Dunia otomotif dunia sedang berevolusi. Sejak Tesla memperkenalkan model-model barunya, gema mobil berbahan bakar listrik, dan kemampuan mobil untuk autopilot, mulai santer terdengar. Banyak pabrikan mobil dunia yang dulunya memandang sebelah mata kemunculan Tesla, kini mulai buru-buru mengembangkan teknologi yang mampu menyaingi Tesla, atau melebihnya. 

Jikalah Indonesia akan mengembangkan mobil listrik, rasanya ini momentum yang tepat. Tentu saja, bukan lagi mobnas berbahan bakar fosil yang non-renewable, tapi berbahan bakar ramah lingkungan, dan terbarukan. 

Apakah kita mampu mengembangkannya? Rasanya memang perlu kepercayaan diri yang tinggi. 

Indonesia sudah lama mampu memproduksi mobil di dalam negeri, mulai dari mendesain, memproduksi kompunen, dan merakitnya menjadi mobil siap jalan, sudah bisa dilakukan di Indonesia. Indonesia adalah produsen mobil terbesar ke-2 di Asia Tenggara setelah Thailand. Tahun lalu, produksi mobil Indonesian melampaui 1.1 juta unit. 

Mobil nasional, adalah sebuah kenangan lama.   Kita pernah punya Timor dan Bimantara yang diambil dari platform Kia Sephia dan Hyundai Accent.

Sebelum itu, ada mimpi yang belum sempat terwujud, yakni mobil nasional bernama 'Maleo'  yang waktu itu rencananya akan dikembangkan bersama dengan produsen mobil legendaris asal Inggris, Rover. Nama Maleo sendiri adalah nama burung dengan nama ilmiah Macrocephalon maleo yang menjadi satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia.

Mobnas ini mulai disebut-sebut akan dikembangkan pada 1993.

Burung Maleo, hewan endemik Sulawesi (via sospecies.org)
Burung Maleo, hewan endemik Sulawesi (via sospecies.org)

Rencananya, Rover akan mengirim mobil tersebut langsung dari pabriknya di Inggris dengan platform mobil sedan Rover, dan oleh Indonesia nantinya akan dirancang bangun dengan komponen-komponen dalam negeri yang dikembangkan oleh Pindad, IPTN, INTI, LEN, dan Krakatau Steel. Rencananya, mobil Maleo akan resmi mengaspal pada 1994, dan diproduksi massal di Indonesia pada  1997.

Karakteristik rancang mobil Maleo (via uniqpost.com)
Karakteristik rancang mobil Maleo (via uniqpost.com)

Sedan Maleo bermesin 1.200 CC dan direncanakan menggunakan komponen lokal 60 persen itu akan dibanderol seharga Rp 25 juta (harga waktu itu). BJ Habibie, yang waktu itu menjabat sebagai Menristek, menyatakan bahwa di masa depan , Maleo akan dikembangkan tidak lagi berbahan bakar bensin, tapi hidrogen.

Mobil Maleo Indonesia (via google.com)
Mobil Maleo Indonesia (via google.com)

Tahapan pengembangan mobil Maleo ini menarik perhatian karena hampir seluruh spesifikasi sudah bisa dijelaskan secara rinci. Maleo untuk tahap pertama akan  diproduksi 1.200 cc, dengan 80 PS dan tiga silinder. Mobil ini mempunyai kemampuan kecepatan sampai 140 km per jam. Mesinnya pun dibuat sedemikian canggih sehingga bisa irit bahan bakar dan tidak menimbulkan polusi.  Habibie juga menyampaikan bahwa Maleo akan menggunakan engine dari  Ford dan General Motor untuk menggarap engine yang bisa dikendalikan secara elektrik. 

Bentuk dasar mobil Maleo Indonesia (via google.com)
Bentuk dasar mobil Maleo Indonesia (via google.com)

Proyek mobnas Maleo mulai marak dibicarakan sejak 1994, ketika Komisi X DPR mengusulkan kepada Menristek Habibie agar membuat mobil sendiri dengan berpijak pada industri pesawat terbang yang telah berkembang pesat lebih dulu. Usulan DPR tersebut disampaikan Habibie kepada Presiden Soeharto. Menurut Habibie, Pak Harto tidak berkeberatan. Usulan terus bergulir. Menristek lalu mengadakan kajian iptek guna merealisasikan mobnas Maleo. Sayang, mobil tersebut tak pernah sampai mengaspal di jalanan Indonesia karena jatuhnya pemerintahan orde baru.

Dan berikut ada pratinjau video mobil Maleo.

via Kukuh Syafaat dari akun bonipudjianto di YouTube

Sumber:

Detik.com

Liputan6.com

klikauto.com 

editor yf/gnfi 15-04-2016

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu