Lukisan Orangutan di Jalan-jalan Menjadi Ikon Baru Kota Ini

Lukisan Orangutan di Jalan-jalan Menjadi Ikon Baru Kota Ini

Sempat dicuri, kini becak tersebut dipasang kembali © Sumber: Pojok Sumut

Portuguese street artist Vhils chisels an orangutan’s face on the side of a building at the Majestik traffic circle area in Medan in March. (Courtesy of Sumatran Orangutan Society/Skaiste)

Seniman asal Portugal Vhils memahat sebuah wajah orangutan di satu sisi sebuah bangunan yang terletak di sebuah bundaran di Medan | Sumber: Sumatran Orangutan Society/Skaiste

Lukisan orangutan yang terdapat di jalanan di kota Medan kini menjadi ikon kota Medan, Sumatra Utara. Dimana di provinsi tersebut kera terlangka di dunia, Pongo tapanuliensis hidup dan jumlahnya semakin menyusut.

Ilmuwan menyebutkan hanya sekitar 800 orangutan Tapanuli saja yang masih terdapat di alam liar.

Lokasi dari lukisan tersebut berada di beberapa titik di Medan, termasuk bundaran SIB di Jl. Gatot Subroto, Jl. Perdana, dan Jl. Sisingamangaraja.

Panut Hadisiswoyo dari Pusat Informasi Orangutan menyebutkan bahwa street art orangutan telah menjadi ikon sebagaimana meningkatnya jumlah wisatawan yang berfoto atau mengambil foto dari street art orangutan tersebut.

Ia menambahkan bahwa ia tidak pernah menyangka bahwa street art tersebut akan memberikan dampak positif bagi pariwisata Medan. Hasil karya tersebut dibuat untuk merayakan spesies ketiga orangutan dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai orangutan.

Dikutip dari Jakata Post, "Tujuan utama kami adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan orangutan, khususnya orangutan Tapanuli, yang mana habitatnya terus dijamah oleh manusia," ungkap Panut.

Sejauh ini para ilmuwan telah membukukan tiga spesies orangutan: Tapanuli, Sumatra, dan Borneo.

Dari segi fisik, orangutan Tapanuli memiliki ciri yang mirip dengan orangutan Borneo. Bulu berwarna kayu manis yang lebih keriting dibanding orangutan Sumatra. Orangutan Tapanuli juga memiliki "kumis" yang lebih tampak, menurut penemuan yang dirilis di jurnal Current Biology.

Menurut para ilmuwan, ketiga jenis orangutan tersebut sesungguhnya berasal dari keturunan yang sama tapi mulai terpisah menjadi spesies berbeda sekitar 3,4 juta tahun yang lalu.

Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga36%
Pilih SedihSedih14%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi7%
Pilih TerpukauTerpukau29%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ratusan Mahasiswa di Seluruh Dunia Dapat Kesempatan Gratis Gali Ilmu di Markas Apple, Salah Satunya Dari Indonesia! Sebelummnya

Ratusan Mahasiswa di Seluruh Dunia Dapat Kesempatan Gratis Gali Ilmu di Markas Apple, Salah Satunya Dari Indonesia!

Indonesia akan Gelar Formula 1 di Mandalika. Siapkah? Selanjutnya

Indonesia akan Gelar Formula 1 di Mandalika. Siapkah?

0 Komentar

Beri Komentar