Mengenal Pematung Di Balik Kemegahan Monumen Garuda Wisnu Kencana

Mengenal Pematung Di Balik Kemegahan Monumen Garuda Wisnu Kencana
info gambar utama
Beberapa bulan lagi menuju bulan Agustus, sebuah monumen patung tertinggi ketiga di dunia akan segera rampung dikerjakan. Patung tersebut adalah Garuda Wisnu Kencana yang berada di Badung, Bali yang akhirnya akan selesai dikerjakan setelah harus menunggu selama dua dekade lebih.

Patung yang akan menjadi patung tertinggi di Indonesia tersebut merupakan karya dari seorang putra Tabanan, Bali bernama I Nyoman Nuarta. Seorang pematung yang telah masyhur dikenal sebagai seniman patung dengan konsep-konsep yang penuh filosofi. Kebanyakan karyanya saat ini berada di NuArt Sculpture Park di Bandung.

Nuarta merupakan seniman patung yang belajar dari bangku kuliah. Ia sempat mengenyam pendidikan seni di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1972 dengan memilih jurusan seni lukis. Namun setelah dua tahun dirinya memutuskan untuk menekuni bidang seni patung di kampus yang sama.

Awal reputasi Nuarta terbangun ketika dirinya berhasil memenangkan Lomba Patung Proklamator Republik Indonesia di tahun 1979 setelah dua tahun sebelumnya menginisiasi Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia bersama rekan-rekan seniman. Mayoritas karyanya di Bandung menggunakan dua material yakni tembaga dan kuningan.

Sebagai seorang seniman, pengalaman dan kesuksesan Nuarta tentu saja terbilang istimewa karena selain berhasil sebagai seniman yang memiliki banyak karya, dirinya juga merupakan pengusaha dengan berbagai jenis bisnis. Berbagai studio ia miliki dan memiliki yayasan-yayasan berbasis seni yang banyak memberdayakan masyarakat. Reputasinya pun tidak cukup hanya di tataran lokal, tetapi juga berada di tataran internasional. Nuarta tercatat tergabung dalam Royal British Sculture Society dan International Sculpture Center Washington.

Karya fenomenal yang pernah dibuat oleh Nuarta salah satunya adalah monumen patung Jalesveva Jayamahe yang sampai saat ini menjadi ikon kekuatan maritim Indonesia. Patung ini berada di kota Surabaya dan menjadi simbol bagi TNI Angkatan Laut. Patung ini dibuat pada tahun 1993 dengan tinggi mencapai 30,6 meter. Di kala itu, patung ini menjadi patung tertinggi yang dimiliki oleh Republik Indonesia.

Tidak berhenti dengan monumen Jalesveva Jayamahe, Nuarta empat tahun kemudian pada 8 Juni 1997 memulai pembangunan Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Badung, Bali. Patung ini direncanakan akan menjadi patung yang memiliki tinggi mencapai 121 meter dengan lebar 64 meter. Tinggi ini melewati ketinggian dari patung Liberty yang berada di New York Amerika Serikat.

(Foto: pixabay.com)
info gambar

Tetapi meski sangat lambat, Nuarta menjelaskan bahwa proyek ini sebenarnya telah direncanakan sejak tahun 1989. Berbagai rintangan telah ia hadapi untuk mewujudkan proyek ambisius ini. Tekadnya mewujudkan GWK adalah karena menurutnya Indonesia harus memiliki satu ikon seni yang membanggakan di mata dunia. Saat GWK digagas tahun 1989, Nuarta meniatkannya sebagai objek wisata yang bisa menjadi magnet kuat bagi turis mancanegara untuk datang ke Indonesia.

Pada sebuah wawancara di tahun 2013, Nuarta menjelaskan pada Kompas bahwa proyek ini merupakan upayanya untuk memberikan warisan dari seorang manusia modern. "Sebagian besar destinasi wisata di Bali misalnya, merupakan warisan leluhur yang dibangun antara abad ke-9 dan ke-13. Pura Besakih, Tanah Lot, Uluwatu, lalu mana karya manusia modern?" gugat Nuarta.

Hasilnya adalah berupa kompleks GWK Cultural Park seluas puluhan hektare yang dahulunya merupakan lahan tandus bekas tambang kapur di Desa Ungaran, Badung. Proyek ambisius ini rupanya disetujui oleh banyak pihak termasuk Presiden Republik Indonesia kala itu, Soeharto. Namun pembangunan kala itu bertepatan dengan peristiwa kekacauan multidimensi yang terjadi di Indonesia. Perekonomian memburuk sehingga pendanaan untuk pembangunan patung ini berjalan sangat lambat.

Di tahun 2000 potongan-potongan bagian dari patung GWK berhasil diselesaikan untuk dipamerkan kepada publik. Namun potongan-potongan tersebut belumlah lengkap. Meski begitu, GWK Cultural Park tetap mampu menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung.

Pembangunan GWK pun berlanjut di tahun 2013, kala itu PT Alam Sutera mengambil alih sebagian saham GWK Cultural Park. Berkat kesepakatan ini Nuarta kemudian mendapatkan suntikan modal untuk melanjutkan pembangunan GWK. Menariknya, potongan-potongan GWK yang telah dipamerkan ternyata tidak digunakan sebagai komponen patung GWK yang utuh. Alih-alih menggunakannya, Nuarta membuatnya tergeletak di GWK Cultural Park sebagai bukti bagaimana sulit dan lamanya mewujudkan proyek ini.

"Membuat patung ini sama seperti bikin kapal. Kalau buat patung yang bentuk botol seperti Liberty, setahun bisa jadi, gampang sekali. Seperti patung Jalesveva Jayamahe yang saya buat di Surabaya. Tapi Garuda Wisnu Kencana bukan patung jenis botol. Kami ciptakan teknologi pembesaran skala. Jadi dari model kecil diperbesar sampai 20 kali ukuran asli. Perlu presisi," jelas Nuarta seperti dikutip dari Kumparan.

Rencananya, patung megah ini akan selesai pada awal Agustus 2018 sebagai kado untuk bangsa Indonesia. Patung ini nantinya akan tampak dari berbagai penjuru Bali. Wisatawan yang berada di Kuta, Sanur, Nusa Dua,Tanah Lot, hingga Bandara Ngurah Rai akan bisa melihat patung ini.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini