Beberapa waktu lalu (8/5) Community Meet Up and Creative Workshop berhasil menghadirkan salah satu food photographer terkenal Indonesia yakni Inijie. Lelaki bernama lengkap Jie W. Kusumo ini merupakan salah seorang anak bangsa yang aktif di dunia food photography. Ko Jie, panggilan akrabnya, memiliki banyak followers setia di akun Instagram sebanyak 85 ribu.

Acara yang bertempat di Buro Bar & Bites Surabaya tersebut mendatangkan Inijie sebagai salah satu pembicara untuk membagi pengalaman dan strategi jitunya dalam memotret makanan hingga mampu membuat pengikutnya di jejaring sosial tergiur.

Inijie yang berhasil ditemui seusai berlangsungnya talkshow sempat berbicara banyak hal mengenai keberadaan food photography. Baginya food photography sebagai sebuah bidang tidak hanya melulu berbicara soal profesi. Food photography dapat diartikan lebih luas sebagai bentuk kecintaan dan kesukaan terhadap makanan yang bisa diekspresikan melalui media fotografi.

Inijie Saat Hendak Mempraktikkan Cara Mengambil Potret Makanan yang Baik
Inijie Saat Hendak Mempraktikkan Cara Mengambil Potret Makanan yang Baik

Lelaki yang mengaku terinspirasi dari Pak Bondan (alm) dengan slogan Mak Nyus-nya tersebut berpendapat bahwa food photography tidak hanya berupaya membuat orang lain tergiur dengan apa yang ditonjolkan dalam gambar yang ada, melainkan food photography juga mampu merepresentasikan kepribadian seseorang melalui potret yang tersaji. Anggap saja dalam sebuah foto terdapat gambar makanan yang disajikan dengan earphone beserta tulisan 'i can't life without music', yang mampu mengarahkan orang tersebut sebagai pribadi dengan kesukaan luar biasa terhadap musik.

Inijie, begitu ia dikenal, memulai karirnya dalam dunia food photography di tahun 2008. Di era tersebut ia merupakan food blogger kedua di Indonesia yang berasal dari Surabaya.

“Kalau kita mulai dari tahun 2008 pas aku mulai food photography, dulu tuh aku jadi food blogger kedua di Indonesia. Pas itu kita mau mulai tuh bener-bener susah, mau nanya-nanya nggak ada temen, bahkan jangankan nanya-nanya, kita liputan di restoran itu pun dimarahi,” ujarnya.

Selain harus menerima kritik pedas saat mengambil beberapa foto makanan, Inijie juga sempat disangka hendak menjadi kompetitor dari restoran tempat makanan tersebut dihidangkan. Di kondisi yang demikian, Inijie sering harus memutar otak guna tetap bisa melanjutkan pengambilan gambar dari makanan-makanan yang ada.

Keadaan tersebut baginya berbanding terbalik dengan food photography di Indonesia saat ini. Menurutnya food photography saat ini sudah menjadi bidang yang diminati banyak orang, sekian orang sudah mulai masuk dan bergelut di bidang ini tanpa ada hambatan yang berarti seperti yang pernah ia alami dulu. Artinya telah ada peningkatan yang signifikan terhadap keberadaan food photography di mata masyarakat Indonesia.

Dari yang sebelumnya dicemooh kini food photography bisa hadir sebagai sebuah lahan profesi yang menjanjikan. Hadirnya workshop fotografi di berbagai kesempatan turut memberikan wadah yang juga memudahkan food photographer dan foodies untuk belajar serta mengetahui banyak hal lebih dalam.

Meskipun hingga hari ini belum begitu ada kesempatan bagi food photography Indonesia untuk menyajikan identitas mereka secara langsung, namun Inijie berharap kedepannya selalu ada kemungkinan, khususnya untuk Inijie sendiri, dalam bertemu dan bergabung dengan food photography Indonesia. Ia pun turut ingin mengadakan kegiatan layaknya konferensi yang mengajak seluruh food photographer dan foodies di seluruh Indonesia.

Selain itu ia juga berharap agar profesi food photographer di Indonesia semakin dihargai. Tidak hanya dicap sebagai tukang foto makanan, melainkan food photography dapat dinikmati sebagai sebuah bidang yang menjanjikan karena, menurutnya, food photography membutuhkan skill dan investasi yang tidak mudah.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu