Perjuangan dua mahasiswi Indonesia menjadi perempuan pertama yang menyelesaikan misi tujuh puncak dunia atau Seven Summits usai sudah. Tepat pada pukul 5.50 waktu Nepal, atau 7.05 WIB, Frasiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda) berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Everest. Dengan pengibaran bendera tersebut, misi Women of Indonesia's Seven Summits Expedition (WISSEMU) Mahitala Unpar telah lengkap. 

Berdasarkan rilis yang diterima GNFI, Deedee dan Hilda berhasil mencapai ketinggian puncak 8.848 mdpl usai melakukan melakukan perjalanan selama 6 hari sejak 11 Mei dari pos Everest Base Camp (EBC) di ketinggian 5.150 mdpl. Pemuncakan (summit attempt) kemudian dilakukan dari Camp 3 di ketinggian 8.225 mdpl pada 16 Mei pukul 23.30 waktu setempat. Perjalanan menuju puncak harus melalui angin kencang dan suhu ekstrim -25 derajat celcius dengan kadar oksigen yang sangat minim. 

 

Ein Beitrag geteilt von WISSEMU 🇮🇩 (@ina7summits) am

Upaya memuncaki gunung yang diberi gelar Sagarmatha (Dewi Langit) oleh masyarakat Nepal tersebut jauh lebih cepat dari rencana. Pemuncakan semula diprediksi akan dilakukan pada 20 Mei namun dapat dilakukan lebih awal. Berita membanggakan tersebut disampaikan Hilda melalui pesan satelit dari puncak Everest.

"Puji Tuhan, Summit! Saat ini tanggal 17 Mei 2018, pukul 5.50 Sang Saka Merah Putih berkibar di Puncak Everest. Bendera Indonesia di tujuh puncak dunia! Keberhasilan ini kami persembahkan untuk persatuan bangsa! Untukmu Indonesia! Terima Kasih banyak UNPAR, Mahitala Bank BRI, Multikarya Asia Pasifik Raya," seru Hilda. 

Keberhasilan ini tentu saja membuat keduanya telah resmi menjadi dua perempuan Indonesia pertama yang menjadi seven summiters (gelar untuk pemuncak tujuh puncak dunia). Setelah dua eksepedisi sebelumnya, Indonesia Seven Summits Expedition (ISSEMU) Mahitala UNPAR di tahun 2011 dan Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia WANADRI di tahun 2012 seluruhnya beranggotakan laki-laki. 

Enam puncak dunia sebelumnya berhasil diselesaikan selama tiga tahun oleh Deedee dan Hilda. Berawal dari Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Indonesia yang mewakili Lempeng Australasia pada 13 Agustus 2014, Gunung Elbrus (5.642 mdpl) yang mewakili Lempeng Eropa pada 15 Mei 2015, Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) yang mewakili Lempeng Afrika pada 24 Mei2015, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) yang mewakili Benua Amerika Selatan pada 30 Januar 2016,dan Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl) yang mewakili Lempeng Antartika pada 5 Januari 2017.

Everest sendiri merupakan puncak pamungkas yang memiliki banyak keunikan. Seperti, jalur Everest yang mencapai 18 jalur karena ukurannya begitu besar. Kemudian, gunung ini juga telah banyak memakan korban jiwa. Tercatat setidaknya telah ada 288 pendaki yang meninggal di Everest sejak tahun 1924 hingga 2017. 

Ekspedisi yang telah berjalan sejak tahun 2014 ini telah menempatkan Indonesia dalam prestasi dunia. Sebab menjadi seven summiters adalah hal yang tidak mudah. Berbagai persiapan harus dilakukan, tidak hanya fisik dan mental tetapi juga dukungan biaya dan waktu yang harus dikorbankan kedua mahasiswi yang tercatat masih aktif sebagai mahasiswa di Universitas Katolik Parahyangan Bandung tersebut. 

Selamat untuk Deedee dan Hilda!

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu