Air Terjun Susun Tujuh "Sadundu Pidu", Surga Tersembunyi di NTB

Air Terjun Susun Tujuh "Sadundu Pidu", Surga Tersembunyi di NTB

Kolam teratas di air terjun susun tujuh, Sadundu Pidu di Bima © Komunitas Sabua Ra'a

Potensi wisata di pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) memang tak bakal habis-habisnya kalau digali, terutama yang berada di wilayah Kabupaten Dompu dan Bima.

Selain Gunung Tambora yang sudah tersohor, dan tantangan surfing di Pantai Lakey yang sudah mendunia, masih ada banyak destinasi wisata yang sangat jika dilewatkan di daerah ini.

Salah satunya adalah air terjun bersusun tujuh, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sadundu Pidu.

Ya, seperti namanya, air terjun unik nan eksotis yang secara alami tersusun berundak-undak tujuh tingkat ini, bisa dibilang surga tersembunyi yang ada di perbatasan Dompu dan Bima.

"Air terjun Sadundu Pidu ini merupakan satu dari puluhan air terjun luar biasa yang ada di Bima dan Dompu. Tapi Sadundu Pidu paling eksotis, ada tujuh tingkat yang tersusun rapi secara alami, ini bagaikan surga tersembunyi yang belum banyak diketahui masyarakat luas," kata Ketua Komunitas Sabua Ra'a Ndai Mbojo, Rahmat Setiawan.

Air terjun susun tujuh Sadundu Pidu di Bima. (Foto: Komunitas Sabua Ra'a)
Air terjun susun tujuh Sadundu Pidu di Bima. (Foto: Komunitas Sabua Ra'a)

Sadundu Pidu memang mempesona. Di tiap tingkatan air terjun terdapat bentukan kolam alami dengan kedalaman bervariasi. Tiap kolam mempunyai ukuran dan kedalaman yang berbeda-beda.

Kolam terbesar dan terluas ada di tingkat paling bawah, sedangkan kolam untuk anak - anak ada di tingkat paling atas.

Lokasinya yang dikelilingi oleh tebing-tebing yang besar dan indah, deretan pepohonan nan hijau dan dan susunan air terjun yang terlihat jelas dilihat dari bawah maupun dari atas membuat Sadundu Pidu juga sangat layak untuk spot foto bagi para penggemar fotografi.

Rahmat menjelaskan, Sadundu Pidu sebagian masuk ke wilayah Kabupaten Bima dan sebagian lagi masuk wilayah Kabupaten Dompu. Letaknya di Desa Rora, Kecamatan Donggo, atau satu jam perjalanan dari Kota Bima.

"Pengunjung bisa memarkir kendaraannya di Desa Rora, kemudian berjalan kaki sekitar 15 menit menuju lokasi Sadundu Pidu," kata Rahmat.

Meski penjalanan sedikit menanjak, tak perlu khawatir. Sebab deretan pohon Jati yang menjulang tinggi di sepanjang perjalanan menuju lokasi air terjun menjadi pemandangan yang menarik, sekaligus memberi kesejukan di sekitar lokasi air terjun.

Kelebihan lain dari air terjun Saduudu Pidu, debit airnya tetap terjaga dan tak pernah kering sepanjang tahun. Hanya sedikit berkurang ketika kemarau tiba, namun tak mengurani pesona keindahannya.

"Daya tarik Air terjun Sadundu Pidu ini membuat komunitas Sabua Ra'a berinisiatif untuk melakukan serangkaian acara guna memperkenalkan dan mempromosikannya. Kami menandai juga di Google Map untuk mempermudah pengunjung dari manapun yang hendak datang berkunjung. Selain itu kami juga bikin kegiatan dan memposting pesona Sadundu Pidu ini di berbagai media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Youtube," kata Rahmat.

Sekilas Tentang Sabua Ra,a Ndai Mbojo

Sabua Ra'a Ndai Mbojo merupakan komunitas peduli wisata di Bima. Berawal dari kesamaan hobby menjelajah alam, sejumlah anak muda di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) membentuk komunitas medsos peduli wisata "Sabua Ra'a Ndai Mbojo", pada Oktober 2017.

Reuni akbar perdana komunitas Sabua Ra'a di Pantai Lawata, Kota Bima, NTB.(Foto: Komunitas Sabua Ra'a)
Reuni akbar perdana komunitas Sabua Ra'a di Pantai Lawata, Kota Bima, NTB.(Foto: Komunitas Sabua Ra'a)

Selain aktif mengeksplorasi destinasi wisata yang sudah cukup dikenal, komunitas ini juga mengeksplor destinasi-destinasi wisata lain yang selama ini seolah masih tertidur.

"Kami bentuk komunitasnya awal Januari 2018. Ini komunitas medsos, ada FB Instagram dan Twitter. Sekarang jumlah anggota dan follower aktifnya sudah 50 ribu lebih," kata salah seorang penggagas komunitas, Imam Budiman.

Sabua Ra'a Ndai Mbojo yang berarti "Satu Darah Orang Mbojo" diambil dari bahasa Mbojo, suku asli di Dompu dan Bima. Semangatnya untuk menyatukan sesama saudara, baik yang berada di kampung halaman, maupun yang sudah jauh di perantauan.

Awalnya, anggota komunitas adalah pemuda yang tinggal di Dompu dan Bima saja. Namun seiring waktu, komunitas medsos ini menarik perhatian banyak pihak, bahkan dari generasi muda Dompu dan Bima yang tengah merantau di luar daerah dan juga luar negeri.

Imam memaparkan, sejak terbentuk komunitas medsos Sabua Ra'a Ndai Mbojo sudah melakukan banyak kegiatan. Misalnya saja menjelajah alam, berpacu dengan terabas, sambil menyusuri destinasi-destinasi wisata yang potensial namun belum tergali.

"Kami ada club terabas, Elang Trail Club. Nah, setiap kali jalan, kami mencari destinasi yang masih sembunyi. Kami temukan belasan air terjun yang sangat indah," kata Imam.

Selain terabas, komunitas juga punya tim pendaki yang sangat biasa menaklukan medan berat di Gunung Tambora, sebuah gunung tersohor yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.

Destinasi-destinasi baru yang mereka temukan, kemudian diposting di media sosial. Anggota yang tertarik bisa menyumbang ide, tenaga, dan juga dana untuk mempercantik dan mempromosikan destinasi itu.

Di beberapa destinasi yang baru, komunitas ini juga membina pemuda setempat untuk membentuk kelompok sadar wisata. Agar para generasi muda di sekitar destinasi ikut merasa memiliki destinasi dan menjaga kebersihan serta keamanan dan kenyamanan di sana.

Selain destinasi wisata, komunitas juga mendorong regenerasi pelaku budaya Gantao di beberapa desa. Gantao merupakan seni atraksi ketangkasan olah kanuragan seperti pencak silat namun diiringi bebunyian musik tradisional.

"Beberapa budaya kami tumbuhkan kembali dan regenerasi, seperti Gantao yang saat ini pemainnya sudah tua. Ini perlu dilakukan agar seni budaya asli Mbojo tidak lekang tergerus waktu," tukasnya.

Ketua Komunitas Sabua Ra'a, Rahmat Setiawan mengatakan, wisatawan yang ingin berwisata di Kabupaten Bima dan Dompu, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kini semakin mudah memilih lokasi tujuan dan jalur mengaksesnya.

Sebab, saat ini lebih dari 150 destinasi wisata di daerah itu sudah ditandai di Google Maps oleh jajaran Komunitas Sabua Ra'a.

"Hingga saat ini, sedikitnya sudah ada 153 lokasi destinasi wisata yang ada di wilayah Bima dan Dompu yang sudah ditandai di Google Maps. Hal ini akan mempermudah para wisatawan yang ingin berkunjung ke Bima dan Dompu," kata Ketua Umum Komunitas Sabua Ra'a, Rahmat Setiawan, Senin (18/6) di sela kegiatan reuni akbar Sabua Ra'a di pantai Lawata, Kota Bima.

Lokasi yang ditandai di Google Maps antara lain kawasan pantai, wisata alam, dan juga sejumlah air terjun. Menariknya selain destinasi yang sudah terkenal di Bima dan Dompu, sebagai dari destinasi-destinasi yang ditandai komunitas ini merupakan destinasi wisata baru yang masih alami dan membutuhkan sentuhan untuk dikembangkan.

Komunitas Sabua Ra'a merupakan komunitas media sosial peduli pariwisata daerah, khususnya di wilayah Bima dan Dompu. Komunitas yang dibentuk sejak Oktober 2017 lalu, kini sudah berhasil menarik lebih dari 50 ribu anggota.

Rahmat mengatakan, ribuan anggota komunitas Sabua Ra'a tersebar di berbagai Provinsi di Indonesia dan juga ada yang berada di beberapa negara lain seperti Singapore, Malaysia, Korea, Jepang, Brunei, Dubai, Arab Saudi, Taiwan, Cina, Amerika Serikat, Mesir, Oman, Australia, Timur Leste, Philipina, India, Pakistan, Italia, Brazil dan lain-lain.

"Anggota komunitas umumnya adalah generasi muda Mbojo. Ada yang domisili di Bima, Dompu atau daerah lain di NTB. Ada juga yang tengah merantau baik menempuh pendidikan, maupun bekerja di Provinsi lain, bahkan di luar negeri. Jumlah kami lebih dari 50 ribu orang," katanya.

Menurut Rahmat, komunitas ini dibentuk sebagai wadah silaturahim dan forum diskusi antar generasi muda Mbojo demi membangun daerah yang lebih baik ke depan.

Khusus untuk promosi destinasi wisata Bima dan Dompu, papar dia, anggota komunitas yang berada di luar daerah dan luar negeri dengan senang hati menjadi duta promosi dan duta wisata.

"Selama terbentuknya komunitas ini sudah melakukan berbagai kegiatan seperti membentuk kelompok sadar wisata, mempromosikan tempat wisata baik wisata alam seperti air terjun maupun wisata pantai. Kami juga melakukan penandaan lokasi wisaya di Google Maps," jelasnya.

Komunitas Sabua Ra'a juga aktif melaksanakan kegiatan sosial lainnya seperti membantu beberapa rumah baca, membantu beberapa orang dalam biaya pengobatan dan biaya operasi yang sakit.

"Sumber dana dari berbagai kegiatan yang kami lakukan ini bersumber dari bantuan dari anggota dan yang paling banyak membantu saudara saudari kita yang berada di luar negeri. Kami sangat berterima kasih kepada mereka karena antusias dan keikhlasan mereka dalam berbagai hal dan kami juga sangat berharap kepada mereka agar bisa menjadi duta wisata di luar negeri," katanya.

Rahmat menambahkan, saat ini komunitas Sabua Ra'a juga sedang mempersiapkan kegiatan penyambutan terkait rencana kunjungan wisatawan yang tergabung dalam club mobil Eropa dan club Harley Davidson.

"Jumlahnya ada ratusan yang ingin melakukan perjalanan keliling di beberapa tempat wisata yang ada di Bima-Dompu akhir tahun ini. Kami tentu mempersiapkan segala sesuatunya agar kegiatan berjalan aman dan lancar, dan bisa mempromosikan potensi daerah ini," katanya.

Mengikis Stigma Bima Tak Aman

Imam Budiman menjelaskan, selain mempromosikan potensi wisata di Bima, komunitas juga melakukan gerakan bersama membangun kesadaran masyarakat untuk menciptakan situasi aman dan nyaman di Dompu dan Bima.

Sebab, tanpa keamanan dan kenyamanan, sebuah destinasi yang sangat indah sekali pun pasti sulit menarik minat wisatawan.

"Caranya ya kami ajak masyarakat di sekitar destinasi agar menjaga keamanan dan kenyamanan jika ada wisatawan yang datang. Ini kami lakukan untuk mengikis stigma yang selama ini menjadi opini bahwa Bima tidak aman," kata Imam.

Menurut Imam, aktivitas komunitas mengeksplor sejumlah destinasi wisata yang masih "terpendam", itu akhirnya menarik minat banyak pihak. Salah satunya sebuah club mobil eropa yang berencana melakukan konvoi ke sejumlah destinasi wisata di Bima akhir tahun ini.

Sejauh ini, kegiatan yang dilakukan komunitas Sabua Ra'a Ndai Mbojo masih dilakukan dengan swadaya. Belum ada campur tangan pemerintah daerah setempat maupun Pemda Provinsi NTB.

"Ya tentu kami berharap ada dukungan pemerintah. Tapi kami juga maklum, mungkin masih banyak yang harus dikerjakan pemerintah sehingga upaya-upaya kecil kami belum bisa diperhatikan," kata Imam.


Sumber: KATAKNEWS.com

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli17%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau17%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jauh Berbeda! Inilah Nama Kecil Soekarno Sebelummnya

Jauh Berbeda! Inilah Nama Kecil Soekarno

Satu-Satunya dari ASEAN, Grab Masuk Top 10 Startup Dunia Selanjutnya

Satu-Satunya dari ASEAN, Grab Masuk Top 10 Startup Dunia

0 Komentar

Beri Komentar