Pesona batik Indonesia tidak hanya populer di dalam negeri saja. Warisan budaya yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober ini juga telah berkibar di berbagai negara dengan berbagai cara. Acara bertema The Colours of Indonesia yang diselenggarakan KBRI Stockholm misalnya.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (14/5) di Stockholm, Swedia ini terdiri dari workshop, eksibisi, dan pagelaran busana batik indigo hasil karya Galeri Batik Jawa, Yogyakarta yang terkenal dengan menggunakan pewarna alami.

Pewarna alami yang digunakan pada batik indigo berasal dari tanaman indigofera tinctoria dan dengan pewarna alami dari daun indigo. Paduan ini menghasilkan batik berwarna biru yang disebut “Colour of the king”, mengingat warna biru dipakai dalam pakaian raja-raja Jawa zaman dahulu.

Dengan warna birunya yang memesona itu, batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity yang telah diakui oleh UNESCO ini mendapat sambutan luar biasa dari para undangan yang terdiri dari kalangan diplomatik dan fashion Swedia.

Antusiasme para undangan terhadap batik indigo | Foto: Dok. KBRI Stockholm
Antusiasme para undangan terhadap batik indigo | Foto: Dok. KBRI Stockholm

Selain itu, Galeri Batik Jawa juga memberi kesempatan bagi para undangan untuk mempraktikkan proses pembuatan batik, mulai dari pewarnaan, pemberian malam (lilin), hingga pelepasan lilin dari kain. Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari para tamu undangan. Mereka sangat bangga atas hasil praktik pembuatan batik tersebut dan menganggapnya sebagai kenang-kenangan yang tidak akan terlupakan.

Dalam pagelaran busananya, Galeri Batik Jawa menampilkan berbagai desain untuk empat musim di Swedia. Selain dalam bentuk baju, desain ini juga diaplikasikan melalui berbagai asesori, seperti syal, tas, dan dompet.

Warga Korea Juga Dikenalkan dengan Batik

Melalui acara “Annyeong Indonesia!” yang berarti “Halo Indonesia!” dalam bahasa Indonesia, warga Korea yang tinggal di Surabaya berkesempatan untuk mengenal budaya di Indonesia, salah satunya adalah batik.

Salah satu hal menarik di acara ini datang dari Grace asal Korea Selatan yang menghadiri acara tersebut. Grace mengaku sudah lama menyukai batik. Ia mengatakan bahwa batik memiliki warna dan corak yang indah, dimana ia belum pernah melihatnya selama di Korea. “Kalau di Korea, coraknya tidak begini dan biasanya warnanya monoton,” jelas Grace.

Syarif Usman, pemilik Rumah Batik Jawa Timur mengatakan acara ini menjadi ajang yang bagus untuk mengenalkan batik. Sebagai kontribusinya juga dalam mengenalkan batik, Rumah Batik Jawa Timur menyediakan satu set perlengkapan membatik yang terdiri dari canting, kain katun berukuran 40x40 cm, cairan malam, dan pewarna khusus batik. Mereka diajarkan cara membuat batik.

Teknik yang diajarkan Rumah Batik Jatim ini adalah batik tulis colet karena pewarnaannya yang dilakukan dengan dicolet. Cha Ina, salah satu peserta mengaku cukup kesulitan karena cairan malamnya kerap meluber begitu ia mencoba menggambar.

“Ini pertama kali bikin batik, susah ya. Teman-teman semua rapi, punya saya tidak karuan,” ujar wanita yang sudah tinggal 8 tahun di Indonesia itu.

Syarif pun mengaku bahwa itulah yang ingin disampaikan kepada peserta bahwa membatik itu tidak mudah dan butuh waktu lama. “Dengan begitu, mereka bisa lebih mengapresiasi kain batik dan pengrajinnya,” tambah Syarif.

Wah, seru juga ya kedua acara di atas! Sangat efektif untuk mengenalkan warisan budaya, khususnya batik dari Indonesia.


Sumber: Website Resmi Kementerian Luar Negeri, Kompas Travel, IDN Times

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu