JOGJA SDGs for Primary Education: Sadar SDGs Sejak Dini

JOGJA SDGs for Primary Education: Sadar SDGs Sejak Dini

Kegiatan Jogja SDGs for Primary Education (sumber : JogjaSDGs)

YOGYAKARTA – Kegiatan “JOGJA SDGs for Primary Education” yang berkolaborasi dengan 8 komunitas lokal untuk mengenalkan SDGs sejak dini pada anak-anak di Yogyakarta, telah sukses kembali dilaksanakan. Dicetuskan oleh JOGJA SDGs, kegiatan kali dilaksanakan pada Minggu, 13 Mei 2018 bertempat di Taman Baca Temugiring, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta yang merupakan lokasi binaan dari Komunitas Kantong Pintar sebagai salah satu komunitas fasilitator.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengenalkan apa yang dimaksud dengan SDGs dalam wujud yang lebih mudah dipahami dan menyenangnya menggunakan media interaktif kepada anak-anak usia sekolah dasar. Yaitu berupa puzzle dan monopoly untuk merangsang keingintahuan dan kesadaran mereka mengenai substansi kegiatan (SDGs) tanpa harus merasa seperti belajar di sekolah, serta mengasah kemampuan berbicara di depan umum dan kepemimpinannya. Dengan komunitas lokal sebagai fasilitator, komunitas lokal diberikan ruang untuk mengajarkan isu yang dibawanya dalam kerangka SDGs untuk dapat lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Sehingga kepedulian terhadap isu-isu sosial masyarakat dan lingkungan terkaitpun sudah dapat ditanamkan sejak dini kepada anak-anak tersebut.

Kegiatan JogjaSDGs (sumber : JogjaSDGs)
Kegiatan JogjaSDGs (sumber : JogjaSDGs)

Turut bersama dengan Komunitas Kemangteer Yogyakarta dan Yayasan Bintang Kidul, tema yang diambil kali ini untuk mengajar anak-anak di Taman Baca tersebut berkisar kepada isu lingkungan yaitu tanaman mangrove, serta pendidikan. Dengan media interaktif yang digunakan, mereka bereksplorasi sembari bermain dan meningkatkan pemahaman terhadap kedua isu tersebut yang relevan di wilayah tempat tinggalnya. Semisal Gunung Kidul sebagai salah satu kabupaten dengan garis pantai terpanjang di Daerah Istimewa Yogyakarta, tentu pendidikan mengenai tanaman mangrove tersebut akan tepat sasaran bagi mereka untuk merawat lingkungan pantainya. Begitu pula dengan isu pendidikan sebagai sarana pembelajaran bagi mereka untuk berani mengejar pendidikan setinggi-tingginya serta yang terpenting agar mau kembali ke daerah asalnya guna membangun wilayahnya.

Kegiatan ini diselenggarakan dengan metodologi “sister community” dimana 8 komunitas lokal yang bergerak sebagai fasilitator dapat berkesempatan untuk turut berkolaborasi dengan isu yang didukung oleh komunitas lainnya dalam 1 kali kegiatan. Sehingga memberikan ruang bagi pembelajaran dan eksperimen bagi para komunitas lokal untuk turut bertukar pandangan dan pendapat terkait isu-isu yang didukung antar komunitas lokal dalam kerangka sosialisasi SDGs kepada anak-anak. Setelah selesai dengan Kemangteer Yogyakarta dan Yayasan Bintang Kidul kali ini, kedepannya masih terdapat banyak komunitas lainnya yang akan mengambil peran sebagai fasilitator dalam kegiatan selanjutnya.

Sumber : JogjaSDGs
Sumber : JogjaSDGs

Terdapat beberapa target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu antara lain, terwujudnya kolaborasi aktif dari 8 komunitas yang mewakili isu-isu lokal yang menjadi perhatian dari masyarakat Yogyakarta dalam kerangka besar SDGs dan terciptanya inkubasi kepemimpinan bagi anak-anak sekolah dasar dalam kesadarannya terhadap pentingnya SDGs. Kegiatan ini diharapakan dapat terlaksana secara berkelanjutan dan mampu menjadi pilot project dari kegiatan lainnya yang bertujuan ingin mencetak kesadaran lebih awal terhadap ide global bagi para generasi muda penerus bangsa.

Sumber : Press release JogjaSDGs

Pilih BanggaBangga57%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi29%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Inilah Terobosan Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Sebelummnya

Inilah Terobosan Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna Selanjutnya

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna

adli hazmi

Coffee addict, travel and sport enthusiast. a person who really likes international politics. Follow my Instagram @adli_hazmi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.