Pasar, seperti yang dikenal, merupakan tempat interaksi jual-beli antara pembeli dan penjual. Salah satu pasar yang memiliki komunikasi khas antara penjual dan pembeli disebut sebagai pasar tradisional.

Sebagai negara yang menyimpan sejuta ragam kultur dan tradisi yang elok, maka dipastikan Indonesia memiliki banyak pasar tradisional yang tersimpan di berbagai daerah. Salah satunya yang terdapat di Solo, Jawa Tengah.

Pasar Gede Solo merupakan salah satu pasar tradisional yang tersohor di Surakarta. Terletak di Jalan Jendral Sudirman, membuat Pasar Gede Solo mudah dijangkau oleh banyak kalangan guna berbelanja dan membeli berbagai macam kebutuhan di sana.

Sisi Depan Pasar Gede Solo
Sisi Depan Pasar Gede Solo

Sebelumnya pada tahun 2011, Pasar Gede Solo sempat memperoleh penghargaan sebagai Pasar Tradisional Terbaik di Jawa Tengah. Keberadaan Pasar Gede Solo sebagai salah satu pasar tertua di daerah tersebut, memang memiliki tatanan yang rapi juga bersih. Ruangan lebar yang menjadi pondasi utama justru memberikan kenyamanan saat berbelanja dan tidak menimbulkan efek berdesakan baik antara pembeli maupun penjual. Di satu sisi, akses untuk menuju lokasi pasar juga dapat dilalui oleh banyak transportasi.

Mulanya, bangunan Pasar Gede Solo digagas oleh seorang arsitek ternama Belanda yakni Thomas Karsten. Rancangan bangunan pasar tradisional tersebut dibentuk sejak tahun 1927 dan berhasil berdiri serta beroperasi di tahun 1930.

Pasar Gede Solo Tempo Dulu
Pasar Gede Solo Tempo Dulu

Nama Hardjonegoro sendiri diambil dari salah seorang anak bangsa keturunan Tionghoa yang juga mendapat gelar KRT dari Keraton Surakarta. Oleh sebab itu dapat pula dikatakan bahwa nama dan keberadaan Pasar Gede Hardjonegoro merupakan simbol keharmonisan kultur masyarakat Solo yang telah melekat di eranya hingga saat ini.

Sebagai sebuah pasar, Pasar Gede Solo memiliki ciri khas bangunan yang berbeda. Pintu masuk utamanya merupakan sebuah singgasana besar dengan atap lebar, yang dibarengi dengan bangunan utama menyerupai benteng.

Pasar Gede Solo disebut sebagai salah satu monumen sejarah Surakarta karena pasar tersebut merupakan pasar utama di Solo yang menjadi tempat jual-beli sejak era Belanda. Bahkan, sejak berdirinya pasar tersebut, Pasar Gede Solo telah menjadi pusat perdagangan bagi masyarakat pribumi, Cina, dan Belanda.

Berbeda dengan beberapa pasar tradisional di Solo atau Jogja yang biasanya dikenal sebagai sentra oleh-oleh dan buah tangan, Pasar Gede Solo justru dikenal sebagai pusat kebutuhan pokok. Aneka sayur segar, bumbu dapur, daging hingga buah-buahan tersedia secara lengkap di sana.

Selain itu, Pasar Gede Solo juga tenar berkat aneka santapan khas Solo yang masih terus dijajakan di sana. Seperti halnya Nasi Liwet, Dawet Telasih, Timlo Sastro, dan Tahok. Oleh sebabnya tak heran jika Pasar Gede Solo juga disebut sebagai destinasi wisata kuliner yang wajib dikunjungi.

Wah bangga sekali ya menjadi bagian dari Indonesia dengan segala macam keunikan dan keistimewaannya! Semoga suatu saat kawan GNFI bisa berkunjung dan sowan langsung di Pasar Gede Hardjonegoro Solo ya, sembari melihat interaksi khas antara penjual dan pembeli di sana.

 
Sumber: Kompasiana


Sumber:

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu