Mengenal Satwa Beracun yang Hidup di Alam Raya Indonesia

Mengenal Satwa Beracun yang Hidup di Alam Raya Indonesia

Lipan © Sumber: YouTube

Alam Raya Indonesia merupakan nama lokasi penangkaran berbagai satwa beracun. Tepatnya di Desa Sikeben, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Di sini ada tarantula, lipan, dan jenis lainnya yang ditempatkan aman dalam kandang.

Dedi Arfianto, pengelola Alam Raya Indonesia, kepada Mongabay mengatakan, tujuan sebenarnya penangkaran ini adalah untuk mengenalkan ke pelajar dan masyarakat luas akan hewan berbisa yang ada di Indonesia.

“Selama ini, sebagian besar pelajar kurang paham, seperti apa bahayanya binatang berbisa bagi manusia dan bagaimana mengatasinya jika terkena gigitan. Semua itu, kami sampaikan dalam edukasi di Alam Raya Indonesia,” jelasnya.

Menurut Dedi, ada pertanyaan dari para pelajar yang sering dilontarkan misalnya kalau ketemu kelabang bagaimana? Pastinya, jangan dipegang karena bisanya berbahaya. Begitu juga tarantula yang harus dihindari. Juga, larangan memperjualbelikan binatang apa saja untuk dijadikan peliharaan, karena hidup satwa itu di alam.

“Itu sebabnya, jumlah binatang berbisa yang ditangkarkan di sini tidak banyak. Hanya contoh saja sebagai bahan pembelajaran, agar dikenali secara umum.”

arantula di lokasi penangkaran Alam Raya Indonesia di Desa Sikeben, Sibolangit | Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia
Tarantula di lokasi penangkaran Alam Raya Indonesia di Desa Sikeben, Sibolangit | Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia

Di Alam Raya Indonesia, ada beberapa jenis tarantuna yang ditangkarkan. AdaRufus Javan Tiger atau Moss Spider yang bercirikan hitam kecoklatan. Selain itu, ada juga lipan dan kumbang. Menurut Dedi, dengan mengetahui karakter satwa, jika kita melihatnya bisa menghindar, bukan membunuh.

“Bagi kami niatnya cuma satu, memberikan penyadartahuan kepada generasi penerus banga. Indonesia kayanya flora dan fauna dan kita harus berbagi ruang hidup dengan mereka,” tuturnya.

Kumbang di penangkaran Alam Raya Indonesia di Desa Sikeben, Sibolangit | Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia
Kumbang di penangkaran Alam Raya Indonesia di Desa Sikeben, Sibolangit | Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia

Sementara itu, drh. Sari W. Fitrisna, peneliti dari Forum Investigator Zoo Indonesia, mengatakanlipan atauScolopendra giganteaadalah jenis metameric(memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya) berbisa dan merupakan hewanarthropoda. Ia masuk dalam golongan kelas Chilopoda dan keluarga Scolopendridae.

Menurutnya, dari berbagai penelitian, hewan ini memiliki racun bernamaSsm Spooky Toxin, yang jika terkena oleh lawan atau mangsanya termaksud manusia yang terkena gigitannya, bisa menyebabkan terjadinya gangguan pembuluh darah. Juga pernafasan, otot, dan sistem saraf. Ini akan fatal, bisa berujung pada kematian jika tidak segera mendapat pertolongan cepat.

“Jadi jika kita terkena gigitan lipan, racunnya mengaliri darah, bisa mengakibatkan tertahannya aliran darah ke jantung. Menyebabkan terjadinya gagal jantung yang berujung kematian. Binatang ini sangat unik, walau terlihat cantik dengan kaki-kakinya, namun mematikan jika mengenai racunnya, ” jelas Sari, Rabu (4/4/2018), saat diwawancarai Mongabay.

Lipan, binatang yang memiliki racun mematikan. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia
Lipan, binatang yang memiliki racun mematikan | Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia

Dia menyatakan, edukasi soal lipan dan binatang berbisa lainnya perlu dilakukan, selain bisa diantisipasi soal racunnya, juga bisa diawasi pengambilannya di alam dalam jumlah banyak. Biasanya untuk ekspor. Jika tidak ada pengawasan, maka binatang ini lambat laun akan berkurang di alam liar.

Sesuai Pasal 42 jo 63 jo 64 PP 8/1999, Pasal 11 jo Pasal 61 atau Pasal 63, SK Menhut 447/2003, penegak hukum lingkungan hidup dan kehutanan bisa melakukan penyitaan dan penindakan hukum. “Ini ditujukan bagi para pelaku yang tidak memenuhi standar dalam perdagangan lipan ini di alam,” jelasnya.


Sumber: Diposting dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga11%
Pilih SedihSedih7%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi15%
Pilih TerpukauTerpukau48%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Manfaatkan Potensi Daerah, Bandara di Blora Bakal akan Kembali Diaktifkan Sebelummnya

Manfaatkan Potensi Daerah, Bandara di Blora Bakal akan Kembali Diaktifkan

"Tanpanya,  Mungkin Saya Jadi Penjual Es di Tebet" Selanjutnya

"Tanpanya, Mungkin Saya Jadi Penjual Es di Tebet"

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.