Sudah mulai banyak yang tahu kalau perancang Lambang Garuda Pancasila adalah Sultan Hamid II, lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak ke-6, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie keturunan Arab-Indonesia. Namun tahukah kawan jika selain Sultan Hamid II, ternyata ada seorang pelukis yang menyempurnakan lambang Negara kita

1. Dullah, Pelukis yang menyempurnakan Lambang Garuda Pancasila

Dullah (Photo by : Charles Breijer)
Dullah (Photo by : Charles Breijer)

Dullah adalah anak bangsa kelahiran Solo, Jawa Tengah, 17 September 1919. Ia dikenal sebagai seorang pelukis realistik. Mempunyai kegemaran melukis portrait (wajah) dan menampilkan banyak orang. Beliau belajar melukis dari dua orang Gurunya yang sekaligus merupakan pelukis ternama, yaitu S. Sudjojono dan Affandi. Meskipun demikian corak lukisannya tidak pernah mempunyai persamaan dengan dua orang gurunya tersebut. 

2. Seorang Pelukis Istana

Bung Karno di Tengah Perang Revolusi (1965)
Bung Karno di Tengah Perang Revolusi (1965) via Potret Lawas

Beliau juga dikenal sebagai pelukis istana selama 10 tahun sejak awal tahun 1950-an, dengan tugas memperbaiki lukisan-lukisan yang rusak dan menjadi bagian dalam penyusunan buku koleksi lukisan Presiden Soekarno. Dullah juga dikenal sebagai pelukis revolusi, dalam karya-karyanya banyak menyajikan lukisan bertemakan perjuangan selama masa mempertahankan kemerdekaan.

3. Mendapat Tugas Perdana dari Soekarno

(sumber : flickr)
(sumber : flickr)

Dullah mendapat tugas perdana dari Bung Karno untuk mengubah kaki lambang Garuda Pancasila. Awalnya, jempol kaki burung Garuda tampak di depan pita, lalu diubah menjadi di belakang pita, seperti tampak pada lambang Garuda saat ini.

Selain itu, tugas sang pelukis istana sangat banyak. Bukan hanya membenahi lukisan koleksi istana, tetapi juga menyeleksi, lalu memajang lukisan tersebut di dining Istana Negara, Istana Merdeka, Gedung Agung Yogya, Istana Bogor, hingga Istana Tampaksiring, Bali.

4. Mendirikan Museum Pribadi di Solo

Beliau sempat mendirikan museum pribadi di Solo pada tahun 1970-an, dan hingga kini museum tersebut masih representatif dan dikelola oleh pemerintah Kotamadya Surakarta. Lokasinya di Jalan Dr. Sutomo, Sriwedari, Laweyan, Surakarta.

5. Lukisannya dikoleksi para kolektor seni

Banyak lukisan-lukisan Dullah menjadi koleksi pejabat-pejabat penting pemerintahan, kolektor seni baik dalam maupun internasional, tokoh masyarakat dan orang terkemuka, diantaranya Presiden pertama RI Soekarno, Wakil Presiden pertama RI Muhammad Hatta, Adam Malik, mantan Presiden Amerika Serikat Eisenhower, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Walter Mondale, mantan Perdana Menteri Australia Rudolf Menzies dan museum seni lukis di Ceko.

"Di depan pura" by Dullah, Size: 68cm x 54cm, Medium: Oil on canvas, Year: 1969 (sumber : lelang lukisan maestro)
"Di depan pura" by Dullah, Size: 68cm x 54cm, Medium: Oil on canvas, Year: 1969 (sumber : lelang lukisan maestro)
Dullah, Halimah gadis Aceh, oil on canvas, 94,5cm X 74cm-koleksi bung karno (Sumber : lelang lukisan maestro)
Dullah, Halimah gadis Aceh, oil on canvas, 94,5cm X 74cm-koleksi bung karno (Sumber : lelang lukisan maestro)

Sumber : Merahputih.com, potret lawas, http://lelang-lukisanmaestro.blogspot.co.id, BBC

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu