Setelah berpuasa satu bulan lamanya

Berzakat fitrah menurut perintah agama

Kini kita beridul fitri berbahagia

Mari kita berlebaran bersuka gembira

Berjabatan tangan sambil bermaaf - maafan

Hilang dendam habis marah di hari lebaran

Berjabatan tangan sambil bermaaf - maafan

Hilang dendam habis marah di hari lebaran


Minal aidzin wal faidzin

Maafkan lahir dan batin

Selamat para pemimpin

Rakyatnya makmur terjamin

Lirik lagu di atas akan selalu kita dengarkan tiap tahun saat Lebaran, lagu tersebut sudah menjadi lagu wajib ketika kita memasuki hari-hari terakhir ramadan atau bulan syawalBiasanya lagu Hari Lebaran semakin sering diputar di televisi dan radio menjelang lebaran. Lagu tersebut sangat fenomenal, sehingga seolah-olah menjadi 'wajib' diputar. Namun tahukah Kawan GNFI, bahwa lagu tersebut adalah ciptaan oleh seseorang yang juga menciptakan lagu Indonesia Pusaka, Ismail Marzuki. Berikut beberapa fakta lainnya tentang lagu wajib saat lebaran ini.

Diciptakan oleh Ismail Marzuki

Lagu "Hari Lebaran" ini ternyata ciptaan dari Ismail Marzuki dan dibawakan oleh Didi [Suyoso Karsono] dan Kwartet Mascan. Lagu ini pertama kali direkam pada tahun 1954. 

Minal Aidin Wal Faidzin = Mohon Maaf Lahir & Batin?

Karena terlalu seringnya lagu ini diputar, banyak yang mengira arti dari Minal Aidin Wal Faidzin adalah Mohon Maaf Lahir & Batin. Akibatnya banyak masyarakat Indonesia (dan mungkin juga Malaysia) memberikan selamat lebaran atau bermaaf-maafan dengan kata tersebut. Walaupun begitu, “Minal Aidin” adalah juga bagian dari doa Hari Raya, yang intinya adalah mendoakan “Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang kembali (ke fitrah) dan mendapatkan Kemenangan (Takwa).

Lagu Yang Paling Banyak Direcycle

Lagu ini juga termasuk dari daftar lagu yang paling banyak didaurulang oleh banyak seniman Indonesia maupun Malaysia. Seniman terbesar negeri itu, P Ramlee menyanyikan lagu ini di tahun 1977, dengan menyesuaikan lirik berdasarkan Bahasa Melayu (“Maafkan Zahir dan Batin”, misalnya). Di Indonesia, lagu ini juga dinyanyikan oleh artis cilik Tasya Kamila pada tahun 90-an, selanjutnya juga dinyanyikan oleh Gita Gutawa pada tahun 2013.

Menjadi Lagu Sindirian untuk Masyarakat Indonesia

Denny Sakrie, dalam bukunya, mengutip buku Musik Indonesia dan Permasalahannya (JA Dungga dan L Manik, 1952) yang memetakan ada 4 lagu di era revolusi.

Salah satunya adalah lagu-lagu sindiran yang “…melukiskan keburukan-keburukan dalam masyarakat Indonesia di masa perjuangan”.

Ismail Marzuki memperlihatkan kelihaiannya menulis lirik yang tajam dan kritis, namun jenaka,  dalam memandang fenomena sosial. Berikut bagian kedua dan ketiganya: 

Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik terem listrik perei
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore
Akibatnya tengteng selop sepatu terompe
Kakinya pade lecet babak belur berabe

Maafkan lahir dan batin, ulang taon idup prihatin
Cari uang jangan bingungin, bulan Syawal kita ngawinin
Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan ini dipakai buat berjudi
Sehari semalam main ceki mabuk brandi
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate
Si penjudi mateng biru dirangsang si istri

Maafkan lahir dan batin, ‘lan  taon idup prihatin
Kondangan boleh kurangin, kurupsi jangan kerjain

Di bagian kedua terlihat bagaimana Ismail meledek fenomena orang kampung merayakannya, naik trem, jalan-jalan hingga “kaki pincang”…” lecet babak belur berabe”. Sedangkan bagian ketiga sangat aktual hingga saat ini. Dengan berani, Ismail membeberkan kelakuan orang kota yang “berjudi”, “main ceki mabuk Brandi”, “kalah main pukul istri”.

Dan lagu ini ditutup dengan pernyataan yang sangat kuat: “kondangan boleh kurangin, korupsi jangan kerjain”. Hampir semua musisi yang menyanyikan ulang lagu ini enggan untuk menaruh bagian terakhir dari lirik lagu.

Padahal, di situlah nilai lebih lagu ini.

Lagu Sindiran untuk Pemerintah

Tidak hanya menggambarkan kenyataan dengan gamblang, lagu ini juga menyindir pemerintah pada masa itu. Ismail menulis lirik “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin” sebagai bentuk sindiran karena kondisi rakyat pada masa itu yang belum sejahtera. Pada masa itu, mencari pekerjaan bukan hal yang mudah. Untuk negara yang baru seumur jagung, masih banyak hal yang perlu dikerjakan untuk membangun ekonomi negara.

Sumber : Tirto, BangkaPost, Youtube, potret lawas.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu