Berawal Dari Penelitian Hingga Menjadi Perusahaan

Berawal Dari Penelitian Hingga Menjadi Perusahaan

Ilustrasi lubang biopori © Sumber: Rumah Pantura

Satria Pinandita (27) lulusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang ini awalnya melakukan penelitian mengenai potensi energi tanah merah bersama dua rekannya semasa duduk di bangku perkuliahan sekitar 2011 lalu dan terus mengembangkannya untuk menghasilkan energi terbarukan.

Penelitian yang digarapnya bersama dua rekannya tersebut meraih Juara Favorit Electrical Innovation Award 2013 Tingkat Nasional di Kota Semarang.

Satria Pinandita tidak berhenti disitu saja, ia terpacu untuk memikirkan bagaimana hasil penelitian tersebut bisa diaplikasikan dalam suatu bentuk produk. Terlebih lagi, tanah merah terbukti memiliki cukup banyak energi listrik dibandingkan tanah lainnya. Setidaknya ada sekitar 27 kandungan logam yang ada di dalam tanah merah. Di antara itu, ada 5 kandungan cukup tingggi; sekitar 47 persen kandungan alumunium, 18,5 persen kalsium, 14,5 persen mangan, dan 6,5 persen magnesium.

Dari sinilah awal terbentuknya Lampu Taman Biopori Smart Light; Renewable Energy. Berawal dari energi tanah merah (Etam) tersebut, Satria mengajak rekannya untuk bergabung membuat produk energi terbarukan dan tentunya bisa bermanfaat bagi masyarakat secara lebih meluas.

Satria Pinandita (27) dan Nunung Eni Elawati (25) memperlihatkan prototipe Lampu Taman Biopori Smart Energy yang berhasil diciptakan sebagai energi terbarukan ramah lingkungan
Satria Pinandita (27) dan Nunung Eni Elawati (25) memperlihatkan prototipe Lampu Taman Biopori Smart Energy yang berhasil diciptakan sebagai energi terbarukan ramah lingkungan | Sumber: Tribunjateng

Ia mengajak Nunung Eni Elawati (25) untuk menggabungkan dua bidang ilmu yang mereka tekuni untuk mewujudkan mimpi Satria tersebut. Mereka kemudian menggabungkan ilmu teknik elektro yang dimiliki Satria dengan ilmu biologi yang dimiliki oleh Nunung.

Dari perpaduan kedua ilmu tersebut, mereka meraih Juara III Lomba Krenova Tingkat Kota Semarang pada 2016 silam.

Tak berhenti di situ, tandasnya, dia bersama Nunung bersyukur pada 2017 lalu, hasil produk inovatif energi ramah lingkungan tersebut lolos dalam seleksi Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kategori Umum Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

“Produk startup tersebut kini didanai oleh Pemerintah Pusat dan kami sedang mulai mempersiapkan untuk pendirian perusahaan serta produksi massal. Perusahaan kami namai PT Esa Eco Energi dan inkubator unit bisnisnya yakni Inkubator Kreasi dan Inovasi Telematika Semarang (Ikitas),” bebernya.

“Sesuai bentuk serta nama produk startup kami, selain sebagai karya inovatif energi terbarukan ramah lingkungan, yang coba disosialisasikan adalah dari sisi keindahan (estetika),” ucap Nunung, lulusan Magister Biologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu.

Dia meyakini, ada cukup banyak manfaat yang diperoleh ketika pihak tertentu menggunakan Lampu Taman Biopori Smart Energy tersebut.

Secara khusus, pungkas warga asal Pekalongan itu, lampu taman itu tak perlu menggunakan listrik. Energi listrik yang diperoleh justru berkebalikan dengan produk solar cell yang berasal dari sinar ultra violet. Produk tersebut justru dari air tanah.

“Energi bakal dihasilkan ketika hujan dan otomatis menyala saat lingkungan sudah gelap. Seandainya tidak ada hujan, cukup seperti layaknya menyirami tanaman. Kunci utamanya adalah tanah harus basah dan lembab pada elektroda yang tertanam di dalam biopori,” ungkapnya.

Satria membeberkan, isi yang terdapat pada elektroda tersebut adalah tanah merah yang telah dikeringkan terlebih dahulu kemudian ditumbuk hingga halus. Dari situ lalu dibuat ukuran 60 mesh. Setelah itu semua siap, tanah dibungkus ke kain spunbond.

“Di sinilah dalam pembuatan elektroda. Di antara tanah tersebut, diselipkan seng dan tembaga yang sebelumnya juga telah disolder atau terangkai dengan kabel. Posisinya harus ada celah agar bisa menghasilkan ion sebagai penghantarnya,” terangnya.

Setelah itu, elektroda itu dirangkai seri. Jumlahnya ada sekitar 14 elektroda dalam satu paralon biopori. Di bagian atas paralon biopori, terpasang juga paralon untuk menempatkan baterai dan di bagian paling atas (ujung) untuk lampu.

“Secara otomatis sensor akan menyala saat gelap atau malam hari. Tinggi produk total sekitar 1 meter. Paralon yang ditanam ke tanah sekitar 60 sentimeter. Dan paralon biopori tersebut sengaja diberi lubang-lubang kecil agar air yang masuk mudah meresap. Jika kebanyakan air, tidak bisa charging,” kata warga Kota Semarang itu.

Satu produk dipasarkan dengan harga 350 ribu rupiah. Dalam proses produksinya pun para ibu rumah tangga dilibatkan khususnya dalam pembuatan elektroda. Produk tersebut sudah berhasil dipasarkan hingga Padang Sumatera Barat dan Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB).


Sumber: Tribunjateng

Pilih BanggaBangga73%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi13%
Pilih TerpukauTerpukau4%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bisa Produktif di Masa Muda Sebelummnya

Bisa Produktif di Masa Muda

Inilah Penyebab Udara Dingin di Pulau Jawa Akhir-Akhir Ini Selanjutnya

Inilah Penyebab Udara Dingin di Pulau Jawa Akhir-Akhir Ini

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.