Negara kita ini merupakan negara penganut paham Demokrasi dengan jumlah populasi penduduk yang sangat besar. Dan dalam waktu dekat kita akan menghadapi pesta demokrasi menjelang pemilu presiden periode selanjutnya. Mengingat bangsa ini adalah bangsa milik bersama, maka tidak salah jika politik yang sehat adalah tanggung jawab bersama.

Tak dapat dipungkiri, banyak berita di media massa menjadi kendaraan kepentingan politik, baik itu pencitraan partai atau tokoh politik. Sebagai penyebar informasi, akan sangat berbahaya jika terbentuk opini publik yang negatif karena akan berdampak pada perpecahan bangsa. Oleh karena itu perlu diketahui bagaimana seharusnya kawan-kawan yang bergelut di bidang komunikasi menyikapi hal tersebut.

Foto: Vita Ayu Anggraeni / GNFI
Foto: Vita Ayu Anggraeni / GNFI

Hari ini, Kamis, 17 Mei 2018 saya menghadiri sebuah Talkshow and Proactive Class bertajuk Brace the Movement yang digelar oleh Program Studi Ilmu Komunikasi bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Petra (HIMAKOMTRA) dalam rangka memperingati HUT program studi Ilmu Komunikasi UK Petra ke-17. Turut hadir lima narasumber profesional terkait, Fajar A. Isnugroho (Commissioner of KPI 2013-2016 dan Chairman of KPID Jawa Timur 2007-2013), Silih A. Wasesa S,Psi., M.Si. (Founder of Konner Digital Advisory dan Founder of Asia PR), Johan Budi Sapto Prabowo (Juru Bicara Kepresidenan), Alfito Deannova Gintings (Director of CNN Indonesia) dan Drs. Gatut Priyowidodo,M.Si., Ph.D. (Associate Professor of Communication Petra Christian University) mengisi acara tersebut.

Di seminar tersebut dibahas bagaimana sesungguhnya sebuah informasi dapat menyebar luas di era digital seperti sekarang ini. Maka dari itu diperlukan kehati-hatian bagi para pelaku media konvensional dalam menginisiasi atau menyebarkan sebuah informasi. Hendaknya merujuk pada sumber yang kredibel. Hal tersebut disinggung mengingat akun sosial media yang tidak terverifikasi pun tidak luput menjadi sumber berita akhir-akhir ini. Padahal belum tentu keabsahan informasi yang didapatkan memang sesuai dengan kenyataannya.

Berbicara mengenai insan komunikasi, tidak melulu berbicara mengenai media masa saja. Kita sebagai makhluk sosial pun termasuk di dalamnya. Fakta yang disebutkan adalah masih hadirnya orang-orang yang melek teknologi di Indonesia tetapi tuna informasi. Tuna informasi disini bukan berarti tidak memiliki akses kepada informasi justru mereka yang memiliki akses namun tidak dapat memilah mana informasi kredibel yang patut dipercaya. Dari sinilah berita-berita hoax  muncul.

Peserta
PesertaTalkshow and Proactive Class bertajuk Brace the Movement | Foto: Vita Ayu Anggraeni / GNFI

Menambahkan sedikit mengenai peran masyarakat, menurut Johan Budi terdapat tiga golongan lapisan masyarakat dalam ranah politik: haters, lovers, dan silent majority. Tidak sedikit kita menemui "peperangan" yang biasanya terjadi di media sosial antara para haters dan lovers pelaku politik tertentu. Nampaknya, peperangan tersebut bukan lah hal yang berbahaya, justru bahaya datang dari silent majority yang sesuai namanya ternyata jumlahnya lebih banyak daripada para haters maupun lovers, mencapai 70% dari populasi masyarakat.

Oleh karena itu baiknya kita sebagai individu masyarakat dari negara berpaham demokrasi ini baiknya turut menyuarakan pendapat dengan etik dan ketentuan yang sesuai.

Mengutip dari simpulan talkshow tersebut, media berperan penting menjadi jalan tengah pemetaan informasi di Indonesia, maka sebaiknya menjunjung tinggi etik serta lebih banyak mengkritisi hal-hal yang substansial dibandingkan mementingkan rating ataupun profit.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu