Menyambut Potensi Ribuan Triliun Rupiah dari Ekonomi Digital di Indonesia

Menyambut Potensi Ribuan Triliun Rupiah dari Ekonomi Digital di Indonesia
info gambar utama
Ekonomi digital merupakan ekonomi yang diprediksi akan mampu berkontribusi besar pada banyak negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Dengan Indonesia saat ini telah memiliki empat startup berstatus unicorn, Indonesia diharapkan akan terus bisa bersaing di tingkat internasional dan banyak menghasilkan ekonomi baru. Sehingga diharapkan Produk Domestik Bruto Indonesia akan meningkat pesat. Lalu berapakah besarkah sumbangan ekonomi digital pada PDB Indonesia di masa depan?

Berdasarkan prediksi Unlocking Indonesia's Digital Opportunity yang dirilis oleh McKinsey, disebutkan bahwa Indonesia akan mendapatkan kontribusi sebesar Rp 2.000 triliun dari ekonomi digital di tahun 2025. Angka tersebut setara dengan kurang lebih US$ 150 milyar yang akan berkontribusi sebesar 10% pada PDB.

Dalam penelitian tersebut, McKinsey melakukan penelitian dan analisis terhadap 20 pasar/negara terpilih di dunia. Negara berkembang yang dijadikan sampel antara lain Brazil, Tiongkok, India, Rusia, serta negara tetangga di Asean, yakni Thailand, Malaysia, dan Filipina. Sedangkan negara maju dan sudah matang secara eokomi yang disurvei di antaranya Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat.

Hal yang mendasari prediksi potensi besar itu adalah, pertumbuhan pengguna internet Indonesia yang pesat. Saat ini pengguna Internet di Indonesia sendiri telah mencapai 130 juta orang. Sementara yang aktif setiap harinya mencapai 124 juta orang. Dari sekian banyak orang Indonesia yang menggunakan internet sebanyak 39% nya mengonsumsi data sebesar 8,5 mbps dan meningkat menjadi 11 mbps.

Namun Kaushik Das dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa Indonesia masih perlu banyak melakukan pengembangan. Utamanya dalam hal adopsi teknologi terbaru dibidang digital. Menurutnya, Indonesia masih memiliki jalan yang panjang untuk memasuki era digital. Sebab dunia kini tengah menuju era revolusi industri keempat yang didorong oleh empat jenis teknologi.

Teknologi tersebut adalah mobile internet yang bergantung pada semakin berkembang dan menyebarnya gawai. Kemudian teknologi penyimpanan data atau komputasi awan alias cloud. Selanjutnya adalah konektifitas perangkat elektronika dengan internet atau disebut dengan internet of things (IoT). Dan yang terakhir adalah analisis data besar atau big data. Keempat hal inilah yang akan mendominasi perkembangan teknologi internet di masa mendatang.

Indonesia sendiri bukan tanpa usaha untuk merespon perubahan era. Beberapa waktu lalu Kementerian Perindustrian meluncurkan program untuk menyambut revolusi industri keempat, yakni program Making Indonesia 4.0. Dalam program tersebut Kemenperin menetapkan 10 kebijakan prioritas nasional dan juga lim sektor industri yang menjadi perhatian utama.

Lima sektor industri yang menjadi perhatian utama antara lain adalah sektor makanan dan minuman; tekstil dan busana; otomotif; elektronik; dan kimia. Kelima industri tersebut dinilai menjadi industri yang memiliki kemudahaan pelaksanaan modernisasi dan memiliki dampak paling besar dalam perekonomian Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini