Pernahkah Anda mendengar tentang destinasi wisata Stone Garden di Desa Masigit atau Pasir Ipis di Lembang? Kedua destinasi wisata ini berlokasi di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

Pengelolaan Stone Garden  oleh Komunitas Pasir Pawon

Stone Garden, juga dikenal sebagai Taman Batu atau Bukit Batu,  berlokasi sekitar 3 km dari pintu keluar tol Padalarang.  Destinasi wisata dengan luas kurang lebih 2,5 ha tersebut menyajikan hamparan bebatuan berusia jutaan tahun. Dari bukit Stone Garden, Anda dapat menikmati pemandangan alam Kabupaten Bandung Barat yang menakjubkan. Tidak heran, bila keunikan bebatuan di tempat ini menjadikan Stone Garden sebagai salah satu tempat untuk pengambilan foto pra-nikah bagi banyak pasangan.

Stone Garden Desa Masigit

Namun demikian, apakah Anda tahu bahwa destinasi wisata Stone Garden ini dikelola secara mandiri oleh komunitas lokal yang menyebut diri mereka sebagai Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pasir Pawon? Dikoordinir oleh Bapak Sukmayadi, Pokdarwis Pasir Pawon  ini terbentuk pada tahun 2015 untuk memulai proses perintisan destinasi wisata Stone Garden.

Sebelum bergabung dalam Pokdarwis Pasir Pawon, ternyata sebagian besar  anggotanya berprofesi sebagai penambang batu.  Karena di tahun 2015 kawasan Stone Garden dinyatakan sebagai kawasan bernilai sejarah oleh pemerintah, aktivitas penambangan pun dihentikan. Kemudian, komunitas lokalnya, melalui pendampingan  Dinas Pariwisata Kabupatan Bandung Barat membentuk Pokdarwis Pasir Pawon. Destinasi wisata Stone Garden pun dikelola secara mandiri oleh mereka. Secara mandiri, artinya, pengelolaan sendiri tanpa bantuan  anggaran dari pemerintah daerah. Mereka melakukan beragam cara untuk membiayai operasional pengelolaan destinasi wisata tersebut, mulai dari penetapan tarif tiket masuk, membuat ragam atraksi, dan bekerjasama dengan pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility.

Pengelolaan Destinasi Wisata Pasir Ipis oleh Komunitas Pasir Ipis

Nah, bila keunikan destinasi wisata Stone Garden adalah bebatuannya, keunikan destinasi wisata Pasir Ipis Lembang ini  adalah di perkebunan kopi, taman bunga, wahana permainan tradisional, dan peternakan sapi perahnya. Selain itu, Anda dapat menjumpai beberapa tempat menginap (homestay) unik yang dikelola langsung oleh penduduk setempat. Menginap di homestay Pasir  Ipis akan membuat Anda tidak hanya mampu menikmati pemandangan yang menakjubkan dengan kesegaran udara di pedesaan yang berada di dataran tinggi, namun juga akan semakin dekat dan mengenal kehidupan orang lokal.

Pasir Ipis

Sebagaimana Stone Garden dikelola oleh komunitas lokal secara mandiri, demikian pula destinasi wisata di Pasir Ipis ini. Dengan menerapkan penetapan tarif per atraksi wisata serta bekerjasama dengan pihak swasta, mereka berusaha memenuhi kebutuhan operasional untuk setidaknya dapat memberikan penghasilan bagi para keluarga yang turut mengelola destinasi wisata Pasir Ipis.

Akses dan Keterampilan Pemasaran Destinasi Wisata

Baik destinasi wisata Stone Garden maupun Pasir Ipis, pada dasarnya menawarkan pengalaman wisata unik yang berbeda dan menarik untuk dijelajahi lebih lanjut. Sayangnya, akses dan keterampilan dalam memasarkan kedua destinasi wisata tersebut menjadi tantangan tersendiri baik bagi Pokdarwis Stone Garden maupun Pasir Ipis.  Setidaknya, itulah yang disampaikan oleh Koordinator Stone Garden, Bapak Sukmayadi, pada kali pertama saya bertemu beliau di tahun 2016.

Bapak Sukmayadi menyadari bahwa strategi pemasaran Stone Garden tidak bisa hanya bergantung pada cara-cara tradisional apabila mereka ingin menjangkau target pengunjung yang lebih luas. Mereka harus Go Digital!  Hanya saja ketiadaan keterampilan dan biaya menjadi kendala bagi Pokdarwis Stone Garden menuju ke arah tersebut. Inilah yang menjadi alasan saya memulai program percontohan pelatihan gratis untuk meningkatkan keterampilan anggota Pokdarwis Stone Garden dalam mempromosikan destinasi wisata mereka secara daring (online).

Pelatihan Belajar Marketing Online Komunitas Stone Garden

Mengingat kembali masa awal pelatihan pertama di tahun 2016, saya tidak langsung memberikan pelatihan pemasaran daring (digital marketing). Pelatihan awal yang saya berikan justru berkaitan dengan proses perubahan cara berpikir dan perbaikan kualitas layanan untuk destinasi wisata Stone Garden. Saya mengajak teman-teman di Stone Garden, khususnya anak-anak mudanya untuk berpikir tentang tujuan hidup mereka dan apa yang menjadi mimpi mereka. Memiliki mimpi! Itulah langkah awal untuk kita mau maju. Dari mimpi, lakukan perencanaan, dan tentunya tindakan! Tanpa tindakan, mimpi hanyalah menjadi sebuah pepesan kosong belaka.

Dari belajar membangun mimpi, teman-teman di Stone Garden juga mulai belajar bagaimana  membangun personal branding mereka serta membangun branding komunitas mereka. Mereka pun belajar bagaimana memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memperkenalkan branding Stone Garden. Mereka juga belajar bagaimana mempergunakan ragam marketplace online yang ada di Indonesia sebagai saluran pemasaran mereka, salah satunya dengan menggunakan marketplace YoExplore yang saya kembangkan bersama tim. Mereka juga belajar bagaimana membuat konten yang menarik untuk mendukung usaha promosi mereka.

Alhasil, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan yang cukup signifikan di tahun 2017. Dari jumlah kunjungan sekitar 70 ribu wisatawan di tahun 2016 menjadi 100 ribu wisatawan di tahun 2017.  Pencapian ini pulalah yang menjadi salah satu indikator untuk mengantarkan Pokdarwis Stone Garden menjadi pemenang kedua dalam kompetisi Kelompok Sadar Wisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata, untuk kategori pengelolaan destinasi wisata secara mandiri.

Apakah pelatihan belajar digital marketing berhenti dengan pencapaian tersebut di atas? Tidak! Saat ini, saya dan rekan-rekan di YoExplore mempersiapkan mereka untuk mampu mengelola konten website mereka sendiri. Ya, kami membuatkan website Stone Garden yang terintegrasi sistem pemesanan online YoExplore. Ini akan memungkinkan wisatawan memesan atraksi wisata di Stone Garden secara online di website mereka sendiri.

Lalu bagaimana dengan Komunitas Pasir Ipis?

Berbekal dari pencapaian di Stone Garden,  saya dan rekan-rekan di YoExplore mulai melakukan pendampingan dan memberikan pelatihan gratis ke komunitas Pasir Ipis dengan menyelenggarakan pelatihan digital marketing. Pelatihan perdananya dilakuka pada tanggal 25-27 Mei 2018 yang lalu. Sungguh terharu menyaksikan antusiasme dari komunitas di Pasir Ipis. Tidak hanya anak-anak mudanya, yang notabene cukup dekat dengan dunia medsos, mereka yang dari generasi lebih tua pun tampak bersemangat belajar.  Mereka begitu bersemangat belajar tentang personal branding, segmentasi pasar, pengembangan konten medsos, pembuatan blog dan konten yang menarik. Melihat antusiasme mereka, saya semakin yakin bahwa siapapun bisa belajar digital marketing. Kemauan untuk Belajar adalah kuncinya!

Saya berharap dengan terus berkembangnya YoExplore, saya dan rekan-rekan di YoExplore dapat terus memberikan pendampingan dan pelatihan gratis untuk komunitas lokal pengelola destinasi wisata di seluruh Indonesia. Dengan dukungan para traveler yang memesan aktivitas wisata melalui YoExplore serta mereka yang mengikuti program pelatihan atau Kursus Digital Marketing berbayar, saya berharap mimpi saya akan tercapai, untuk melihat komunitas lokal semakin mandiri dalam mempromosikan destinasi wisata yang mereka kelola.

Salam Pariwisata Indonesia!


Sumber: YoExplore Magazine

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu