Semakin mendunia, UNESCO Akui Dua Geopark Indonesia

Semakin mendunia,  UNESCO Akui Dua Geopark Indonesia
info gambar utama

Dewan Eksekutif UNESCO baru saja menganugerahkan status UNESCO Global Geoparks pada 13 geopark di dunia. Ada 2 dari Indonesia. Setiap tahun, Dewan Geoparks Global UNESCO yang berada langsung di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) rutin menerima kiriman aplikasi geopark dari sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia.
Untuk tahun ini, Dewan Geoparks Global UNESCO yang didukung langsung oleh Dewan Eksekutif UNESCO baru saja mengakui 13 geopark baru untuk periode 2018-2021. Predikat itu pun baru saja disahkan oleh Dewan Eksekutif UNESCO pada 17 April 2018 lalu.

Indonesia pun boleh berbangga. Dua geopark Indonesia masuk dalam 13 geopark yang menyandang status UNESCO Global Geoparks, yakni Geopark Rinjani (Lombok) dan Geopark Ciletuh (Sukabumi)

Geopark Rinjani

Gunung Rinjani sebagai icon Pulau Lombok yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD) yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (Ripparnas), telah resmi menjadi Geopark Nasional sejak tahun 2013. Geopark Rinjani dengan 48 Geositenya merupakan salah satu Geosite terbanyak di dunia.

Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh-Palabuhanratu memiliki luas 126.100 Ha atau 1.261 km2. Meliputi 74 desa, di delapan kecamatan yaitu Kecamatan Ciracap, Surade, Ciemas, Waluran, Simpenan, Palabuhanratu, Cikakak, dan Cisolok, yang terbagi dalam tiga geoarea yaitu: Geoarea Ciletuh, Geoarea Simpenan, dan Geoarea Cisolok. Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhan ratu juga meliputi Kawasan Cagar Alam Cibanteng, Tangkubanparahu, Sukawayana; Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh; dan Taman Wisata Alam Sukawayana, dikelola Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat; kawasan latihan terpadu militer dikelola KOSTRAD; Kawasan konservasi Penyu di Pangumbahan; dan kawasan latihan angkatan udara di Tanjung Ujunggenteng; kawasan budidaya tambak udang di Mandrajaya dan Ujunggenteng serta kampung batik di Purwasedar

Geoarea Ciletuh memiliki bentang alam berupa dataran tinggi yang berbentuk tapal kuda (amphiteater) yang terbuka ke arah Teluk Ciletuh (Martodjojo, 1984). Bentuk amfiteater ini memiliki diameter lebih dari 15 km, sehingga di yakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia. Di bagian tengah amfiteater terdapat sebaran batuan tertua di Jawa barat yang berupa batuan bancuh dan ofiolit hasil pengendapan dari aktivitas tumbukan antara kerak samudera dan kerak benua pada Zaman Kapur, lebih dari 65 juta tahun lalu.

Pengakuan tersebut menambah daftar UNESCO Global Geoparks di Indonesia, dari yang sebelumnya 2 menjadi 4. Sebelumnya, Geopark Batur (Bali) dan Geopark Gunung Sewu (Jawa Tengah) sudah terlebih dulu menyandang status tersebut. Bertambahnya pengakuan ini semakin memperkuat eksistensi pariwisata Indonesia di mata dunia.


Sumber: detik travel

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini