Surabaya Punya Satu-satunya Monumen Kapal Selam di Asia Tenggara

Surabaya Punya Satu-satunya Monumen Kapal Selam di Asia Tenggara
info gambar utama

Surabaya, selain dikenal memiliki lambang kekuatan dan kejayaan laut Indonesia dengan adanya Monumen Jalesveva Jayamahe, Kota Pahlawan ini juga memiliki Monumen Kapal Selam (Monkasel) sebagai bukti kejayaan maritim Indonesia.

Monkasel yang berada di sisi Sungai Kalimas, Jalan Pemuda, Surabaya ini disebut-sebut sebagai Monkasel terbesar di kawasan Asia. Bahkan menurut pengelola wisata dan pemandu dari Turis Information Centre (TIC) Surabaya, Sultan, ada kurang dari lima negara di dunia yang memiliki museum kapal selam.

“Hanya beberapa negara maritim di dunia yang punya museum kapal selam untuk edukasi seperti ini. Di Inggris ada dua, Asianya di Surabaya,” jelas Sultan.

Wisata edukasi Monkasel | Foto: jejakpiknik.com
info gambar

Kapal selam yang bernama KRI Pasopati dengan nomor lambung 410 ini merupakan kapal selam asli milik TNI Angkatan Laut (AL) tipe Whiskey Class−dirancang untuk menyelam di laut yang dingin−buatan Uni Soviet tahun 1952.

Dalam sejarah, kapal selam yang masuk pertama kali di pangkalan TNI AL pada 29 Januari 1962 ini merupakan salah satu dari 10 kapal selam dengan jenis yang sama yang ikut andil dalam pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda saat itu.

Monkasel di Surabaya sendiri resmi berdiri pada 20 Juni 1998 untuk memperingati keberanian para pejuang Indonesia yang gagah berani mengusir penjajah. Dalam pemindahannya, KRI Pasopati yang berukuran 76,6 x 6,30 meter ini harus dipotong menjadi 16 bagian dan selanjutnya dibawa ke Surabaya lalu dirakit kembali menjadi sebuah monumen.

Pertama kali masuk monumen ini, pengunjung akan bingung mengenai bagian-bagian di dalamnya dan sebagainya. Bahkan ruangan di dalamnya terlalu sempit, mengingat ukuran lebarnya hanya 6,30 meter. Pintu penghubung antarruang pun hanya sanggup dilalui 1 orang saja dan terkadang perlu membungkuk. Jadi pengunjung memang tidak bisa bergerak dengan leluasa karena banyak sekali peralatan yang dipasang di dinding kapal.

Ruangan yang sempit di Monkasel | Foto: jejakpiknik.com
info gambar

Akan tetapi, seharusnya hal tersebut tak menjadi alasan untuk mengurungkan niat berkunjung ke Monkasel. Di sini Kawan GNFI dapat membayangkan rasanya jadi TNI yang berperang pada zaman penjajahan dalam ruangan yang sempit dan pintu yang kecil. Tentu dapat merasakan betapa tangguh dan luar biasanya mereka. Ditambah, ruangan kapal selam telah diberi pendingin ruangan agar pengunjung lebih nyaman saat mendatangi wisata edukasi ini.


Sumber: Kompas, Jejak Piknik

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini