Mengintip Masjid di Papua yang Berusia Lebih dari Satu Abad

Mengintip Masjid di Papua yang Berusia Lebih dari Satu Abad

Masjid Tua Patimburak © traveltodayindonesia.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Ternyata provinsi yang dikenal dunia melalui keindahan Kepulauan Raja Ampatnya itu memiliki peninggalan sejarah Islam di tanahnya. Adalah Masjid Tua Patimburak, masjid bersejarah yang terletak di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.

Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri sejak tahun 1870. Bila dihitung-hitung, saat ini usianya sudah mencapai 148 tahun. Dengan usianya yang sudah sepuh tersebut, masjid ini masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga kini.

Mulanya, nama masjid ini adalah Masjid Al Yasin. Namun karena berlokasi di Desa Patimburak dan umurnya yang sudah sangat tua, maka masjid ini lebih familiar dengan nama Masjid Tua Patimburak.

Masjid ini didirikan oleh seorang imam dari Kesultanan Ternate yang bernama Abuhari Kilian. Masjid dengan luas 100 meter persegi ini memiliki desain arsitektur yang tergolong unik. Desain tersebut merupakan perpaduan antara sentuhan Eropa dan Nusantara.

Jika dilihat dari kejauhan, masjid ini nampak seperti gereja karena kubahnya yang mirip dengan gereja-gereja di Eropa pada masa lampau. Bila masuk ke dalam masjid, akan terlihat empat pilar peyangga yang mengambil desain khas bangungan Pulau Jawa. Interior secara keseluruhannya pun tak jauh berbeda dengan masjid-masjid yang didirikan di Pulau Jawa.

Masih soal arsitektur bangunannya, bentuk segi enam pada dasar bangunan melambangkan enam rukun iman yang merupakan dasar ajaran Islam. Sedangkan kubah dengan alas berbentuk segi delapan tersebut menggambarkan delapan arah mata angin dengan salah satu arah ditandai oleh mihrab yang menunjuk ke arah kiblat.

Mengalami Beberapa Kali Revonasi

Masjid Tua Patimburak sendiri kabarnya sudah mengalami beberapa kali renovasi, namun dengan tidak mengubah bentuk asli masjid. Bagian asli yang masih tersisa tersebut adalah empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid, yang pada masa penjajahan pernah diterjang bom tentara Jepang.

Konon, setelah dikenai bom tentara Jepang, masjid direnovasi dengan penggantian atap rumbia dengan seng gelombang pada 1942. Kemudian pada 1963 dilakukan penggantian dinding papan kayu menjadi dinding tembok rabik atau anyaman bambu yang diplester dengan semen. Sedangkan lantai tanah diganti menjadi lantai dari semen.

Sulit Disebut Sebagai Masjid Pertama di Papua

© Stapico
© Stapico

Meski banyak yang menyebut Masjid Tua Patimburak sebagai tempat ibadah Islam pertama di Papua karena usianya yang lebih dari satu abad, namun nyatanya belum ada literatur yang membuktikan fakta tersebut.

Selain itu, berdasarkan catatan Tim Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala dalam buku “Masjid Kuno Indonesia”, sudah ada dua langgar (tempat ibadah yang lebih kecil dari masjid) yang dibangun namun kemudian tidak berdiri lagi di sana.

Keraguan ini juga mengacu pada catatan sejarah bahwa Islam sendiri sudah berada di Papua beratus-ratus tahun sebelum agama lain masuk ke Papua. Catatan tersebut berasal dari Pelaut asal Spanyol, Luis Vaez de Torres yang berkelana ke Papua Nugini pada 1606. Luis menyebut bahwa sudah banyak orang Islam di Fakfak pada tahun tersebut.

Musa Heremba, imam Masjid Tua Patimburak juga mengatakan bahwa penyebaran Islam di Kokas tidak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua ketika mereka mulai mengenal Islam pada abad ke-15.

Prediksi sejarah-sejarah Islam di tanah Papua sendiri sebenarnya susah untuk dikuak secara pasti. Hal ini dikarenakan adanya budaya unik di wilayah tersebut yang sudah berlaku sejak lama seperti yang diungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Fakfak, Mustaghfirin.

“Memang sulit menggali obyek sejarah di sini. Di masyarakat setempat di sini ada kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Kalau mereka sampai menceritakan suatu peristiwa penting termasuk menyangkut sejarah (misalnya) masuknya Islam ke Fakfak atau ke Kokas, itu sama dengan memperpendek umur,” kata Mustaghfirin.

Meski begitu, setidaknya Masjid Tua Patimburak ini tetap menjadi sejarah Islam di tanah Papua. Masjid ini bisa dikunjungi dengan perjalanan darat dari Kota Fakfak menuju Kokas sejauh 50 kilometer dan dilanjut dengan menyewa longboat selama satu jam untuk menuju Kampung Patimburak.


Sumber: Papua News, Detik Travel, Bimasislam Kemenag

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Menengok Legenda dan Pesona Pulau Senua di Riau Sebelummnya

Menengok Legenda dan Pesona Pulau Senua di Riau

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Delina Rahayu Effendi
@delinaare

Delina Rahayu Effendi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.