Adalah Yummy Cookie (YUKI), inovasi makanan dari mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang yang berhasil lolos komptesi dunia. Mahasiswa-mahasiswa inovatif dibalik pembuatan YUKI ini adalah Ngesti Ekaning Asih, Af’idatul Lutfita Shofiatur Rizka, Susi Wardani, Nur Afida Nuzula, dan Lusia Kartika Ratri.

Kelima mahasiswa UB dibalik YUKI | Foto: tp.ub.ac.id
Kelima mahasiswa UB dibalik YUKI | Foto: tp.ub.ac.id

Olahan tempe berbentuk cookies ini berhasil menjadi finalis The International Union of Food Science and Technology (IUFoST) Product Development Competition 2018 dan mengalahkan 3.000 kontestan lain dari 70 negara di dunia. Ajang ini merupakan kompetisi ilmiah dua tahunan tingkat dunia di bidang pengembangan produk. Didirikan sejak 1962, IUFoST memiliki moto “Food Science Fighting Hunger”.

Pada 2018, tema yang diusung dalam IUFosT adalah 25 Billion Meals a Day by 2025 with Healthy, Nutritious Safe and Diverse Food. Bersama dengan China, Amerika Serikat, Brazil, India, Uganda, Kenya, United Kingdom, dan Perancis, YUKI dari Indonesia akan berkompetisi lagi merebut gelar juara pada 23-27 Oktober 2018 mendatang dan bertempat di CIDCO Exhibition Centre, Mumbai India.

Penasaran dengan YUKI?

Tampilan YUKI | Foto: tp.ub.ac.id
Tampilan YUKI | Foto: tp.ub.ac.id

YUKI adalah biskuit berbahan dasar tempe, bekatul, dan tepung ganyong (Canna edulis) yang kaya protein, kalori, serta serat. YUKI ini dibuat oleh kelima mahasiswa angkatan 2015 itu untuk mengatasi kelaparan dan malnutrisi.

Ketua tim, Ngesti Ekaning Asih, mengatakan pembuatan YUKI ini didasari oleh data dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang menunjukkan bahwa terdapat 124 juta manusia di dunia yang terancam kelaparan sepanjang 2017.

Tak hanya itu, FAO juga memperkirakan bahwa terdapat 19,4 juta penduduk Indonesia yang menderita kekurangan gizi sepanjang 2014-2016.

Baca juga: Garda Pangan: Kawal Makanan Sebelum Berakhir di Tempat Sampah

“Ini yang melatari kami selaku anak muda apalagi yang juga menekuni ilmu pangan di bangku kuliah untuk mencari inovasi atas permasalahan tersebut,” jelas Ngesti.

Sementara itu, karena Kota Malang sendiri cukup akrab dengan tempe, Ngesti dan kawannya jadi berpikir untuk mengolah tempe tersebut menjadi bahan pangan yang fungsional sekaligus sesuai dengan tren masa kini.

“Jika biasanya tempe hanya disajikan dalam bentuk gorengan, kali ini kami olah sebagai cookies dengan penambahan tepung ganyong dan bekatul untuk memperkaya nutrisinya,” lanjutnya.

Pemilihan kreasi olahan tempe menjadi biskuit, menurut Ngesti, dikarenakan bentuknya unik dan praktis. Selain itu, bentuk biskuit ini juga dapat memperpanjang umur simpan dan tampilan packaging yang lebih menarik.

Ngesti juga tak ragu membagikan proses pembuatan YUKI yang cukup sederhana ini.

“Setelah tempe, bekatul dan ganyong mengalami proses pengeringan dan penepungan. Selanjutnya tinggal ditambah telur maupun bahan lain untuk kemudian diolah seperti pembuatan cookies pada umumnya,” paparnya.

Biskuit YUKI ini juga diklaim aman bagi penderita autis karena tidak menggunakan terigu sama sekali sehingga bersifat nongluten. Jadi, lanjut Ngesti, inovasi YUKI ini selain mengoptimalkan komoditas lokal, juga bermanfaat bagi penderita autis dan malnutrisi serta dapat mengatasi wabah kelaparan dunia karena tingginya kandungan kalori.

Semoga YUKI tidak berhenti sampai finalis saja dan bisa membuktikan bahwa kreasi mahasiswa Indonesia ini dapat menjadi solusi masalah pangan dunia!


Sumber: tp.ub.ac.id

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu