Indonesia sempat dijuluki sebagai negara lumbung padi, namun kini Indonesia merupakan negara yang begitu ketergantungan dengan impor beras. Sumber masalah memang begitu beragam, namun ini hal mengindikasikan Indonesia masih belum berdaulat dalam hal pangan. Berbagai inovasi pun dilakukan, salah satunya adalah dengan mempermudah permodalan pertanian dengan konteks kekinian yang menggunakan wadah (platform) digital seperti yang dilakukan oleh Tanijoy.

Tanijoy merupakan sebuah perusahaan rintisan digital yang berangkat dari keprihatinan terhadap kesejahteraan petani yang kurang diperhatikan. Masalah utamanya adalah, sebagian besar petani kerap tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat tidak mampu untuk bertani karena kekurangan modal. "Pilihan mereka hanyalah meminjam ke tetangga atau ke tengkulak dengan syarat yang memberatkan seperti harus menjual hasilnya dengan harga yang ditentukan tengkulak," kata CEO Tanijoy, Muhammad Nanda Putra pada GNFI.

Berdasarkan masalah itu, Nanda Tanijoy berusaha untuk memberi solusi berupa akses permodalan yang dibantu oleh investor yang berasal dari masyarakat menengah ke atas dan tertarik berinvestasi pada industri pertanian. "Kami juga membantu petani mencarikan akses pasar yang lebih baik," jelasnya.

Saat ditanya tentang alasan fundamental mengapa memilih agrikultur sebagai objek, padahal saat ini industri agrikultur terus terhimpit dengan semakin menyempitnya lahan pertanian di Indonesia. Tanijoy pun memiliki alasan yang cukup sederhana. Menurut Nanda, "Selama manusia masih membutuhkan pangan untuk hidup, menurut kami bidang Agrikultur tidak akan pernah mati. Memang tantangannya saat ini terjadi alih fungsi lahan tapi di sisi lain masih ada 14 juta ha lahan potensial yang belum terberdayakan, dan membangkitkan lahan tidur tersebut juga salah satu misi Tanijoy."

Selain masalah penyempitan lahan, Tanijoy rupanya juga telah memperhatikan maslaah tentang regenerasi petani di Indonesia yang juga tengah meredup. Cara yang ditempuh Tanijoy untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan melibatkan anak-anak muda. "Dengan memberdayakan anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian sebagai Field Manager yang nantinya akan menjadi agripreneur muda serta membuktikan bahwa bertani itu keren dan menguntungkan," jelas Nanda. 

Menurut Nanda, kedua masalah di atas (penyempitan lahan dan regenerasi petani), sepertinya memang menjadi perhatian utama yang ingin diselesaikan oleh Tanijoy melalui akses permodalan. Namun menurut mereka, akses permodalan hanyalah tahap awal untuk memperkuat hubungan kepada komunitas petani. "Selanjutnya akan berkembang ke pelatihan, pemberdayaan, pemasaran hingga digitalisasi pertanian. Dengan banyaknya permasalahan yang terjadi di pertanian Indonesia ini, kolaborasi sangat diperlukan. Baik dengan pemerintah, pelaku startup dan korporat," ungkapnya.

Ia pun berharap Indonesia pada tahun 2045, Indonesia akan menjadi negara yang maju dalam teknologi. Pertanian di masa itu, menurut Nanda akan mampu mensejahterakan para petani sehingga akan menarik perhatian petani-petani muda untuk memulai usaha di bidang pertanian. 

Sementara dari segi teknologi, Tanijoy menjelaskan bahwa pihaknya telah mengembangkan sebuah sistem digital yang akan membantu para petani mengelola lahan. "Farming Management System (FMS), melalui ini kami juga memberikan pelatihan agar petani dapat membuat keputusan berdasarkan data lapangan yang didapat dan juga memberikan laporan kepada penanam modal," kata Nanda. 

Melalui sistem tersebut, Tanijoy akan mampu bekerja secara digital layaknya perusahaan rintisan digital lainnya di Indonesia. Sistem inilah yang kemudian diunggulkan oleh Tanijoy dalam setiap kesempatan. Salah satunya adalah saat diikutkan dalan kompetisi Ytech yang berlansung sejak awal tahun 2018 ini. Dalam kompetisi tersebut, akan ada startup terbaik yang akan terpilih untuk bisa mendapatkan pembinaan dan akses investor di kiblat ekonomi digital dunia, Silicon Valley, California di Amerika Serikat. 

Bila Tanijoy mampu menjadi yang terbaik dalam Ytech, Nanda berharap dirinya bersama tim akan bisa belajar sebanyak-banyaknya dari para ahli startup, bisnis dan teknologi agrikultur dunia."Apabila kami mendapatkan investor, tentunya akan kami pergunakan untuk mengembangkan produk dan mengakuisi lebih banyak petani dan pemodal proyek," harapnya. 

Tanijoy sendiri adalah sebuah wadah digital yang menghimpun pemodal dari berbagai pihak untuk pertanian. Cara kerjanya adalah dengan pengumpulan modal yang nantinya diberikan pada projek tani yang dikerjakan oleh para mitra petani. Dari aktifitas projek pertanian ini nantinya akan mendapatkan keuntungan yang bakal dibagikan lagi ke pada para pemodal. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu