliki kekuasaan penuh terhadap wilayah Indonesia justru mengalami tantangan berat, khususnya Angkatan Udara yang baru saja dibentuk pada 9 April 1946.

Satu-satunya cara untuk dapat menembus blokade Belanda tersebut adalah melalui udara, yakni menggunakan pesawat terbang. Sayangnya pesawat-pesawat yang dimiliki oleh Indonesia, yang merupakan pesawat peninggalan Jepang pada saat itu digunakan AURI kemampuannya terbatas karena hanya bermotor tunggal. AURI belum memiliki pesawat-pesawat terbang angkut jarak jauh pada saat itu.

Pesawat Seulawah RI-001 | Foto: Detik
Pesawat Seulawah RI-001 | Foto: Cattleya Zahrunisa/detikcom

Hal tersebut kemudian membuat Ir. Soekarno selaku Presiden pada kala itu atas dukungan dari Komodor Suryadarma Kepala Staf Angkatan Udara menggalang dana guna membeli pesawat C-47 Dakota untuk AURI. Penggalangan dana tersebut dilakukan selama satu bulan di bulan Juni 1948 saat Presiden Soekarno berkunjung ke Sumatera.

"Kebutuhan akan sarana udara tersebut sudah sangat mendesak dan harus segera terlaksana," tulis Adityawarman Suryadarma dalam buku berjudul, "Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma" yang dikutip detikcom, Kamis (8/3/2018).

Gubernur Aceh dan Gubernur Militer waktu itu, Abu Daud Beureueh dengan bersemangat menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara milik rakyat, maka dari itu merupakan kewajiban warga negaranya untuk memperjuangkan kemerdekaannya.

Pidato dari Abu Dauh Beureueh tersebut disampaikan di halaman masjid di Calang, Aceh Jaya, Aceh. Diulang kembali oleh seorang saksi sejarah, Nyak Sandang yang kini berusia 91 tahun.

Banyak sekali elemen masyarakat yang tergabung untung mengumpulkan dana untuk membeli pesawat tersebut. Kalangan pengusaha hingga masyarakat. 

Kakek Sandang masih ingat betul ketika dirinya menghadiri ceramah tersebut. Pada awal pidato, Daud mengungkapkan pertemuan Presiden Soekarno dengan dirinya di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Usai pidato, seluruh ulama di Aceh Jaya dikumpulkan. Daud Beureueh bermusyawarah dengan ulama cara mengumpulkan uang untuk membeli pesawat seperti dikutip dari detik.com.

Masyarakat terharu kala itu dengan ajakan membeli pesawat. Soalnya, sekitar tiga tahun pasca-merdeka, masyarakat berusia 18 hingga 70 tahun di Aceh Jaya baru keluar dari penjara. Mereka rata-rata menjadi tawanan Belanda karena tidak membayar pajak sebesar Rp 7,5/tahun. 

Segala lapisan masyarakat turut menyumbang demi terbelinya pesawat C-47 Dakota tersebut. Tidak terkecuali Nyak Sandang pria kelahiran Aceh, 4 Februari 91 tahun silam dan ayahnya yang pada saat itu menjual sepetak tanah yang sejatinya laku dijual sebesar Rp 200 namun karena dijual buru-buru hanya laku terjual seharga Rp 100. Uang hasil penjualan sepetak tanah tersebut diserahkan kepada yang bersangkutan untuk kepentingan membeli pesawat.

Nyak Sandang masih memiliki obligasi pemerintah sebagai bukti telah menyumbang untuk pembelian pesawat tersebut.

Obligasi pemerintah milik Nyak Sandang | Foto: kaskus.co.id
Obligasi pemerintah milik Nyak Sandang | Foto: kaskus.co.id

Surat obligasi milik Kakek Sandang pada bagian atas tertulis 'Tanda Penerima Pendaftaran'. Di bawahnya, memuat tentang matjam hutang, djumlah hutang, nama jang mendaftarkan, tempat tinggal dan uraian. Pada sudut bagian teken, terdapat tahun 1950. Di situ juga tertulis Pemimpin: Bank Negara Rakjat, bupati kabupaten dan wedana kewadaan. Tanda tangan dengan tinta polpen masih terlihat jelas, dilansir dari detik.com.

Menurut surat obligasi yang dimiliki oleh Nyak Sandang pada tahun 1950 uang mereka akan diganti dalam kurun waktu 40 tahun kemudian. Akan tetapi Nyak Sandang berujar biarlah surat obligasi yang dia miliki menjadi bukti mereka pernah membantu negara di saat mereka masih membangun fondasi negara. Berdasarkan penuturan Nyak Sandang, alasannya menyimpan obligasi pemerintah tersebut karena ayah beliau berpesan, saya harus menjaganya. Itu sebagai tanda kami berjasa kepada pemerintah dan Indonesia. Sehingga pemerintah nantinya juga melihat (jasa) kami.

“Tidak mengharapkan jika suatu hari Indonesia akan membayar. Kami tidak mengharapkan balasan karena membantu dengan ikhlas dan memiliki kebanggan tersendiri bisa ikut membantu negeri,” ujarnya dilansir dari kumparan.

Nyak Sandang dengan surat obligasi | Foto: Kumparan
Nyak Sandang dengan surat obligasi | Foto: Zuhri Noviandi / Kumparan

Pada Oktober 1948, pesawat tersebut berhasil dibeli dan diberi nama Seulawah RI-001 sebagai penghormatan untuk masyarakat Aceh yang secara ikhlas dan tulus telah memberikan sumbangan yang berharga pada situasi sulit untuk bangsa yang sedang berjuang.

Dikisahkan pula oleh Nyak Sandang setelah pesawat itu terbeli pernah sekali melintas di desa tempat Nyak Sandang Tinggal pesawat terbang menuju Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Kami semua ketika itu sangat gembira. Kami menunjuk-nunjuknya. Kami sekampung melambaikan tangan dan berkata, itu pesawat yang kami bantu beli. Itu punya kami. Sudah terbang (pesawat) kami," cetusnya sambil menebar senyum.


Sumber: Detik.com | Kaskus

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu