Kampus-kampus Terbaik Indonesia, Bisa Jadi Takkan Lagi Hanya di Jawa

Kampus-kampus Terbaik Indonesia, Bisa Jadi Takkan Lagi Hanya di Jawa

ilustrasi Kampus © wallpaperHD.com

Perlu kita akui, bahwa kampus-kampus terbaik di Indonesia saat ini 'masih' berada di Pulau Jawa. GNFI pernah merilis daftar "50 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia" 2016 lalu, dan di 20 besar, didominasi oleh kampus-kampus di Jawa. Hanya ada 3 di Sumatera, dan 1 di Bali, itupun tak masuk 10 besar.

1. Institut Teknologi Bandung

2 Universitas Gadjah Mada

3 Universitas Indonesia

4 Universitas Sebelas Maret

5 Universitas Padjadjaran

6 Universitas Pendidikan Indonesia

7 Universitas Diponegoro

8 Universitas Negeri Yogyakarta

9 Universitas Brawijaya

10 Universitas Airlangga

11 Universitas Gunadarma

12 Institut Pertanian Bogor

13 Universitas Mercu Buana

14 Universitas Bina Nusantara

15 Universitas Sumatera Utara

16 Universitas Udayana

17 Universitas Riau

18 Universitas Lampung

19 Institut Teknologi Sepuluh Nopember

20 Universitas Negeri Semarang

Kita sering membayangkan, bagaimana agar kampus-kampus terbaik di Indonesia ini bisa tersebar merata di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Lampung, Pontianak hingga Balikpapan, Makassar hingga Manado, Ternate hingga Morotai, Mataram hingga Kupang, dan dari Sorong hingga Merauke.

Tidak akan mudah membangun kampus-kampus baru, mendidik pengajar-pengajar berstandar tinggi, dan ditempatkan di wilayah-wilayah di seluruh Indonesia. Selain mungkin akan memakan waktu lama, sementara kita tak bisa lagi menunggu dan tertinggal dibanding negara lain, cara ini tentu akan memakan biaya besar, dan rentan tidak sustain, terutama menyangkut operasional jangka panjangnya.

Jaringan Backbone fiber optik Indonesia. 81.831 km!
Jaringan Backbone fiber optik Indonesia. 81.831 km!

Sekedar ide, mungkin inilah jawaban dari persoalan-persoalan tersebut. Tahun 2016 ini, dunia telekomunikasi Indonesia akan mencetak sejarah, yakni terbangunnya jaringan backbone fiber optik dari Sabang-Merauke sepanjang 81.831 km! Dua kali panjang keliling bumi! Dalam Broadband Plan Indonesia (BPI) ada 71% wilayah perkotaan yang mendapat layanan internet supercepat, dengan kecepatan 20 Mbps. Untuk wilayah pedesaan, 49% rumah tangga di pedesaan menikmati layanan broadband dengan kecepatan 10 Mbps.

Bayangkan seperti ini.

Kelas-kelas di ITB, UI, UNAIR, UGM, atau kampus-kampus terbaik lain, akan terhubung dengan sistem real-time video. Di sisi lain, para mahasiswa di mana pun, bisa berkumpul di ruangan-ruangan yang yang dilengkapi sistem yang sama, bisa saja difasilitasi pemerintah, kampus lokal, atau pihak swasta. Kedua pihak, pengajar dan mahasiswa, sudah terhubung dengan internet kecepatan tinggi. Saat para pengajar mengajar di Jakarta, Bandung, jogja atau Surabaya, ilmunya tak hanya bisa 'dinikmati' di ruang-ruang kelas di mana dosen itu mengajar, namun juga bisa tersebar seluas mungkin dengan bantuan internet kecepatan tinggi. Belajar jarak jauh yang real time ini, bisa jadi, menjadi solusi cepat mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.

Inilah era baru, yang memungkinkan 'kampus-kampus' terbaik akan tersebar di seluruh Indonesia. Mari kita manfaatkan.

Pilih BanggaBangga45%
Pilih SedihSedih12%
Pilih SenangSenang15%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau12%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ada Indonesia di Oscar 2016 Sebelummnya

Ada Indonesia di Oscar 2016

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

1 Komentar

  • ciee "pintu ajaib doraemon" si 'kapitalist' mulai masuk.

  • ciee "pintu ajaib doraemon" si 'kapitalist' mulai masuk.

  • ciee "pintu ajaib doraemon" si 'kapitalist' mulai masuk.

  • ciee "pintu ajaib doraemon" si 'kapitalist' mulai masuk.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.