Uniknya Tradisi Mudik Masyarakat Nelayan Pesisir Jembrana

Uniknya Tradisi Mudik Masyarakat Nelayan Pesisir Jembrana

https://unsplash.com/photos/tn6ED3kTIJg © Paul Morris

Ada yang menarik dari tradisi mudik masyarakat pesisir Kabupaten Jembrana Bali. Bagi masyarakat setempat, khususnya di Desa Pengambengan, mudik justru dilakukan tepat di Hari Raya Idul Fitri.

Kebiasaan mudik masyarakat tersebut dilakukan setelah berakhirnya salat Id dan usainya ritual kunjungan ke tetangga. Seperti yang tertulis di CNN Indonesia, bahwa warga Desa Pengambengan kebanyakan merupakan masyarakat rantau yang berasal dari berbagai daerah. Rata-rata dari mereka pun bekerja sebagai nelayan.

Ilustari Masyarakat Pesisir Nelayan Desa Pengambengan Bali
Ilustari Masyarakat Pesisir Nelayan Desa Pengambengan Bali

Tradisi mudik lebaran yang dilakukan tepat di tanggal 1 Syawal tersebut rupanya telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi sesuatu yang mendarah daging. Dipilihnya keberangkatan mudik seusai salat Id merupakan upaya untuk tetap menjaga hubungan persaudaraan dengan warga asli desa tersebut.

Disebutkan pula bahwa perantau yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur tersebut memilih untuk bersilaturahim lebih dulu dengan tetangga tempat tinggalnya di Desa Pengambengan baru kemudian berangkat mudik ke kampung halaman.

Karena adanya kebiasaan mudik yang bertepatan di Hari Raya Idul Fitri, bisa dipastikan tepat di hari pertama seusai salat Id dan kunjungan tetangga, kampung-kampung di daerah tersebut menjadi sepi.

Ilustrasi Mudik Masyarakat Desa Pengambengan di Hari Pertama Lebaran
Ilustrasi Mudik Masyarakat Desa Pengambengan di Hari Pertama Lebaran

Namun uniknya dengan tradisi tersebut, masyarakat perantau di Desa Pengambengan juga mendapat balasan penghargaan dari warga lokal atau masyarakat asli Desa Pengambengan dengan mendatangi mereka di Banyuwangi. Bahkan biasanya warga lokal akan berangkat secara rombongan dan melakukan kegiatan rekreasi.

Diketahui secara lebih dalam bahwa masyarakat Desa Pengambengan merupakan masyarakat yang didominasi etnis Melayu sehingga terjadi perpaduan kultur yang kental di sana. Bahkan akulturasi yang ada tidak hanya terlihat dari sisi bahasa dan budaya, melainkan juga dari sisi perkawinan. Maka tak heran jika masyarakat setempat berupaya untuk terus menghormati satu sama lain dengan latar belakang daerah penduduknya yang berbeda-beda.

Oleh sebab itu melalui adanya tradisi di momen lebaran tersebut, bisa dipastikan masyarakat Desa Pengambengan Jembrana Bali memiliki keterikatan yang erat antar individu.

Menarik sekali ya! Kalau di daerahmu bagaimana?


Sumber: CNN Indonesia

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi17%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pecahkan Rekor, Alumni Sekolah di Palembang Buat Pempek Terbesar di Dunia Sebelummnya

Pecahkan Rekor, Alumni Sekolah di Palembang Buat Pempek Terbesar di Dunia

Tetra Pak Dukung Terus Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan Selanjutnya

Tetra Pak Dukung Terus Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan

Aninditya Ardhana Riswari
@anindityaar_1997

Aninditya Ardhana Riswari

anindityaardhana.wordpress.com

Perempuan dua puluh satu tahun. Bahagia saya sederhana, nonton film dan karaokean seorang diri cukup membuat saya sumringah. Menulis, membaca, dan menyanyi adalah tiga aktivitas yang saya lalui untuk mengisi waktu luang. Pecinta greentea dan penggemar berat band kawakan Indonesia, Kahitna.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.