Kampung Naga di Dasar Lembah, Ada Naganya?

Kampung Naga di Dasar Lembah, Ada Naganya?

Tugu Selamat Datang di Kampung Naga © rebanas.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Indonesia memiliki banyak keindahan alam tersembunyi. Tak hanya lautan, alam daratan Indonesia juga menyuguhkan kesejukan yang dapat menghapus hingar bingar kehidupan kota sejenak. Salah satu tempat yang sejuk dan patut dijejaki ini adalah Kampung Naga.

Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang terletak di Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Nama Kampung Naga ini berasal dari kata Nagawir, yang berarti kampung dikelilingi lembah. Memang benar, kampung ini berada di bagian tebing yang dalam Bahasa Sunda biasanya disebut gawir.

“Banyak orang sebut kampung nagawir (jurang), lalu banyak yang menyingkat jadi Kampung Naga,” kata Yudhi, penduduk setempat sekaligus pemandu wisata. Jadi, meskipun namanya Kampung Naga, di sini tidak ada naganya, ya!

Kampung Naga di dasar lembah | Foto: AK Photography
Kampung Naga di dasar lembah | Foto: AK Photography

Masyarakat di sini masih memegang kuat adat istiadat yang diwariskan para leluhurnya. Hal inilah yang membuat mereka hidup dalam tatanan yang diliputi suasana kesahajaan dan kearifan tradisional yang kental. Contohnya saja bangunan rumah yang ada di Kampung Naga. Bentuknya rumah panggung dengan bahan dari bambu atau kayu.

Atap dari bangunan rumah di Kampung Naga terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Sementara lantainya, terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah di sini tidak boleh dicat dan mempunyai dua pintu yang sejajar. Menurut masyarakatnya, hal itu membuat rezeki yang masuk ke dalam rumah melalui pintu depan akan keluar melalui pintu belakang.

Keunikan lain dari rumah di Kampung Naga ini adalah rumahnya hanya boleh menghadap ke utara atau selatan. Tujuannya agar setiap rumah bisa saling berhadapan sehingga saat keluar rumah, mereka akan bisa bertatapan dengan tetangganya.

Rumah-rumah di Kampung Naga | Foto: Pinterest
Rumah-rumah di Kampung Naga | Foto: Pinterest

Di Kampung Naga juga tak ada listrik dan tidak menggunakan gas LPG. Padahal ada banyak pihak termasuk pemerintah yang menawarkan fasilitas untuk membuat kampung mereka menjadi gemerlap.

“Sudah aturannya dari leluhur karena bahan rumah kami mudah terbakar jadi tak boleh ada itu,” jelas Yudhi.

Selain itu, Kampung Naga juga melarang adanya musik dari luar. Di sini juga ada tempat keramat yang tak boleh dimasuki atau dipotret, seperti rumah adat yang hanya boleh dimasuki oleh tetua, atau hutan keramat yang dipercaya makam leluhur dari Kampung Naga.

Ada pula hutan terlarang yang tak boleh dimasuki siapa pun. "Bukan karena mistis, tapi untuk lestari. Kalau hutannya dimasuki dan dibuka jadi habis nanti," kata Yudhi.

Bagi yang ingin menginap dapat membuat janji terlebih dahulu dengan pemandu setempat. Namun pelancong hanya diperbolehkan menginap maksimal satu hari di sini.

Suasana tempat tinggal di Kampung Naga | Foto: Travelingyuk
Suasana tempat tinggal di Kampung Naga | Foto: Travelingyuk

Berkunjung ke tempat wisata memang kurang lengkap kalau tidak mencoba kulinernya. Kampung Naga pun paham akan hal itu dan mereka juga menyajikan kuliner yang patut dicoba.

Salah satunya ada Pipis, kue yang mirip kue bugis yang diisi gula. Hanya saja bahan baku Pipis ini terbuat dari singkong. Makanan ini lebih nikmat jika ditemani dengan bajigur yang hangat dan manis, minuman khas Jawa Barat yang terbuat dari santan, kopi, gula aren, vanili, garam dan gula manis.

Kue Pipis | Foto: Edah jubaedah/Cookpad
Kue Pipis | Foto: Edah jubaedah/Cookpad

Selain kuliner, tak ada salahnya untuk membeli oleh-oleh kerajinan dari penduduk Kampung Naga. Sebab selain bertani dengan hasil panen dua sampai tiga kali dalam setahun, membuat kerajinan adalah pekerjaan utama penduduk Kampung Naga.


Sumber: Kompas, CNN Indonesia

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga53%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang27%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi13%
Pilih TerpukauTerpukau7%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Ikan Dabu-dabu, Si Penggoda Selera Warga Amsterdam Sebelummnya

Ikan Dabu-dabu, Si Penggoda Selera Warga Amsterdam

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo Selanjutnya

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo

Delina Rahayu Effendi
@delinaare

Delina Rahayu Effendi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.