Uang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Karena selain digunakan sebagai alat tukar yang sah, uang juga sebagai penentu nilai suatu benda. Dahulu sebelum ada uang, orang melakukan sistem barter untuk memperoleh barang kebutuhan. Namun, sistem barter ini dinilai tidak efektif karena tidak semua orang membutuhkan barang tertentu pada saat yang sama.

Sejak ditemukannya sistem pertukaran dengan uang, Nusantara memiliki mata uang sendiri di hampir di tiap kerajaan. Dan berikut lima mata uang paling tua di Nusantara sebagaimana dikutip dari buku ‘Indonesia Poenja Tjerita : yang Unik dan Tak Terungkap dari Sejarah Indonesia’.

 

Mata Uang Syailendra

Mata uang di Indonesia mulai dicetak pada era kerajaan Mataram Syailendra pada sekitar 850-860 Masehi. Kerajaan ini berpusat di Jawa Tengah. Mata uang Syailendra dicetak dalam bentuk koin yang terdiri dari dua jenis, emas dan perak. Terdiri dari beberapa nominal seperti Masa, Atak, dan Kupang. Satuan koin terbesar adalah Masa, yang pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari 'Ta'. Sedangkan 'Ma' untuk koin Masa dari perak biasanya berdiameter 9-10 mm selain terdapat huruf Devanagari, koin ini juga memiliki pola bunga cendana.

Mata Uang Krishnala

Uang Krishnala dicetak pada era Kerajaan Jenggala (1042-1130 Masehi). Di zaman ini uang emas dan perak dicetak dengan berat standar, namun memiliki perubahan bentuk. Jika koin emas sebelumnya berbentuk kotak kini berubah menjadi bundar. Koin perak memiliki desain dan bentuk yang cembung berdiameter 13-14 mm. Saat itu, mata uang Krishnala memiliki pesaing yang beredar di masyarakat yakni uang Kepeng dari Tiongkok. Saking banyaknya uang Kepeng yang beredar, akhirnya uang Tiongkok tersebut menjadi mata uang resmi menggantikan mata uang lokal.

Mata Uang ‘Ma’

Selanjutnya adalah mata uang Ma di abad ke-12. Uang ini berbentuk koin berbahan emas dan perak dan ditemukan di situs Kota Majapahit. ‘Ma’ merupakan singkatan dari Masa ditulis dalam huruf Nagari dan Siddham dan kadangkala dalam huruf Jawa Kuno. Masih ada lagi mata uang lainnya yang berbentuk segi empat, trapesium, segitiga dan seperempat lingkaran. Dari bentuknya, uang tersebut dibuat apa adannya dan dibubuhi cap berupa gambar jambangan, tiga tangkai tumbuhan, atau kuncup bunga.

Mata Uang Gobog Wayang

Gobog Wayang adalah mata uang di Kerajaan Majapahit abad ke-13. Koin ini pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Raffles dalam bukunya ‘The History of Java’ (1817). Bentuknya bulat dengan lubang ditengahnya. Hal ini merupakan pengaruh dari koin Tiongkok atau Jepang kala itu. Gobog Wayang asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Melainkan sebagai alat untuk persembahan di kuil. Sama halnya dengan penggunaan koin dalam persembahan di kuil masyarakat Tiongkok atau Jepang.

 

Mata Uang Dirham

Terakhir ada uang Dirham yang beredar dan digunakan di Kerajaan Samudra Pasai (1297 Masehi). Bentuknya adalah emas, diperkenalkan oleh Sultan Muhammad yang berkuasa pada 1297-1326. Dirham juga sering disebut Mas dengan berat standar 0.60 gram. Bedanya, koin Dirham Samudra Pasai memiliki berat hanya 0.30 gram dengan diameter 10-11mm. Sedangkan yang setengah Mas ukurannya hanya 6 mm saja. Hampir pada koin Dirham Samudra Pasai terdapat tulisan gelar sang Sultan yakni “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.

Itu dia beberapa koin mata uang tertua di Nusantara. Indonesia memang kaya akan sejarah masa lalu dan sudah dikenal luas dalam pergaulan ekonomi internasional. Hal ini selain dapat kita lihat dari artefak peninggalan sejarah, juga bisa dilihat dari keberadaan mata uang sebagai alat pembayaran komoditas kala itu.

Sumber Referensi :

  • @Sejarah RI. 2016. Indonesia Poenja Tjerita. Yogyakarta : Bentang Pustaka

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu