Flores Itu Bukan Hanya Pulau Komodo dan Danau Kelimutu

Flores Itu Bukan Hanya Pulau Komodo dan Danau Kelimutu

Jalan menuju pelabuhan dari desa Riung © Foto: Satya Winnie

Potensi wisata bahari di Indonesia saat ini memang terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal tersebut, karena sumber daya laut kelautan dan perikanan di Indonesia terhitung banyak dibandingkan dengan negara lain. Ditambah, Indonesia adalah negara kepulauan yang posisinya sangat strategis.

Salah satu yang sedang giat mengembangkan diri, adalah kepulauan Flores di Nusa Tenggara Timur. Pulau yang terkenal karena eksotika pemandangan alamnya itu, dalam beberapa tahun ini terus menggenjot sektor pariwisatanya. Terutama, di sekitar kawasan Pulau Komodo dan Danau Kelimutu.

Hal tersebut diakui oleh Deputi Menteri untuk Pemasaran Wisatawan Nusantara, Kementerian Pariwisata Indonesia (Kemenpar) Esthy Reko Astuty. Menurut dia, gairah pariwisata di Flores saat ini begitu tinggi, hingga memicu munculnya berbagai fasilitas pendukung.

“Itu positif. Karena magnet pariwisata itu akan memicu pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur juga di sekitarnya,” ungkap dia kepada Mongabay, Februari 2016 lalu.

Dia menjelaskan, selain potensi Pulau Komodo dan Danau Kelimutu yang popularitasnya sudah menjangkau ke seluruh dunia, potensi pariwisata di Flores juga masih sangat banyak. Termasuk, di kawasan daratan pulau.

Komodo | Foto: Riza Marlon
Komodo | Foto: Riza Marlon

“Ini yang dikembangkan oleh Indecon. Mereka mengembangkan pariwisata di Pulau Flores dengan menggandeng masyarakat sebagai pilar utamanya. Ini bagus, karena berarti tetap mempertahankan kearifan lokalnya,” sebut dia menyinggung program yang dibuat Yayasan Ekowisata Indonesia (Indecon) tersebut.

Program tersebut, kata Esthy, melibatkan Uni Eropa dalam pelaksanaannya. Perihal pemilihan Flores sebagai proyek tersebut, dia mengungkapkan bahwa itu dilakukan karena Flores memiliki keunikan dan memiliki komunitas masyarakat yang bisa dikembangkan untuk menjadi paket pariwisata.

“Ini bukan program Kemenpar. Tapi, kami berkomitmen untuk mendukungnya. Karena, memang kalau melibatkan masyarakat, itu bisa mengentaskan kemiskinan. Jadi, tidak hanya mengembangkan sisi ekonominya saja,” papar dia.

Sementara itu Direktur Indecon Ary S Suhandi mengatakan, pengembangan pariwisata di Flores saat ini menggunakan pendekatan ekowisata. Dengan demikian, diharapkan setiap program apapun bisa tetap menjaga ekosistem ataupun kelestarian lingkungan sekitar.

“Ini sudah menjadi komitmen kami sejak diluncurkan pada 2013 program ini di Flores,” ujar dia.

Adapun, kawasan yang dikembangkan sebagai ekowisata, adalah Liang Ndara, Cunca Wulang, Tado Waerebo, dan Jerebu’u. Kemudian, ada juga Labuan Bajo dan Bajawa. Semua itu, ada di Pulau Flores.

Gugusan 17 Pulau

Selain fokus mengembangkan ekowisata di daratan Flores, Indecon juga sedang bersiap mengembangkan gugusan pulau di Flores yang terletak di Kabupaten Ngada. Gugusan pulau yang jumlahnya terdiri dari 17 pulau itu terletak di Kecamatan Riung dan saat ini dikenal sebagai surga terbaru untuk wisata bahari di Flores.

Pemandangan indah di salah satu pulau di Taman Laut 17 pulau riung, Ngada, Flores | Foto : Indonesia Travel
Pemandangan indah di salah satu pulau di Taman Laut 17 pulau riung, Ngada, Flores | Foto : Indonesia Travel

Ary S Suhandi mengatakan, untuk pengembangan 17 pulau di Riung, hingga saat ini prosesnya masih dalam tahap pembicaraan dengan Pemerintah Kabupaten Ngada. Menurutnya, pengembangan tersebut harus sejalan dengan rencana yang sudah ada sebelumnya.

“Memang, yang meminta langsung kepada kami itu adalah Pemerintah Kabupaten-nya. Mereka meminta kami untuk menggarap 17 Pulau di Riung, karena mereka tahu kami berhasil mengembangkan ekowisata di Flores,” tutur dia.

Namun menurut Ary, walau ada permintaan langsung, dia masih belum berani memutuskan untuk mengembangkan langsung gugusan pulau-pulau tersebut. Tetapi, dia memilih untuk melakukan negosiasi mendalam dengan Pemkab Ngada terkait rencana pengembangan tersebut.

“Kami ingin pengembangan kita searah dengan rencana Kabupaten. Jika itu berbeda, sia-sia apa yang kami lakukan. Makanya, kita selalu masuk ke Pemerintah Daerah dulu. Dimana Anda prioritasnya, baru kemudian kami berjalan disana,” sebut dia.

Jika pun nanti mulai dikembangkan, Ary berjanji akan kembali membuat konsep ekowisata untuk 17 pulau di Riung. Tetapi, dia belum memastikan apakah akan melibatkan kembali masyarakat seperti yang sudah dilakukannya sekarang di Flores daratan.

“Melibatkan masyarakat itu manfaatnya banyak. Selain untuk menjaga lingkungan sekitar, juga untuk membantu perekonomian warga, dan juga untuk mengembangkan pariwisata. Intinya, masyarakat disiapkan juga supaya menjadi sadar pariwisata,” tandas dia.

Pemandangan indah di salah satu pulau di Taman Laut 17 pulau riung, Ngada, Flores | Foto : Indonesia Travel
Pemandangan indah di salah satu pulau di Taman Laut 17 pulau riung, Ngada, Flores | Foto : Indonesia Travel

Untuk diketahui, gugusan 17 Pulau Riung adalah taman laut yang terdiri dari pulau kecil dan besar yang memanjang dari Toro Padang di sebelah barat hingga Pulau Pangsar di sebelah timur. Diperlukan usaha yang keras untuk bisa mencapai gugusan pulau tersebut. Karena, wisatawan harus melewati rute terjal dan berliku melewati bukit-bukit di sekitarnya.

Adapun, 17 pulau tersebut secara administrasi masuk ke dalam lima wilayah desa di Kecamatan Riung. Yakni, Desa Sambinasi, Nangamese, Benteng Tengah, Tadho, dan Lengkosambi. Ke-17 pulau tersebut adalah Pulau Ontoloe, Pau, Borong, Dua, Kolong, Lainjawa, Besar, Halima, Patta, Rutong, Meja, Rampa, Tiga, Tembaga, Taor, Sui, dan Wire.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi15%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Berkenalan Dengan Suku Sasak dari Dusun Sade Yuk! Sebelummnya

Berkenalan Dengan Suku Sasak dari Dusun Sade Yuk!

Mitos Larangan Mengonsumsi Ikan Lele di Lamongan Selanjutnya

Mitos Larangan Mengonsumsi Ikan Lele di Lamongan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.