Menengok Legenda dan Pesona Pulau Senua di Riau

Menengok Legenda dan Pesona Pulau Senua di Riau

http://disparbud.natunakab.go.id/senua-wisata-bahari-natuna-yang-sangat-indah/

Kawan GNFI mungkin pernah mengenal nama Pulau Senua, sebuah pulau terdepan Indonesia yang berada di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau. Berlokasi di bagian Laut Cina Selatan yang juga berbatas langsung dengan Borneo dan Vietnam membuat Pulau Senua cukup tersohor akan keindahan baharinya.

Selain hadir sebagai destinasi yang cocok untuk snorkeling dan diving, Pulau Senua juga merupakan tempat penangkaran penyu. Dilansir dari Halaman Kepri menyatakan bahwa penyu yang hidup di pulau tersebut sudah ada sejak 145 hingga 208 juta tahun lalu. Oleh sebab itu tak heran jika penyu menjadi salah satu kekayaan yang dilindungi di sana. Bahkan di Pulau Senua, penyu akan bebas berkeliaran di pinggir pantai sehingga pengunjung bisa langsung menikmati keberadaan penyu-penyu tersebut.

Pulau Senua Dengan Keindahan Pasir Putihnya
Pulau Senua Dengan Keindahan Pasir Putihnya

Pulau Senua masih menjadi salah satu pulau yang diminati karena pesona keindahan alamnya yang masih terus terjaga hingga saat ini. Pantainya yang bersih dipadu dengan air laut yang jernih juga pasir putih, membuat banyak wisatawan datang berduyun-duyun untuk menikmati momen terbaik di pulau tersebut.

Di Pulau Senua terdapat atraksi wisata unggulan setempat yakni “Kekah”, di mana ekowisata ini dikemas dalam bentuk atraksi alami. Upaya konservasi yang dilakukan adalah dengan memindahakan beberapa ekor kekah untuk hidup bersama habitatnya di Pulau Senua. Melalui koordinasi beberapa instansi setempat, atraksi tersebut menjadi salah satu atraksi yang mampu menarik minat wisatawan domestik maupun internasional.

Pelabuhan Terapung di Pulau Senua
Pelabuhan Terapung di Pulau Senua

Kata Senua yang tercantum pada Pulau Senua memiliki arti satu tubuh berbadan dua. Menurut cerita yang beredar, seperti yang tertulis dalam sportourism.id, mengatakan bahwa Pulau Senua merupakan jelmaan dari seorang wanita yang tengah berbadan dua yang bernama Mai Lamah.

Mulanya suami dari Mai Lamah kala itu memutuskan untuk tinggal bersama Mai Lamah di Pulau Bunguran. Sang suami yang bernama Baitusen bekerja sebagai seorang nelayan. Setiap hari ia pergi ke laut guna mencari siput atau kerang yang memang menjadi kekayaan alam hayati milik pulau tersebut.

Suatu ketika, Baitusen menemukan sebuah lubuk teripang yang di dalamnya terdapat ribuan ekor teripang. Sejak saat itu, Baitusen tidak lagi mencari kerang dan siput. Baitusen berharap dengan ditemukannya lubuk teripang ia tidak perlu lagi susah-susah mencari kerang dan siput, karena harga teripang ketika itu sedang tinggi-tingginya.

Rupanya harapan tersebut berbuah manis, hasil penjualan teripang benar-benar mengubah nasib Baitusen dan Mai Lamah. Keduanya menjadi nelayan kaya raya di pulau tersebut. Langganannya pun datang dari berbagai wilayah.

Namun ternyata kondisi demikian justru membuat Mai Lamah, istri Baitusen, lupa diri. Tak hanya penampilan, segala sikap dan perilakunya pun turut berubah. Ia bahkan menjauhkan diri dari lingkungan dan menjelma menjadi wanita yang pelit juga sombong.

Dengan sikapnya tersebut, warga sekitar justru menjauhi dan enggan bergaul dengan Mai Lamah. Sampai suatu ketika, Mai Lamah membutuhkan pertolongan warga setempat karena ia hendak melahirkan. Namun tak ada seorang pun yang bersedia menolongnya.

Dengan kondisi istrinya yang semakin menjadi, Baitusen akhirnya mengantar Mai Lamah naik ke atas perahu untuk berangkat ke pulau seberang. Juragan kaya itu berupaya mengayuh perahu dengan melawan tenaga gelombang laut kala itu. Namun perahu yang mengangkut Baitusen juga Mai Lamah tenggelam bersama seluruh peti emas dan perak ke dasar laut. Bahkan wanita yang tengah berbadan dua itu tiba-tiba menjelma menjadi batu besar yang kemudian berubah menjadi sebuah pulau.

Oleh masyarakat setempat pulau tersebut kemudian disebut Sanua, dengan maksud satu tubuh berbadan dua. Sementara emas dan perak yang membawa Mai Lamah menjelma menjadi burung layang putih yang kini dikenal dengan burung walet.

Namun terlepas dari legenda pulau tersebut yang juga dipercaya masyarakat setempat, Pulau Senua tetaplah menjadi destinasi yang tak tertandingi. Kekayaan bahari mengenai terumbu karang dan aneka safari lautnya menjadi sesuatu yang terus dicari banyak orang. Maka tak heran jika nanti di akhir bulan Juni 2018 akan segera dimulai serangkaian kegiatan yang dinanti banyak kalangan yakni Festival Pulau Senua 2018.

Kalender Tahunan di Kabupaten Natuna Salah Satunya Festival Pulau Senua
Kalender Tahunan di Kabupaten Natuna Salah Satunya Festival Pulau Senua

Lomba Pacu Kolek, Lomba Renang, Aksi Pantai Bersih, dan Wisata Kuliner akan menjadi beberapa penyemarak pada festival tersebut. Wah, tunggu apalagi? Mari datang dan kunjungi Pulau Senua, sebagai salah satu spot terbaik yang dimiliki negeri ini!


Sumber: Halaman Kepri Sportourism.id

Laman Resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna

Pilih BanggaBangga57%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau29%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Taman Ismail Marzuki: Mengenang Kembali Sang Maestro Legendaris Sebelummnya

Taman Ismail Marzuki: Mengenang Kembali Sang Maestro Legendaris

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019 Selanjutnya

Perolehan Medali Sementara ASEAN School Games 2019

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.