Meski sudah cukup lama kabar ini berdengung, namun kita masih cukup terperanjat ketika Uber benar-benar mengumumkan akan segera meninggalkan bisnis transportasi online di seluruh Asia Tenggara, dan menjual bisnisnya di kawasan ini kepada raksasa transportasi online yang lain, yakni Grab yang berbasis di Singapura. 

Bagai durian runtuh, Grab pun seolah menjelma menjadi pemain paling utama di Asia Tenggara. Berdasarkan keterangan yang dilansir TechCrunch, Grab (hanya) mengeluarkan US$100 juta (Rp. 1.4 T) untuk membeli seluruh operasional Uber di Asia Tenggara. Angka yang tergolong  kecil mengingat nilai valuasi Grab sudah melebihi US$ 6 miliar (Rp 82,4 triliun). Terlebih, dengan nilai transaksi tersebut, Grab sudah bisa merekrut seluruh karyawan Uber di Asia Tenggara, berikut operasionalnya di lapangan.

Kita kemudian berpikir, apakah Grab akan memonopoli sektor ini di kawasan? Sebuah pertanyaan wajar, mengingat bahwa kini Grab akan mendominasi bisnis transportasi online di negara-negara Asia Tenggara, setelah Uber pergi. Di bisnis taksi (roda 4) online di Indonesia, Grab pun akan segera menjadi pemain dominan. 

Sepertinya banyak yang memiliki pemikiran yang sama seperti kita. Presiden Filipina Rodrigo Duterte buru-buru mengeluarkan statement bahwa Grab tak akan memonopoli industri transportasi online di Filipina. Melalui  Land Transportation Franchising and Regulatory Board (LTFRB), pemerintah Filipina akan memberikan ijin dengan segera untuk pembentukan perusahaan transportasi online di negara tersebut, yakni untuk "Lat Go", "Hype", dan "Owto". "Tak akan ada monopoli (di sektor transportasi online) di Filipina. Kompetisi akan menyehatkan semua pihak, terutama konsumen" kata Aileen Lizada dari LTFRB. 

CEO dan pendiri Gojek, Nadiem Makarim | profilbos.com
CEO dan pendiri Gojek, Nadiem Makarim | profilbos.com

Di waktu yang hampir bersamaan, perusahaan transportasi online Indonesia, Go-Jek,  Gojek mengumumkan siap untuk ekspansi mereka ke Asia Tenggara. Menurut memo internal Gojek yang didapatkan Reuters, pengumuman ekspansi itu akan dilakukan dalam waktu dekat, sekitar beberapa pekan ke depan.

Chief Executive Officer Gojek, Nadiem Makrim, menuliskan ekspansi layanan Gojek ke negara lain di Asia Tenggara akan dilakukan pada pertengahan tahun ini, seperti dilansir vivanews. 

Tak bisa dipungkiri, momentum pengumuman ini seolah menjadi respon Go-jek atas "menyerahnya"  Uber di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Gojek memang bukan perusahaan biasa. Dalam waktu singkat, setelah sukses dengan bisnis taxi (terutama roda 2) online, perusahaan asli Indonesia ini telah merambah bisnis lain, mulai dari pemesanan makanan, layanan-layanan lain, hingga online payment. 

Secara finansial, Gojek memang siap. Investor mereka merentang dari perusahaan lokal hingga perusahaan global, termasuk Temasek asal Singapura, Tencent asal China, dan Google asal Amerika Serikat.

Dengan rencana ekspansi ini, Gojek otomatis akan"head-to-head" dengan Grab di pasar regional. Setelah mundurnya Uber dari persaingan, otomatis hanya Grab yang leluasa menggarap pasar Asia Tenggara yang merupakan tempat hidup bagi 640 juta jiwa. Patut kita tunggu, bagaimana karya anak bangsa ini menjadi pemain regional yang ulung, dan membuka jalan bagi karya-karya anak bangsa yang lain untuk berani menantang dunia. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu