Cara Petani Mengerem Perubahan Iklim

Cara Petani Mengerem Perubahan Iklim
info gambar utama

Perubahan iklim adalah sebuah keniscayaan. Suka tak suka ia akan berdampak kepada seluruh bentuk kehidupan. Target konsensus global yang disetujui saat ini adalah menjaga agar temperatur rata-rata bumi tidak naik lebih dari 1,5 derajat Celsius. Semakin mendekati, bahkan melampaui batas ini, pola cuaca semakin tak menentu,

Walhasil, manusia pun perlu menyesuaikan diri dengan berbagai teknologi yang sifatnya adaptif. “Keluar dari zona nyaman” dan “berani ambil resiko” adalah kata kunci yang kadang sebagian dari kita belum tentu berani lakukan dan implementasikan.

Itulah sebentuk alasan mengapa kita sebagai masyarakat belum cukup maju untuk rehabilitasi lingkungan — termasuk mengerem perubahan iklim. Kita sering mendengar bahwa energi terbarukan mahal dan tak menguntungkan. Atau bahwa membakar lahan untuk pertanian lebih praktis daripada cara lain yang lebih ramah lingkungan.

Mari kita coba belajar dari para petani kecil di lahan gambut Katingan, Kalimantan Tengah. Pasca Inpres 11/2015 yang diterbitkan setelah kebakaran hutan besar 2015, mereka pun sekarang tak boleh lagi sembarang membakar lahan.

Meski di satu sisi pelarangan perlu untuk mencegah kebakaran lahan dan gambut tidak berulang, tapi di sisi lain langsung berdampak kepada para petani. Sosok aktor yang secara bergenerasi melakukan metode pembakaran lahan.

Dalam konteks alam Kalimantan, tanah yang begitu kaya dan rawan kebakaran, petani yang mendukung pertanian ramah lingkungan sangat penting untuk rehabilitasi lingkungan.

Petani dituntut untuk beradaptasi dengan teknik baru. Termasuk mencari alternatif asupan unsur hara yang biasanya diperoleh dari metode bakar yang dipakai. Pilihan penggunaan pupuk kimia juga beresiko. Selain mahal dan perlu persiapan lahan, pupuk kimia terindikasi dapat memperburuk kesehatan tanah.

Meski demikian, petani yang akan merehabilitasi tanah dengan metode pertanian organik juga mendapat tantangan, karena proses ini memakan waktu yang tak sebentar.

Sebutlah seorang Yaimin, sosok petani asal Katingan, yang berusaha bertani dengan cara yang lebih ramah lingkungan: tanpa bakar dan pupuk kimia. Dia butuh waktu setahun untuk merehabilitasi tanah yang keras dan tak menghasilkan menjadi tanah yang produktif.

Setelah mampu menghasilkan, tantangannya belum selesai. Dia kesulitan menjual sayuran hasil produksinya di pasar lokal karena sayuran organik menuntut harga yang lebih mahal. Hal itu dikarenakan prosesnya yang menuntut ketelatenan lebih.

Kan sama-sama sayur,” kutip Yaimin, mengulangi respon orang yang ia tawarkan sayurannya.

Inilah mengapa perserikatan yang solid dibutuhkan, misal dengan pembentukan kelompok tani organik atau sejenis koperasi. Proses yang panjang dan baru ini, tentu memerlukan modal yang tak sedikit.

Dengan penguatan kelembagaan, petani bisa mendapatkan modal dan bekerjasama dengan para petani lainnya. Terlebih jika upaya itu diperkuat dengan kredit mikro. Kelompok tani pun digadang bisa menjadi jaring pengaman untuk petani yang bergerak untuk pertanian berkelanjutan.

Dalam kasus Yaimin, dia dan kawan-kawannya berkumpul dalam lokakarya agroekologi yang didukung oleh PT Rimba Makmur Utama, sebuah perusahaan pemegang konsesi Restorasi Ekosistem, menyusun strategi berbagi sumberdaya dan saling menjaga.

Terdapat anggota kelompok yang siap berbagi kotoran hewan, ada yang siap menyediakan air kelapa, dan sebagainya. Dalam perserikatan antar anggota kelompok, mereka siap bertukar berbagai keperluan pertanian. Tujuannya agar bisa berhemat.

Mereka juga bisa menghadapi pasar dengan lebih tangguh. Di perkumpulan ini, sudah dibentuk tim yang merencanakan cara-cara promosi dan mengambil resiko bisnis. Ada kelompok yang memberi sayuran gratis pada para calon konsumen sebagai bagian bentuk promosi. Semuanya berbagi tugas, dan mengetahui mengetahui alur kerja di dalam kelompok.

Pertanian dengan berbagai dampaknya, -termasuk menyumbang sepertiga emisi karbon-, tak mungkin dihentikan. Metode pertanian inovatif dan keteknikan baru perlu diari untuk memperhatikan keberlanjutan lingkungan yang akan membawa kesejahteraan bagi manusia.

“Keluar dari zona nyaman”, perlu disikapi sebagai upaya serius untuk mencegah bencana kerusakan yang lebih cepat.Kelompok petani semacam ini, tak hanya menyejahterakan petani, namun pada akhirnya juga akan turut mendukung usaha-usaha perbaikan lingkungan.

Ditulis oleh: Raisa Rifat, penulis adalah mahasiswa, relawan, dan penulis di IndonesianYouth.org. Ia sedang belajar menjadi aktivis lingkungan hidup. Tulisan ini adalah opini pribadi.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini