Bicara soal kuliner selalu menyenangkan. Apalagi saat Ramadan seperti sekarang karena bisa menambah ide untuk menu buka puasa dari banyaknya pilihan menu yang ada. Iya, Indonesia se-kaya itu kulinernya. Tiap-tiap daerahnya pasti punya kuliner yang khas dan lekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya saja Jakarta dengan nasi uduknya.

Nasi uduk merupakan hidangan modikasi nasi putih yang rasanya lezat dan gurih. Makanan ini dibuat dari nasi putih yang diaron serta dikukus dan biasanya dihidangkan dengan beberapa makanan pendamping.

Tapi apa Kawan GNFI tahu kalau nasi uduk yang katanya khas Betawi ini ternyata hasil persilangan budaya Melayu dan Jawa?

Konon ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 24 Agustus 1511, banyak bangsawan dari Melayu yang umumnya tinggal di Pulau Sumatera meninggalkan Malaka dan sampai ke Batavia (saat ini Betawi). Pada saat mereka hijrah itu tentunya tidak dengan tangan kosong. Melainkan mereka membawa barang dagangan, termasuk makanan khasnya dan menjualnya ke masyarakat Jawa.

Ketika di tanah Betawi yang saat itu ada orang Melayu dan tentunya Jawa, mereka masing-masing tetap membawa kebiasaannya dalam menyantap kuliner. Sehingga kaitan nasi uduk dengan budaya Melayu dan Jawa pun terlihat. Jika makanan khas Melayu sendiri adalah nasi lemak, maka untuk orang Jawa adalah nasi gurih. Namun orang Betawi kala itu justru mengadaptasi nasi lemak maupun gurih menjadi nasi uduk.

Soal nama, ada beberapa pendapat mengenai asal nama nasi uduk ini. Beberapa menyebutkan bahwa kata uduk berasal dari bahasa Sunda yang artinya bersatu atau bercampur. Dengan kata lain nasi ini bisa dicampur dengan menu yang lain. Oleh karena itu, wajar jika kita sering melihat nasi ini dihidangkan dengan telur iris, tempe kering, bihun goreng, ayam goreng, bawang goreng, atau yang lainnya.

Lalu ada juga yang berpendapat bahwa kata uduk secara etimologi memiliki arti kata susah yang mana dulu merupakan makanan rakyat kecil. Masyarakat cenderung mengonsumsi makanan apa adanya. Di sisi lain, nasi uduk juga dulunya dijual dengan memakai gerobak atau dapat dijumpai di pasar saja.

Seiring dengan berkembangnya zaman, nasi uduk kini kian populer. Dulu awalnya nasi ini pertama kali dijual di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta yang akhirnya banyak sekali kedai nasi uduk yang menggunakan nama Kebon Kacang ini untuk menambah pelanggan.

Akan tetapi, saat ini membuat nasi uduk sudah hal yang lumrah. Banyak penyuka kegiatan memasak yang sudah menguasainya. Bahkan inovasi terkait nasi uduk sendiri sudah cukup banyak. Misalnya saja inovasi unik nasi uduk yang dibentuk kue ulang tahun asal Malaysia.

Kue ulang tahun nasi uduk ini dihiasi topping suwiran ayam, kacang goreng, hingga timun. Ada juga yang menggunakan topping aneh seperti petai dan udang balado. Sebuah gebrakan segar dalam industri kuliner bukan?

Nasi Uduk Kue Buatan Nia dan Kelima Sahabatnya

Nasi uduk kue buatan Nasi Uduk Manja | Foto: Dok. Nasi Uduk Manja/Detik Finance
Nasi uduk kue buatan Nasi Uduk Manja | Foto: Dok. Nasi Uduk Manja/Detik Finance

Di Indonesia sendiri, inovasi nasi uduk juga berkembang. Salah satunya seperti yang dilakukan Tania Jean Winarta bersama lima sahabatnya yang juga mengubah nasi uduk menjadi kue dengan tampilan yang cantik.

Ide menyulap nasi uduk ini datang karena pikiran iseng sahabat Nia, sapaan akrab Tania. Bisa dibilang, awalnya hanya sekadar coba-coba untuk bisa memajukan usaha nasi uduk ‘biasa’ yang ia buka di foodcourt di daerah Puri indah, Kembangan, Jakarta Barat yang hasilnya dirasa kurang banget. Akhirnya Nia dan sahabatnya memutuskan untuk menutup toko nasi uduknya karena hasilnya kurang positif.

Karena memiliki hobi membuat kue, sahabat Nia menyuruhnya untuk membuat kue dari nasi. Setelah dicoba, ternyata kue dari nasi uduk bisa dibuat. Nia dan sahabatnya lalu mencoba memasarkan produk kue nasi uduk dari Nasi Uduk Manja −nama tokonya− ini dengan menggandeng beberapa food blogger.

Secara perlahan, produk Nasi Uduk Manja mulai dikenal dan banyak mendapat respon positif. Meski Nia dan sahabatnya berharap bisa mengembangkan bisnisnya ke berbagai daerah dengan membuka dapur baru di beberapa wilayah, mereka tidak berniat untuk membuka tempat offline dan tetap berjualan online.

Ada Juga Nasi Uduk Warna-warni

Nasi uduk warna-warni | Foto: Dok. Tom's Corner/Media Indonesia
Nasi uduk warna-warni | Foto: Dok. Tom's Corner/Media Indonesia

Nasi yang terkenal gurih ini juga bisa dikreasikan menjadi empat warna, yakni merah, kuning, hijau, dan putih. Tommy Handoko, pemuda asal Singkawang, Kalimantan Barat inilah yang membuat warna-warna cantik tersebut dengan menggunakan pewarna alami.

Untuk nasi kuning, Tommy menggunakan kunyit kemudian dicampur pandan sehingga aromanya tercium alami. Untuk nasi hijau, Tommy memakai daun suji dan pandan. Sedangkan warna merah, cukup memakai beras merah dan nasi uduk biasa dengan beras putih.

Berbeda dengan Nia dan sahabatnya, Tommy memilih untuk membuka resto untuk menjual hasil kreasinya itu. Dan di Tom’s Corner di Ruko Crown Golf Blok A No. 32, Bukit Golf Mediterania, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara itulah Tommy menjalankan bisnisnya.

Nah, itu tadi dua kreasi nasi uduk yang ternyata berasal dari persilangan budaya Melayu dan Jawa. Kira-kira, kreasi apa lagi ya yang bisa dibuat dari nasi yang gurih dan lezat ini?


Sumber: Travel Kompas, Pegi-pegi, Detik Finance, Media Indonesia

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu