Ayo Dukung! Dua Mahasiswi UNPAR Sudah Di Tahap Akhir Pendakian Puncak Everest

Ayo Dukung! Dua Mahasiswi UNPAR Sudah Di Tahap Akhir Pendakian Puncak Everest

© dok. WISSEMU Mahitala UNPAR

Perjuangan dua perempuan Indonesia pertama untuk memuncaki tujuh gunung puncak dunia mencapai tahap akhir. Sejak berangkat dari Tanah Air pada 29 Maret yang lalu, Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda) dan tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition (WISSEMU) Mahitala - Unpar kini telah berada di Pos Everest Base Camp (EBC) Tibet di ketinggian 5.150 mdpl. Pos ini merupakan pos terakhir setelah serangkaian aklimatisasi -adaptasi ketinggian- yang dilakukan keduanya.

Berdasarkan rilis yang diterima GNFI (4/5), Deedee dan Hilda sebelum melakukan misi memuncaki Everest keduanya harus melakukan aklimatisasi hingga ketinggian 7.000 mdpl. Ketinggian ini menjadi penting karena kadar oksigen di ketinggian tersebut hanya sepertiga dibandingkan kadar oksigen di ketinggian normal. Aklimatisasi tersebut dilakukan pada 26 April yang lalu dari pos EBC menuju Intermediate Camp (IR) di ketinggian 5.800 mdpl. Sehari kemudian keduanya berangkat menuju Advance Base Camp (ABC) di ketinggian 6.400, perjalanan ini membutuhkan waktu 7 jam dan bermalam selama tiga hari.

Jalur utara yang dilalui untuk menuju pos ABC bukanlah hal yang mudah karena harus melalui sungai Es Morain dengan balok-balok es besar di sisi-sisi jalur pendakian. Selama proses aklimatisasi tersebut Deedee dan Hilda harus menembus suhu -11 celsius. Di pos ini pula keduanya harus bermalam selama 3 hari.

Setelah itu, Deedee dan Hilda harus mulai beradaptasi dengan ketinggian 7.020 mdpl di pos North Col yang dilakukan pada tanggal 1 Mei 2018. Titik ini adalah titik tertinggi yang pernah diraih oleh kedua pendaki. Karena sebelumnya dari enam puncak yang pernah mereka daki, gunung tertinggi yakni Aconcagua "hanya" setinggi 6.962 mdpl.

North Col sendiri merupakan tempat yang tidak kalah ekstrim. Lokasi ini merupakan punggung tebing es sebelum menuju puncak Everest yang terkenal sangat berbahaya. Dari titik ini, para pendaki harus melewati jurang es dengan tangga dan tali dengan kemiringan 60 derajat dengan suhu mencapai -19 celsius. Deedee harus menginap di sekitar lokasi ini di Camp 1 yang berada di ketinggian 7.030 mdpl.

Keesokan harinya, kedua perempuan mahasiswi tersebut harus melanjutkan ke ketinggian 7.400 mdpl. Ketinggian ini adalah separuh jalan menuju Camp 2 menuju puncak Everest. Dan pada 2 Mei Deedee dan Hilda kembali turun ke titik pos ABC dalam rangkaian akhir aklimatisasi. Kemudian dilanjutkan dari pos ABC menuju pos EBC di ketinggian 5.150 mdpl pada 3 Mei.

"Puji Tuhan, sekarang kita udah sampe di Everest Base Camp udah bisa ngasih kabar-kabar lagi. Semua proses aklimatisasinya berjalan lancar. Walau sempat kena cuaca buruk tapi Puji Tuhan semua anggota tim sehat semua. Gak nyangka sekarang sudah pernah sampai ke ketinggian 7.000an," ujar Hilda lewat sambungan telepon satelit.

Keberhasilan Deedee dan Hilda kembali ke pos EBC sudah merupakan prestasi yang menakjubkan. Karena proses aklimatisasi yang mencapai 1 minggu tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Meski begitu, proses ini sangat bermanfaat untuk kedua srikandi sebelum kemudian melanjutkan misinya untuk menuju puncak Himalaya di Everest.

Rencananya, misi memuncak Everest sendiri akan dilakukan pada 20 Mei mendatang. Pertimbangan dan persiapan yang dilakukan tidak sedikit. Karena tim WISSEMU harus mempersiapkan logistik, pemeriksaan kondisi tubuh, dan juga memperkirakan cuaca. Ini adalah ekspedisi yang penuh resiko oleh karena itu membutuhkan banyak dukungan.

Dedee dan Hilda sendiri bertolak dari Tanah Air sejak Kamis, 29 Maret yang lalu. Keduanya bersama tim WISSEMU menuju Nepal untuk melanjutkan misi Seven Summits atau memuncaki tujuh puncak dunia. Tim WISSEMU sejauh ini telah berhasil pada 6 puncak dunia yakni Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) yang mewakili Lempeng Australasia pada 13 Agustus 2014, Gunung Elbrus (5.642 mdpl) yang mewakili Lempeng Eropa pada 15 Mei 2015, Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) yang mewakili Lempeng Afrika pada 24 Mei2015, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) yang mewakili Benua Amerika Selatan pada 30 Januar 2016,dan Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl) yang mewakili Lempeng Antartika pada 5 Januari 2017.

Puncak Everest merupakan puncak pamungkas dari seluruh puncak dunia tersebut. Bila keduanya berhasil ini akan menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Sebab keduanya adalah perempuan pertama yang berhasil menyelesaikan misi Seven Summits dan akan masuk dalam daftar Seven Summiters dunia. Hal ini tidak akan bisa terwujud tanpa adanya dukungan masyarakat Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai sponsor utama.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tim Asal ITB Ini Wakili Indonesia dalam Ajang Risk Intelligence Challenge Tingkat ASEAN 2018 Sebelummnya

Tim Asal ITB Ini Wakili Indonesia dalam Ajang Risk Intelligence Challenge Tingkat ASEAN 2018

Manfaatkan Hasil Penelitiannya Dengan Baik, Bambang Hero Saharjo Dianugerahi John Maddox Prize 2019 Selanjutnya

Manfaatkan Hasil Penelitiannya Dengan Baik, Bambang Hero Saharjo Dianugerahi John Maddox Prize 2019

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://bagusramadhan.id

Seorang copywriter dan penulis konten yang berusaha menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.