Ternyata Sultan Ini Miliki Pandangan Terhadap Eksistensi Keraton Yogya

Ternyata Sultan Ini Miliki Pandangan Terhadap Eksistensi Keraton Yogya
info gambar utama

Berbicara soal Yogya tidak cukup menarik jika tidak turut membahas Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berlokasi di Jalan Rotowijayan Yogyakarta, keraton selalu menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Selain hadir sebagai objek wisata, hingga detik ini Keraton masih terus digunakan sebagai tempat tinggal Sultan berikut tradisi kesultanan yang masih tetap dijalankan.

Keraton Yogyakarta mulanya didirikan oleh Sultan Hamengku Buwana I, beberapa saat usai Perjanjian Giyanti. Namun pada masa Sultan Hamengku Buwana IX, terjadi perubahan sistem terhadap Keraton Yogyakarta. Keraton tidak hanya berfungsi sebagai pusat kekuasaan yang menduduki posisi penting pada generasi Mataram, melainkan juga hadir dengan memadukan pemikiran Sultan tentang pemerintahan yang berbasis tradisi dan birokrasi modern. Dengan memposisikan diri sebagai seorang raja yang juga mengutamakan kehendak rakyat, maka pada masa kekuasaannya sistem tersebut berubah menjadi Daerah Istimewa.

Beberapa hasil penelitian menyampaikan bahwa kehadiran Sultan Hamengku Buwana IX banyak memberikan pengaruh terhadap perjuangan NKRI. Salah satunya saat Sultan mampu mengubah sistem pemerintahan keraton dan mengembangkan fungsi keraton sebagai pusat kebudayaan, pariwisata, dan pendidikan. Dengan adanya pengembangan tersebut maka keraton mempunyai fungsi baru sebagai pusat seni dan budaya Jawa yang sakral juga adiluhung.

Keraton Yogyakarta
info gambar

Wawasan Sultan yang memiliki nama lain G.R.M Dorojatun tersebut memang disebut cukup modern dan demokratis. Hal itulah yang membuatnya memberikan perubahan pada fungsi keraton, dari yang awalnya tertutup menjadi terbuka. Tentu saja kondisi tersebut membawa fenomena baru pada lingkup keraton yang kemudian mengalami transformasi juga perubahan paradigma terhadap posisi keraton itu sendiri.

Meski dikenal dengan pemikiran modernnya, namun Sultan masih tetap berupaya memperlihatkan pentingnya warisan mengenai budaya bangsa. Oleh karenanya Sultan terus memberikan kontribusi dan inovasi yang positif bagi kehidupan masyarakat, khususnya mengenai nasionalisme dalam berbangsa bernegara.

Peran Sultan dalam pengembangan budaya Jawa meliputi berbagai macam fungsi, di mana hal tersebut memberikan pengaruh cukup besar bagi kehidupan berbudaya masyarakat. Hal itulah yang juga mempengaruhi proses sosio-kultural masyarakat Jawa khusunya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai pewaris budaya Jawa yang adiluhung, Sultan tidak ingin menghapus kepercayaan masyarakat yang berbau mistis. Hal tersebut terhitung seperti kegiatan upacara-upacara adat di keraton yang tetap berjalan sebagaimana mestinya dan estetika bangunan keraton yang juga tetap terjaga dengan baik.

Di lain pihak, Sultan turut membuat terobosan lain yakni mengambil alih fungsi Patih Dalem dan membentuk Dewan Kementrian serta membentuk panitia pembantu pamong praja sebagai badan pertimbangan. Selain itu Sultan juga memberi usulan terhadap pengadaan ujian saringan bagi mereka yang ingin menjadi pegawai keraton. Kondisi tersebut menunjukkan, bahwa Sultan membolehkan masyarakat luas untuk dapat ambil bagian dalam pemerintahan keraton.

Potret Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
info gambar

Melalui situasi tersebut, tak dapat dipungkiri bahwa hingga detik ini masih banyak lapisan masyarakat yang berterima kasih atas peran Sultan yang memberikan banyak kontribusi terhadap Yogyakarta, khususnya keraton. Oleh sebab itu, tak heran pula meski Sultan Hamengku Buwana IX telah tiada namun jasa dan seluruh kebaikannya terhadap Yogya terus dikenang oleh masyarakatnya.


Sumber: Buku Jurnal Masyarakat dan Kebudayaan Politik

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini