Ujung Pelangi di Timur Indonesia

Ujung Pelangi di Timur Indonesia
info gambar utama

Saya suka traveling. Saya juga suka sejarah. Perpaduan keduanya tentu saja sayang untuk dilewatkan begitu saja. Di sekitar tengah tahun 2017, saya untuk pertama kalinya menemukan perpaduan itu, berkesempatan menjalaninya dan menjadi saksi awal kisah selanjutnya.

Pernah dengar nama Kabupaten Pulau Morotai (Morotai)? Bagi saya yang selama ini tinggal di kota besar di Pulau Jawa, nama Morotai awalnya terdengar asing di telinga. Namun, ternyata bila berusaha agak keras mengingat sebetulnya sering nama Kabupaten yang baru berumur 8 tahun, dan dulunya bagian dari Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara ini muncul utamanya terkait pariwisata dan sejarah. Kumpulan kata yang sering muncul terkait Morotai adalah surga spot diving dan sejarah Perang Dunia II.

Dan, Morotai inilah yang membawa saya bisa menemukan perpaduan antara kesukaan saya akan traveling dan sejarah. Di penghujung 2017, akhirnya saya berkesempatan untuk ke Morotai dan melihat secara langsung pesona Morotai sebenarnya. Perjalanan yang menarik sekaligus menantang. uba, Pulau Utama Morotai, selama perjalanan berkeliling kota terlihat bahwa pagar rumah warga di sini berbeda dengan pagar yang biasa saya jumpai di kota asal. Jelas saja pagarnya berbeda, karena ternyata pagar-pagar tersebut adalah Marston Matting.

Marston Matting dulunya digunakan sebagai semacam paving jalanan di era Perang Dunia II. Sebuah temuan awal yang menarik untuk terus melanjutkan “perjalanan susur sejarah” ala saya.

Selanjutnya, Bapak pengemudi mobil rental dengan bersemangat mengantar saya melihat dua lapangan terbang bersejarah di Morotai yang dulu digunakan selama Perang Dunia II, Bandar Udara Pitoe Street yang dibangun oleh tentara sekutu pada tanggal 17 Oktober 1944 dan Bandar Udara Wama yang juga dibangun oleh tentara sekutu lebih dulu di tanggal 5 Oktober 1944. Seolah tidak cukup, berjarak hanya 5km dari pusat Kota Daruba terdapat sebuah Museum PD II. Sebuah tempat wisata edukasi mengenai peran Morotai saat Perang Dunia II. Di museum ini tersimpan barang peninggalan Perang Dunia II. Tidak heran jika saya juga bertemu banyak wisatawan asal Australia dan Amerika datang berkunjung ke Museum ini untuk melihat jejak leluhurnya.

Seakan tak berhenti “bercerita” akan apa saja yang terjadi di Morotai selama Perang Dunia II, Morotai juga mulai “berbisik dan mengajak” untuk menikmati sisinya yang lain, potensi wisata dengan hamparan alamnya yang mempesona mulai dari dalam air, pasir lembutnya hingga keindahan paparan pulaunya.

Ya, wisata pulau Morotai sangat berpotensi untuk terus dikembangkan, terbukti dengan inisiatif Pemerintah RI memasukkan Morotai sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata “Bali Baru”. Di Morotai ini terdapat 33 buah pulau kecil di sekitarnya. Diantaranya yang di-referensikan oleh Dinas Pariwisata Morotai adalah Pulau Zum-zum, yang tak hanya indah dengan hamparan pantai pasir putih berkerikil dengan air sejernih kristal namun juga karena menjadi bagian dari sejarah Jenderal legendaris sekutu, Mac Arthur, karena konon di pulau inilah Mac Arthur beristirahat pada masa Perang Dunia II. Namun, tentu saja yang menjadi perhatian utama saya adalah sebuah pulau di penghujung perjalanan ini, Pulau Kolorai.

Pulau Kolorai tampak atas | Foto: Febriansyah / GNFI
info gambar

Pulau Kolorai (Kolorai) saat itu sedang melakukan proses revitalisasi menuju desa wisata. Serupa dengan pulau-pulau lainnya di Morotai, suasananya yang sangat menenangkan, hamparan pasir putih dikelilingi vegetasi pepohonan pisang, sukun, dan kelapa turut menyambut kedatangan saya.

Pulau di selatan pulau utama Daruba ini kurang lebih luasnya hanya seluas stadion sepakbola, dengan rumah-rumah penduduk berjajar rapih beralas pasir putih lembutnya. Dihuni tiga suku yaitu Galela, Ternate, dan Bajo, keramahan jelas jadi kekayaan utama pulau ini, di sudut manapun warga akan menyambut kita dengan ramah dan kekeluargaan. Dan, karena mata pencaharian utama warga adalah sebagai nelayan maka potensi terkait perikanan untuk wisata seperti kegiatan membuat atau memperbaiki kapal, mencari ikan hingga memasak masakan khas berbahan dasar ikan juga menjadi sudut jelajah wisata khas pulau ini.

“Dihuni tiga suku yaitu Galela, Ternate, dan Bajo, keramahan jelas jadi kekayaan utama pulau ini, di sudut manapun warga akan menyambut kita dengan ramah dan kekeluargaan.”

Meskipun Kolorai ini merupakan sebuah Pulau yang mungkin belum banyak orang pernah mendengar tentang keberadaannya, namun di Pulau ini terdapat sekitar 500 jiwa penduduk dan fasilitas pendukung seperti homestay telah tersedia dengan baik dan produk khas seperti suvenir batok kelapa dan pengolahan produk perikanan yang dikembangkan melalui program pemerintah atau bantuan CSR swasta telah tersedia sebagai pilihan oleh-oleh khas.

Potensi-potensi itulah yang kemudian dijadikan titik awal sinergi swasta, pemerintah, akademisi dan masyarakat yang saya ikut terlibat didalamnya selama kurang lebih 6 bulan mulai dari penghujung 2017 di bulan November hingga bulan April di tahun 2018. Sinergi yang bertujuan untuk mengembangkan lagi potensi ekonomi lokal berbasis pariwisata di Kolorai hingga bisa menjadi salah satu tujuan utama wisata di Morotai.

Kini, selang 6 bulan setelah kunjungan pertama saya ke Morotai dan Kolorai, bersamaan dengan acara Peresmian Dukungan Pariwisata “Pesona Pulau Warna Kolorai”, acara yang menjadi puncak program sinergi swasta (dalam hal ini PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung tanggungjawab sosial lingkungan Sampoerna untuk Indonesia – SUI bekerja sama dengan Yayasan Inspirasi Anak Bangsa (YIAB)), pemerintah Kabupaten Morotai, akademisi dan masyarakat Kolorai, Local Economic Advancement Program (LEAP) kini potensi wisata Kolorai telah berkembang. Pelbagai dukungan baik dari kegiatan penguatan kapasitas SDM maupun infrastruktur telah diwujudkan untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal berbasis wisata di Kolorai. Salah satu yang menjadi unggulan adalah menjadikan Kolorai sebagai pulau warna-warni (colorized island). Pengembangan Pulau Kolorai menuju destinasi wisata tematik berupa warna-warni pulau mengikuti identitas kearifan lokalnya yang unik yaitu warna jingga, hijau, dan biru sebagai representasi dari masing-masing suku yang tinggal harmonis di Pulau Kolorai; Galela, Ternate, dan Bajo.

Desa wisata pulau tematik Kolorai tampak dari atas | Foto: Febriansyah / GNFI
info gambar

Kini semakin banyak alasan yang akan “merayu” saya dan mungkin penyuka traveling dan sejarah lainnya untuk dapat mengunjungi Kolorai. Selain konsep pulau warna uniknya (yang bisa jadi merupakan yang pertama di Indonesia), wisatawan tidak hanya akan dimanjakan oleh indahnya alam Kolorai namun juga bisa ber-swa foto di landmark pulau Kolorai, menginap di homestay masyarakat yang ada dan merasakan kegiatan sehari-hari penduduk Kolorai seperti belajar menganyam dengan warga setempat, atau berlayar di lautan lepas.

Landmark Pulau Kolorai | Foto: Febriansyah / GNFI
info gambar

Selain tentunya paket wisata alam dan sejarah yang tidak dapat ditolak seperti: mengunjungi pantai, air terjun, surfing, diving, serta snorkeling, serta tentu saja sebelum pulang untuk menyempatkan diri membeli abon ikan Porimoi yang merupakan usaha lokal warga setempat sebagai buah tangan untuk kerabat di rumah.

“Salah satu yang menjadi unggulan adalah menjadikan Kolorai sebagai pulau warna-warni (colorized island).”

Untuk terus mendukung Kolorai sebagai desa wisata pemerintah setempat mengajak masyarakat Pulau Kolorai untuk meningkatkan kesiapan Pulau Kolorai dalam menyambut para wisatawan untuk menjaga kebersihan dan keramah-tamahan serta menjaga keberlanjutan kerjasama dari semua pihak untuk menunjang Desa Kolorai ini sebagai Desa Wisata karena kini, Pulau Kolorai memiliki tema yang sesuai dengan namanya yaitu colorized atau berwarna-warni.

Jadi, ayo ke Kolorai, nikmati pesona pulau warna Kolorai maka anda akan menjadi bagian yang telah merasakan sensasi “ujung pelangi di timur Indonesia”.

Dukung pariwisata Morotai dan Kolorai dengan menyertakan

#eksotismemorotai

#pesonapulauwarnakolorai

*. Penulis merupakan RR&CSR Executive PT HM Sampoerna Tbk.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini