Sekolah Bajo: Melestarikan Kebudayaan Butuh Pendidikan

Sekolah Bajo: Melestarikan Kebudayaan Butuh Pendidikan
info gambar utama

Siapa yang tidak mengenal masyarakat yang hidup dipesisir atau bahkan di tengah laut dengan rumah panggung yang sederhana nan kokoh. Merekalah Suku Bajo yang hidup dan dihidupi oleh laut bersama segala bentuk kearifan yang mereka miliki. Telah banyak orang yang telah mengenal kehidupan dan mata pencaharian masyarakat laut ini sebagai pelut berpengalaman, serta telah banyak juga yang kagum dengan budaya mereka yang berciri kearifan maritim nusantara. Namun satu hal penting yang kadang terabaikan bahwa masyarakat Suku Bajo juga mempunyai generasi muda yang tidak lain anak bangsa dan butuh ilmu pengetahuan di bangku sekolah.

Sulawesi Tenggara tepatnya di Desa Bungin Permai Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan, berdiri sebuah sekolah kokoh untuk anak-anak bajo. Sekolah itu yakni SD dan SMP Negeri Satap 19 Konawe Selatan namanya. SD dan SMP ini berdiri berdampingan dengan rumah panggung warga Suku Bajo lainnya. Sama halnya dengan rumah warga di sekitarnya, SD dan SMP terapung ini membentuk sekolah panggung yang bersahaja dengan berlantaikan rentetan papan dan tiang yang menancap jauh ke dalam dasar laut.

Terlepas dari segala kekurangan dan kesulitan yang mereka hadapi bukan menjadi halangan dan hambatan bagi mereka tetap menjalankan rutinitas sekolah seperti sekolah lain pada umumnya. Hari senin yang cerah terlebih dahulu mereka melaksanakan upacara bendera di atas pasir yang menampakkan sebagian permukaannya dikala air laut surut. Upacara yang mereka laksanakan menunjukan bahwa nasionalisme sejati ada di hati sanubari matiara-mutiara muda suku bajo. Anak-anak bangsa dari bajo ini tetap semangat dan tegar dalam menjalankan segala rutinitas sekolah, karena bagi mereka sekolah itu tidak harus megah tetapi yang terpenting dapat menjadi tempat segudang ilmu pengetahuan dan kegiatan positif yang bermanfaat untuk masa depan.

Begitu pula dengan guru-guru yang mengemban tugas mulia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka lahir dari masyarakat sehingga mereka juga tahu apa yang sangat diperlukan untuk anak-anak masyarakat. Bagi mereka mengajar dan mengabdi di tempat yang terpencil dan segala keterbatas merupakan semangat yang terus mendorong mereka melaksanakan panggilan tuhan yang mulia. Ya, karena guru bukan sekedar pekerjaan tetapi juaga dorongan naluri.

SD dan SMP Negeri Satap 19 Konawe Selatan dikepalai oleh Pak Sanusi dengan beberapa tenaga pengajar. Guru di sekolah terapung ini sudah ada yang PNS dan masih ada beberapa yang besetatus sebagai honorer. Kondisi sekolah saat ini tentunya sudah lebih baik dibandingkan pada awal didirikan. Sudah tersedia beberapa ruang kelas bagi lebih dari ratusan anak-anak bajo yang mau mencari ilmu pengetahuan. Meskipun begitu jika dibandingan dengan sekolah-sekolah lain tentunya masih sangat jauh berbeda. Memasuki sekolah panggung ini dengan melihat kondisi ruang kelas, kantor, perpustakaan, dan kondisi bangunan terlihat memprihatinkan. Terletak ditempat yang terpencil membuat mereka agar sekolah ini diperhatikan dan diberi bantuan seperti perbaikan gedung, alat komputer, buku bacaan diperpustakaan dan lainnya.

Mengatasi masalah ini membutuhkan perhatian pemerintah terhadap seluruh sekolah-sekolah bajo di Nusantara. Masalah yang paling mendasar adalah masalah sarana prasarana dan suplay tenaga pendidik yang memadai. Dari guru yang berkualitas mereka dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang baik dan tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap pengetahuan yang mereka miliki dan apa yang perlu dikembangkan dari kebudayaan mereka. Selain itu mereka pula butuh buku bacaan agar mampu melihat dunia, mereka butuh meja dan bangku yang layak agar mereka belajar yang nyaman. Saat ini pemerintah telah gencar-gencarnya mendemonstrasi pelaksanaan kurikulum 2013 dan ujian nasional berbasis komputer, jangan sampai mereka beranggapan bahwa hanya sekolah di daratan saja yang merasakan manfaatnya kurikulum 2013 dan hanya sekolah yang di daratan yang merasakan ujian berbasis komputer. Jangan biarkan ini terjadi.

Semangat mereka dalam mengamalkan ilmu dan menuntut ilmu pula di tengah keterbatasan menjadi kabar yang sangat baik dan patut menjadi inspirasi bagi segenap guru maupun pelajar di Nusantara. Ini juga menunjukan bahwa antara kebudayaan dan pendidikan tidak akan terpisahkan dan sama besar kegigihannya dalam membangun negeri tercinta.


Sumber:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini