Indonesia untuk Citarum Harum

Indonesia untuk Citarum Harum
info gambar utama

Apa yang terbesit di benak kita ketika mendengar kata “Citarum”? Keindahan sungainya? Aliran sungai terpanjang dan terbesar yang membentang di Jawa Barat? Keindahan objek wisata Situ Cisanti yang menjadi hulu sungainya? Atau, justru bayangan menyedihkanlah yang hinggap di benak kita? Aliran sungai yang hitam pekat, sampah yang mampat dan berbau busuk, hingga tebaran limbah pabrik yang merusak kelestarian? Sayangnya, beberapa citra kelam tersebut bisa dibilang mendominasi pandangan masyarakat tentang Citarum saat ini. Betapa tidak, aliran sungai yang dahulu bersih dan bening, kini berganti rupa menjadi sungai yang sangat tercemar.

Padahal jika kita renungkan, seharusnya masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian Citarum. Telah menjadi mafhum bersama bahwa Citarum merupakan salah satu sungai terpenting di Indonesia. Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Tatar Pasundan. Dengan panjang mencapai 300 kilometer, jutaan orang mengandalkan Sungai Citarum untuk memenuhi hajat hidupnya. Sungai yang mengaliri 12 wilayah administrasi kabupaten/kota itu juga menjadi sumber pasokan air minum bagi sebagaian masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Tak kurang dari 420.000 hektar wilayah pertanian di Jawa Barat juga bergantung pada sungai tersebut. Selain itu, potensi sebesar 20% GDP (Gross Domestic Product) terkandung di sepanjang aliran Sungai Citarum.

Terlepas dari segala potensi dan faedah yang dikandung Citarum, pada 2007, Citarum sempat dinobatkan sebagai sungai yang paling tercemar. Sejumlah media asing pun turut mengulas profil Citarum sebagai sungai paling tercemar. Sungguh ironis memang. Kurangnya pengetahuan masyarakat atas pentingnya menjaga kelestarian sungai menjadi salah satu faktor yang tak dapat kita nafikan, di samping sejumlah pabrik yang berdiri di titik-titik tertentu sepanjang aliran Sungai Citarum yang tidak melakukan pengelolaan limbah sesuai aturan. Bagi masyarakat sekitar daerah aliran sungai (DAS), mereka hanya tahu bagaimana caranya memanfaatkan sungai tanpa merasa perlu untuk mencari tahu dan mempraktikkan seperti apa perilaku yang ideal sehingga Citarum dapat tetap lestari.

Tapi, tak perlu kita terus-menerus meratapi keadaan. Kabar baik bagi kita semua, Pemerintah akhirnya turun tangan untuk membentuk tim pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum. Fungsi dan amanat tim ini diperkuat oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Menristekdikti Republik Indonesia, Mohammad Nasir, juga menaruh perhatian terhadap kondisi ini. Dalam kaitannya dengan tanggung jawab serta fungsi Kemenristekdikti, M. Nasir menegaskan bahwa upaya normalisasi Sungai Citarum mesti menjadi perhatian seluruh elemen Perguruan Tinggi di Indonesia. Hal ini karena Perguruan Tinggi merupakan rumah bagi para peneliti dan akademisi yang memiliki banyak informasi serta solusi yang berguna bagi masyarakat. Oleh sebab itu, Perguruan Tinggi harus peka terhadap tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu langkah Kemenristekdikti untuk berkontribusi dalam upaya kembali mengharumkan Citarum, Kemenristekdikti menggelar sebuah kompetisi menulis bersama Penerbit Bitread. Kompetisi menulis tersebut bertajuk “Writingthon Dikti”. Dalam kompetisi ini, elemen-elemen Perguruan Tinggi ditantang untuk memberikan sumbangsih ide maupun gagasan untuk kembali mengharumkan Citarum.

Writingthon Dikti : Indonesia Untuk Citarum Harum
info gambar

Dari sejumlah rilis yang beredar di media online maupun cetak, kompetisi ini dibuka pada 2 Mei 2018, para peserta dapat mengirimkan tulisannya melalui laman https://bitread.id/writingthondikti. Pengiriman tulisan ditutup pada 30 Mei 2018. Informasi lebih lanjut tertera pada laman tersebut. Uniknya, para pemenang yang nanti akan diumumkan pada 11 Juni 2018, akan diundang untuk mengikuti karantina selama tiga hari di Jakarta, dan bersama-sama menyusun buku tentang Citarum Harum. Jadi, tak hanya mendapat hadiah karena memenangi lomba, para pemenang pun akan bersama menyusun buku tentang Citarum Harum. Menurut sejumlah informasi dari media yang menyiarkan berita tersebut, buku yang nanti akan diterbitkan berjudul Indonesia untuk Citarum Harum. Rencananya buku tersebut akan diluncurkan pada 10 Agustus 2018 dalam momentum Hakteknas.

Informasi-informasi tersebut merupakan kabar baik bagi kita semua. Kini, Citarum semakin diperhatikan. Sungai yang telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya tersebut memang sepantasnya mendapat perhatian serius dari kita semua. Melalui langkah Pemerintah dengan Program Citarum Harum, dan digelarnya kompetisi menulis untuk menghimpun segala ide dan gagasan tentang Citarum Harum oleh Kemenristekdiki, kesadaran masyarakat akan semakin terbuka, bahwa kelestarian Citarum merupakan tanggung jawab kita. Jika kita tak peduli terhadap Citarum, maka akan seperti apa kehidupan kita kelak jika Citarum semakin rusak dan tercemar. Maka, mari kita sambut kabar baik ini, sukseskan Program Citarum Harum dan tunjukkan kepedulian kita—bagaimanapun caranya—dengan tindakan nyata untuk kembali mengharumkan Citarum.

Sumber :

https://bitread.id/blog/2018/05/writingthon-dikti--indonesia-untuk-citarum-harum

https://regional.kompas.com/read/2018/05/04/23202561/m-nasir-perguruan-tinggi-harus-peka.

https://news.detik.com/jawabarat/4003613/cari-solusi-citarum-harum-kemenristekdikti-gelar-lomba-menulis

https://nasional.sindonews.com/read/1302913/144/menteri-nasir-tantang-akademsi-tulis-ide-tentang-penyelamatan-citarum-1525397966

https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/05/03/punya-ide-untuk-citarum-harum-ayo-ikut-kompetisi-writingthon-kemenristekdikti

https://jabaronline.com/nasional/kemenristekdikti-ayo-ikuti-kompetisi-writingthon-bersama-penerbit-

bitread/https://kilasbogor.com/ragam/lewat-buku-kemenristekdikti-ingi-wujudkan-citarum-harus/

https://mediatataruang.com/citarum-harum-kemenristekdikti-bithread-publishing-gelar-kompetisi-writingthon-dikti/

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini