Sebuah kota yang terletak di timur pulau Jawa Surabaya menjadi salah satu kota tertua di Indonesia. Kota ini sejak masa kerajaan di Indonesia telah difungsikan sebagai wilayah pesisir tempat lalu lintas kapal berkat Sungai Kalimas yang membentang dari Surabaya hingga wilayah Majapahit di Trowulan Mojokerto, perpanjangan dari Sungai Brantas. Bermula dari sebuah desa kecil dipesisir Sungai Brantas, Surabaya kini berevolusi menjadi poros kedua terbesar perekonomian untuk sebuah negara bernama Indonesia. 

Di era modern Surabaya digunakan oleh Kolonial Belanda sebagai bandar perdagangan dengan Pelabuhan Roode Brug atau yang kini dikenal sebagai Jembatan Merah sebagai jantung utama. Kota ini kemudian oleh Belanda dijadikan sebagai ibukota Keresidenan yang meliputi Jombang, Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto. 

Di tahun 1910, pelabuhan baru dibangun oleh Belanda yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Tanjung Perak. Pembangunan pelabuhan ini menjadi jantung baru bagi perekonomian Surabaya karena kapal-kapal besar akan mampu melakukan bongkar muat tanpa harus memindahkan barang ke kapal yang lebih kecil untuk masuk ke Pelabuhan Jembatan Merah

Sebagai kota pelabuhan yang tumbuh pesat, Surabaya kemudian berkembang menjadi ibukota wilayah Jawa Timur pada tahun 1926. Kota ini telah berevolusi menjadi sebuah kota pelabuhan dengan didukung oleh sektor-sektor industri perkebunan dari seluruh Jawa Timur. Kala itu, Surabaya sudah menjadi kota terbesar kedua di Hindia Belanda setelah Batavia yang kini dikenal sebagai Jakarta.

Kota Para Pejuang

Takdir tentang Surabaya sepertinya memang berakar dari sebuah perjuangan atau mungkin peperangan. Di masa Majapahit, wilayah ini menjadi pertempuran Majapahit dengan pasukan dari Mongolia sehingga ungkapan Sura (ikan pemberani) pun muncul. Ikan yang berani melawan bahaya atau Baya yang kemudian banyak dikaitkan dengan sosok Buaya. 

Nama Surabaya sendiri berasal dari banyak versi usai dikenal sebagai wilayah Hujung Galuh. Ada yang menyebutkan bahwa Surabaya berasal dari Sura ing Bhaya yang artinya Keberanian menghadapi Bahaya. Ada pula yang mengaitkan dengan legenda pergulatan ikan Sura dengan Bajul atau Buaya. Namun dari sekian banyak versi ada benang merah yang menghubungkan bahwa nama Surabaya lahir dari sebuah keberanian dalam medan pertempuran. 

Tidak heran bila kemudian pertempuran paling dahsyat sesaat setelah Perang Dunia II terjadi di sebuah kota di Nusantara, di Surabaya. Tepatnya pada 10 November 1945 dua bulan usai bangsa Indonesia memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka dalam naungan Republik Indonesia. Perang 10 November menjadi saksi betapa masyarakat Surabaya dan sekitarnya memiliki genetika perjuangan yang mendarah daging. Takdir kemudian memberikan Surabaya berjuluk sebagai kota Pahlawan, gelar yang tidak mudah untuk disandang oleh kota manapun bahkan oleh warganya sendiri. Dan jangan lupa, kota ini adalah kota kelahiran seorang pendiri negara Indonesia, Soekarno. 

Monumen Jalesveva Jayamahe (Foto: mapio.net)
Monumen Jalesveva Jayamahe (Foto: mapio.net)

Kota Pelabuhan

Di era kemerdekaan Indonesia, Surabaya kemudian dijadikan pintu gerbang bagi wilayah Indonesia timur dengan semakin berkembangnya Pelabuhan Tanjung Perak. Di tahun 1983 Pelabuhan Ujung untuk kapal feri atau disebut juga terminal Mirah selesai dibangun untuk melayani keperluan kapal angkutan penumpang. Sejak saat itu lalu lintas manusia di Tanjung Perak semakin bertambah dan Surabaya menjadi pintu gerbang Indonesia kawasan timur. 

Tiga tahun sebelumnya, pada tahun 1980, pemerintah Republik Indonesia mendirikan perusahaan galangan kapal pertama bernama Penataran Angkatan Laut atau PAL. Perusahaan ini merupakan perusahaan bekas Belanda yang kemudian dinasionalisasi untuk keperluan industri perkapalan di Tanah Air. Perusahaan ini menjadi perusahaan yang memproduksi segala yang terkait kapal di Indonesia, mulai dari kapal perang, kapal niaga hingga persoalan perawatan kapal. 

Surabaya sebagai ujung tombak poros maritim Indonesia terasa semakin kental ketika monumen patung tertinggi pertama yang dimiliki Indonesia berhasil dibangun. Monumen tersebut adalah monumen Jalesveva Jayamahe yang memiliki tinggi 30,6 meter buatan I Nyoman Nuarta dari Bali. Monumen yang berada di kawasan Komando Armada RI II TNI Angkatan Laut ini dibangun sebagai simbol kejayaan laut Indonesia. Jalesvea Jayamahe sendiri memiliki arti Di Laut Kita Berjaya sehingga meneguhkan Surabaya sebagai "penguasa" lautan Nusantara. 

Surabaya

Kini, Surabaya tidaklah banyak berubah, kota ini tetap menjadi kota poros maritim kebanggaan Indonesia. Menjadi kota yang menggerakkan wilayah timur Indonesia bersama kota-kota penting lainnya seperti Makassar, dan Jayapura. Kota ini telah menjadi ikon baru berkat keberanian pemimpinnya untuk menerapkan terobosan-terobosan dalam pembangunan kota modern di era internet. Pada tahun 2017, tercatat Produk Domestik Bruto Regional Surabaya telah mencapai titik 600 triliun. Angka ini merupakan yang tertinggi kedua di Indonesia.

Terminal Gapura Surya Nusantara yang berada di Pelabuhan Tanjung Perak menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang mampu melayani kapal Pesiar dengan fasilitas garbarata layaknya sebuah bandara untuk pesawat. Pelabuhan Tanjung Perak kini juga terhubung dengan Pelabuhan Teluk Lamong yang telah menjadi pelabuhan tercanggih yang dimiliki oleh Indonesia saat ini. 

Surabaya yang menjadi rumah bagi hampir 3 juta warga yang heterogen pun tidak banyak meninggalkan kultur identitas budayanya. Meski sangat beragam, berbagai etnis mampu untuk hidup bersama bahkan berinteraksi dengan bahasa Suroboyoan. Surabaya di ulang tahunnya yang ke-725 terhitung sejak Majapahit mengalahkan Mongolia di Hujung Galuh di tahun 1293 telah banyak berperan dalam poros maritim bangsa. 

Selamat ulang tahun wahai kota Pahlawan. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu