Mahasiswa ITB Buat Alat Deteksi Korban Kecelakaan Laut

Mahasiswa ITB Buat Alat Deteksi Korban Kecelakaan Laut

Photo by nikko macaspac on Unsplash

Untuk membantu pencarian korban tenggelam di bawah laut, tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat sebuah produk yang diberi nama Human Detection System (HDS). Adalah Muhammad Arkaan Izhraqi, Nyoman Abiwinanda, dan Adinda Sekarwangi yang menciptakan alat yang menggabungkan teknologi machine learning dan unmanned aerial vehicle (UAV) itu.

HDS yang dibimbing oleh dosen Teknik Elektro ITB, yakni Arif Sasongko, S.T., M.T., Ph.d. dan Muhammad Iqbal Arsyad, S.T., M.T. ini diakui Arkaan terinspirasi dari Badan SAR Nasional dalam upayanya mencari korban yang tenggelam di laut yang menggunakan drone sebagai suatu sistem UAV. Namun itu saja menurutnya belum cukup karena tidak ada sistem pendeteksinya.

“Pencariannya masih bersifat manual tanpa adanya suatu sistem pendeteksi sehingga akan membutuhkan waktu yang lama dalam pencariannya” jelas Arkaan.

Tim sar bertugas | Foto: pijarnews.com
Tim sar bertugas | Foto: pijarnews.com

HDS ini diakui Arkaan lebih unggul daripada sistem UAV pada umumnya karena dapat bekerja secara otomatis tanpa harus melakukan pemantauan secara terus menerus oleh operator di ground station.

Ketiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro ITB (STEI) ini membuat HDS dengan mengintegrasikan sistem autopilot UAV berupa Hexa Copter dengan perangkat lunak pendeteksian obyek. Hal ini memungkinkan proses pencarian jadi terotomatisasi dan dilakukan secara paralel.

Jadi, menurutnya, HDS adalah solusi yang efektif untuk melakukan pencarian dengan jangkauan daerah yang cukup luas dimana operator tidak perlu memantau pencarian selama 24 jam.

Skema Penggunaan HDS

Human Detection System rancangan mahasiswa ITB | Foto: itb.ac.id
Human Detection System rancangan mahasiswa ITB | Foto: itb.ac.id

HDS menggunakan hexacopter yang dikendalikan secara autopilot. Sebagai inisiasi awal, Hexacopter tersebut akan terbang sesuai dengan waypoint yang ditetapkan oleh operator di ground station. Lalu video akan ditransmisikan ke ground station dan diproses dengan perangkat lunak pendeteksi manusia.

Proses pendeteksian ini menggunakan algoritma khusus yang disebut You Only Look Once (YOLOv2) dan ditanam di komputer ground station. Algoritma tersebut dioptimasi lebih lanjut dengan boosting tracker berkecepatan 18 frames per second (FPS). Alat ini bisa mendeteksi obyek berupa manusia dan kapal.

Di bagian antarmuka ground station akan menampilkan notifikasi berupa bonding box dan diikuti bunyi alarm kalau sistem mendeteksi adanya manusia. HDS juga akan memberitahu posisi korban dalam bentuk koordinat dalam antarmuka tersebut.

“Sejauh ini, HDS baru mampu mendeteksi obyek di dekat permukaan laut saja sehingga perlu dilakukan peningkatan pada pengambilan gambar seperti dengan digunakannya kamera inframerah,” ungkap Arkaan.

Ia berharap karyanya ini dapat diaplikasikan kemudian hari sehingga dapat membantu mempercepat evakuasi korban kecelakaan di laut.


Sumber: itb.ac.id

Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bakal Ada 5 Stasiun Pengisian Listrik Baru Tahun Ini di Jakarta Sebelummnya

Bakal Ada 5 Stasiun Pengisian Listrik Baru Tahun Ini di Jakarta

Bukber Minim Sampah dan Puasa Plastik Isi Ramadhan di Bali Selanjutnya

Bukber Minim Sampah dan Puasa Plastik Isi Ramadhan di Bali

0 Komentar

Beri Komentar