Berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, laut selatan Jawa diyakini masih menyimpan “misteri” yang belum terungkap. Terutama, keanekaragaman biota laut. Potensi ini yang coba diungkap oleh peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Dwi Listyo Rahayu bersama puluhan peneliti lainnya dalam sebuah ekspedisi bertajuk The South Java Deep Sea Biodiversity Expedition (SJADES) 2018 di laut dalam selatan Jawa.

Dwi mengungkapkan, ekspedisi yang berlangsung dua pekan itu banyak menemukan spesies unik, berbeda dari yang pernah terlihat sebelumnya. Mereka ditemukan di kedalaman bervariasi antara 200-2.000 meter di bawah permukaan laut. Temuan itu di antaranya bintang laut bunga daisy (Xyloplax), teripang laut berenang (Pelagothuria), isopoda raksasa (Bathynomus sp), lobster gergaji (Thaumastochelidae), cumi bermata juling (Histieuthidae), gurita dumbo (Opisthoteuthidae), dan berbagai spesies unik lain.

Namun, dari sejumlah spesies yang ditemukan, isopoda atau kutu raksasa dari famili Cirolanidae yang berukuran 30 sentimeter, diakui Dwi, paling menarik perhatian. Ini dikarenakan isopoda yang baru ditemukan pada kedalaman 800 meter tersebut berpotensi menjadi spesies baru.

“Selama ini kita ketahui bersama, isopoda raksasa jenis itu baru hanya ada dua spesies di dunia. Spesies yang ditemukan di Laut Jawa ini kemungkinan besar akan menjadi spesies baru, berdasarkan perbedaan taksonomi morfologinya,” ungkap Dwi kepada Mongabay Indonesia, Senin (9/4/2018).

Cumi bermata juling (Histieuthidae) | Foto: SJADES 2018
Cumi bermata juling (Histieuthidae) | Foto: SJADES 2018

Selain isopoda raksasa, spesies lain yang menarik dan berpeluang besar menjadi spesies baru adalah kelomang laut dalam yang ditemukan di kedalaman 200 meter. Dwi menuturkan, kelomang atau hermit crab tersebut memiliki ciri menonjol dari spesies lainnya, yaitu tinggal di karang soliter yang biasanya berasosiasi dengan cacing sipunculidae. Sementara kelomang pada umumnya, tinggal di cangkang moluska dan hidup di perairan yang mudah terkena sinar matahari.

“Perbedaan lainnya adalah kelomang laut dalam memiliki mata yang kecil, karena dia tidak membutuhkan mata untuk melihat. Jenis ini hanya menggunakan indra peraba untuk berjalan dan mencari mangsa.”

Gurita dumbo (Opisthoteuthidae) | Foto: SJADES 2018
Gurita dumbo (Opisthoteuthidae) | Foto: SJADES 2018

Menurutnya, proses evolusi memegang peran besar bagi makhluk hidup yang ditemukan di laut dalam. Mereka telah melalui proses evolusi panjang hingga dapat beradaptasi dengan lingkungannya. “Meski begitu, kami juga tetap ingin mengetahui lebih lanjut potensi apa saja yang bisa dieksplorasi dari spesies-spesies unik itu,” ujarnya.

Hermit crab atau kelomang laut dalam yang ditemukan tim peneliti. Berpotensi menjadi spesies baru. Foto: SJADES 2018
Hermit crab atau kelomang laut dalam yang ditemukan tim peneliti. Berpotensi menjadi spesies baru. Foto: SJADES 2018

Minim eksplorasi

Dwi yang juga mewakili Indonesia sebagai ketua peneliti dalam ekspedisi tersebut mengatakan, Indonesia masih minim eksplorasi pada sisi keanekaragaman jenis biota laut dalam. Untuk di laut selatan Pulau Jawa katanya, hingga saat ini belum begitu banyak data komprehensif. Sementara penelitian dengan fokus geologi dan oseanografi sudah cukup banyak.

Karena itu, ekspedisi yang dilakukan ini fokus pada pengumpulan beragam biota laut di kedalaman 200 – 2.000 meter dari 63 stasiun riset yang terbentang dari Selat Sunda hingga Cilacap, Jawa Tengah. Biota laut dalam yang cenderung sulit didapatkan adalah Crustacea (kepiting dan udang), Mollusca (kerang), Porifera (spons laut), Cnidaria (ubur-ubur), Polychaeta(cacing), Echinodermata (bintang laut dan bulu babi), dan berbagai jenis ikan.

“Ekspedisi di laut selatan Jawa dilakukan terakhir pada 1919 dan 1952. Dengan adanya ekspedisi tahun ini, kami berharap hasilnya dapat menjadi baseline data terpadu yang bisa dimanfaatkan untuk penelitian lebih luas dan mendalam. Di samping itu juga, meningkatkan minat peneliti-peneliti lain untuk mulai mengeksplorasi keanekaragaman jenis biota laut dalam di selatan Jawa,” terangnya.

Isopoda raksasa (Bathynomus) famili Cirolanidae pada kedalaman 800 meter. Kemungkinan besar menjadi spesies ketiga di dunia | Foto: SJADES 2018
Isopoda raksasa (Bathynomus) famili Cirolanidae pada kedalaman 800 meter. Kemungkinan besar menjadi spesies ketiga di dunia | Foto: SJADES 2018

Sampah di laut dalam

Tak dipungkiri, keberadaan sampah di laut kian mengkhawatirkan. Buktinya nyata ada di Samudra Pasifik, yang kemudian dikenal dengan sebutan The Great Pacific Garbage Patch. Luasnya tak tanggung-tanggung, hampir 1,6 juta kilometer persegi. Selain itu, Ocean Conservancy juga melaporkan, sekitar 95 persen sampah justru terendam di bawah permukaan.

Hal itu juga yang kemudian ditemui para peneliti selama ekspedisi berlangsung. Dwi mengatakan, para peneliti menemukan kumpulan sampah plastik di laut selatan Pelabuhan Ratu pada kedalaman 1.156 meter. Sampah-sampah plastik itu terbawa naik bersama jaring (trawl) yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan biota di dasar laut.

“Setidaknya setiap kami mengangkat trawl, ada sampah plastik yang terbawa. Paling banyak ditemukan di selatan sekitar Pelabuhan Ratu. Sekali naik, kami bisa dapatkan sedikitnya satu baki, berukuran lima liter,” katanya.

Lobster gergaji (Thaumastochelidae) ditemukan dikedalaman 500 meter | Foto: SJADES 2018
Lobster gergaji (Thaumastochelidae) ditemukan dikedalaman 500 meter | Foto: SJADES 2018

Dwi berpendapat, sampah-sampah itu terbawa arus hingga ke dasar kemudian berkumpul di cekungan dasar laut. Meski ekspedisi itu tidak memfokuskan sampah, namun Dwi berharap temuan itu dapat segera ditindaklanjuti dan menjadi perhatian bersama. Mengingat, sampah tidak lagi ditemukan di permukaan, melainkan di dasar laut dalam juga.

“Sampah di dalam laut itu lebih berbahaya dari yang ada di permukaan, karena dapat menjadi mikroplastik yang dapat mencelakai biota bawah air. Lebih parah lagi, dapat merusak tatanan ekosistem yang ada,” pungkas Dwi.

Teripang berenang (Pelagothuria sp) famili Pelagothuridae. Foto: SJADES 2018
Teripang berenang (Pelagothuria sp) famili Pelagothuridae. Foto: SJADES 2018

Dilansir dari laman resmi LIPI, para peneliti memulai Ekspedisi Biodiversitas Laut Dalam Selatan Jawa 2018 pada Jumat (23/3/2018) malam menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Pelayaran diawali dari Selat Sunda, kemudian memasuki kawasan terbuka Samudera Hindia. Sedikitnya 30 peneliti dan staf pendukung dari Indonesia dan Singapura tergabung dalam ekspedisi tersebut. Ekspedisi yang dilakukan LIPI bersama National University Singapore ini merupakan eksplorasi biologi laut dalam yang pertama kali dilakukan di bagian laut Indonesia yang sebagian besar belum dijelajahi, khususnya di perairan Jawa.

Sampah yang ditemukan di kedalaman 1.156 meter di sekitar Pelabuhan Ratu | Foto: Dwi Listyo Rahayu/ LIPI
Sampah yang ditemukan di kedalaman 1.156 meter di sekitar Pelabuhan Ratu | Foto: Dwi Listyo Rahayu/ LIPI

Ekspedisi terpadu ini dibagi dalam dua kegiatan besar. Pertama, kegiatan di atas kapal yang meliputi pengambilan sampelpenanganan sampel, hingga kompilasi data. Kedua, pasca-ekspedisi yang meliputi penanganan lanjutan sampel, penyusunan laporan sementara, dan workshop. Studi tentang sampel ini diperkirakan memakan waktu cukup lama. LIPI berencana, hasilnya akan dipublikasikan dan didiskusikan dengan dunia pada lokakarya khusus yang akan diadakan di Indonesia pada 2020.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu