Pemandian Morano, begitu nama wisata alam ini biasa disebut warga. Ia terletak di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Desa Sumbersari, Kecamatan Moramo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pemandian itu berasal dari air terjun Moramo. Air terjun bak tertata, berundak-undak mengalir menawan setinggi 100-an meter, menyempurnakan keindahan mata memandang.

Menuju ke Tanjung Peropa, sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Kendari, ibukota Sulteng. Kala menuju tempat ini, mata akan dimanjakan keindahan alam baik pepohonan hutan maupun lautan Teluk Kendari. Rumah-rumah di perkampungan Suku Bajo, pemandangan tak kalah menarik.

Kala saya datang ke sini, banyak warga berkunjung menikmati keindahan air terjun dan hutan nan asri. Mereka tampak riang gembira menadahkan kepala di bawah kucuran air yang jatuh. Melompat dari batu tempat air jatuh setinggi satu meter pun mereka lakukan.

Indri, seorang wisatawan mengatakan, air terjun Moramo salah satu lokasi favorit berwisata karena masih alami.

”Jarak relatif dekat dengan Kota Kendari. Saya juga bisa belajar bagaimana tanaman endemik Sultra masih terjaga,” katanya.

Senada dengan Indri, Saifulla pengunjung lain, mengatakan, bersama keluarga merasa cocok ke Moramo karena bisa menikmati air terjun dan mendapatkan suasana asri di keliling hutan.

“Suasana tenang. Tidak bisa didapat kalau di kota,” kata warga Kendari ini.

Pepohonan di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Desa Sumbersari, Kecamatan Moramo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia
Pepohonan di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Desa Sumbersari, Kecamatan Moramo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia

Keduanya menyayangkan fasilitas penunjang di Moramo minim, seperti balai peristirahatan, kamar mandi, maupun tempat sampah.

”Pemerintah setempat harusnya memberi perhatian. Sayang, tempat begini bagus tapi tidak ditunjang fasilitas memadai,” katanya.

Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, memang salah satu destinasi pengembangan pariwisata Pemerintah Konawe Selatan. Data dari website Pesona Indonesia, bersumber Dinas Pariwisata Konawe Selatan, menyebutkan, undakan air lebih dari tujuh dan 60 undakan kecil dengan beberapa berupa kolam kecil untuk pemandian ataupun berenang.

Asal air terjun dari Sungai Biskori, berhulu di Pegunungan Tambolosu, sebelah utara Tanjung Peropa. Selain obyek wisata, air terjun juga dimanfaatkan masyarakat sebagai pengairan sawah.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara, menyebutkan, Tanjung Peropa sebagai suaka margastwa setelah melalui beragam perubahan surat keputusan mulai dari keputusan Gubernur Sultra, Menteri Kehutanan, dan Menteri Pertanian pada 1986, atau 32 tahun lalu.

Latar belakang penunjukan, katanya, karena hutan Tajung Peropa merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropika. Kawasan yang berbatasan dengan Teluk Kendari di sebelah utara, sebelah Timur dengan Selat Wawonii, Selatan dengan Selat Buton dan sebelah Barat dengan Kecamatan Moramo ini seluas 38.937 hektar.

Air terjun Morano, di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia
Air terjun Morano, di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia

Pusat penelitian dan terancam

Selain berwisata menikmati keindahan alam di Tanjung Peropa, juga jadi pusat penelitian sumber alam dan lingkungan. Data Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, mengatakan, ada 60 jenis flora dan fauna di kasawan ini, baik endemik Sulawesi Tenggara maupun yang sering ditemui di hutan-hutan tropis lain di Indoensia.

Walhi Sulawesi Tenggara menyatakan, kawasan ini perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dengan habitat jenis tumbuhan dan sat­wa liar dilindungi seperti anoa, rusa, monyet hitam Sulawesi, kuskus. Sedikitnya, teridentifikasi ada 34 jenis burung hidup di sini.

“Tak hanya flora dan founa, Tanjung Peropa juga memiliki fungsi pokok menjaga mutu kehidupan manusia yakni wilayah perlindungan, sistem penyangga kehidupan serta pengawetan keanekaragaman,” kata Kisran Makati, Direktur Eksekutif Walhi Sultra.

Walhi mencatat, wilayah ini jadi penyang­ga kehidupan, pengatur tata air bagi wilayah Tanjung Peropa dan sekitar. Mata air dari kawasan itu mengalirkan air ke sungai mulai dari Ulusena, Maretumbo, Rodaroda, Lambangi, Langgapulu serta Laonti dan tempat bergantung sekitar 13 desa di wilayah sekitar.

Pemandian Morano, terletak di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Desa Sumbersari, Kecamatan Moramo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia
Pemandian Morano, terletak di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Desa Sumbersari, Kecamatan Moramo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia

Ancaman

Kawasan jadi obyek wisata bisa potensi juga ancaman. Satu masalah, masyarakat tak paham penting menjaga kemurnian alam. Ia terlihat dari beberapa pepohonan dilukis nama pengunjung dan sampah terbuang sembarangan.

Saya melihat sampah berserakan di jalan masuk menuju lokasi air terjun. Sebenarnya sudah ada pembuangan samoah, namun sudah buruk dan kurang terjaga. Kala hujan turun, membawa volume air besar, bisa membawa sampah hingga ke hilir.

Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Tropis Faperta UHO mengatakan, sampah di sana sekitar lima kilogram setiap pekan. Kala saya ke sana, mahasiswa itu sedang membersihkan sampah.

“Kami melihat ini (sampah) mengancam kehidupan ekosistem kawasan. Kita tidak tahu, jangan sampai jadi makanan hewan-hewan dalam suaka margasatwa,” katanya.

Sambil mengangkat sampah dan memasukkan ke plastik sampah, Hamidin menyatakan kekhawatiran kala aksi buang sampah terus terjadi.

Air terjun Morano, yang jadi salah satu favorit tujuan wisata warga Sultra | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia
Air terjun Morano, yang jadi salah satu favorit tujuan wisata warga Sultra | Foto: Kamarudin / Mongabay Indonesia


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu